REKENING DONASI MOSSDEF SYSTEM : BANK MU'AMALAT CABANG YOGYAKARTA NOMOR 0117546129 A/N NUGROHO AGUNG WIBOWO atau BANK BRI SYARIAH KCP JOGJA A DAHLAN A/N NUGROHO AGUNG WIBOWO NOREK. 1002252771.
  • Mossdef System adalah kependekan dari Moslem Self-Defence System atau juga bisa disebut dengan Moslem Street Fighting merupakan sebuah komunitas sistem pertahanan diri, pengembangan diri, pembinaan leadership dan pembinaan organisasi. [...]

  • Sebuah sistem pertahanan diri yang mudah di duplikasi, praktis, cepat, efektif dan fleksibel yang merupakan kombinasi dari teknik-teknik beladiri lainnya seperti Krav Maga, Haganah System, Systema SpatNaz, Soko Combat System, Tapak Suci, Jujutsu, Wing Chun, Sambo, Ninjitsu, Aikido, Tinju, Karate, Judo, kempo dan Thai boxing. Tetapi yang diutamakan dalam Mossdef System adalah kesederhanaan dalam menyerang namun membentuk sebuah pertarungan yang sangat efektif. [...]

  • Mossdef System merupakan sebuah sistem pertahanan diri yang diajarkan untuk kaum muslimin baik pria maupun wanita untuk menghadapi berbagai bentuk konfrontasi, aksi premanisme dan aksi tindak kejahatan di sekitar kita. [...]

  • Mossdef System memusatkan pada pelatihan-pelatihan teknik yang berlaku di kehidupan nyata, yaitu kehidupan yang penuh dengan konfrontasi, kekerasan premanisme dan tindak kejahatan, maka dari itu di dalam Mossdef System tidak ada komite dan aturan dalam menerapkan teknik-teknik Mossdef System di lapangan. [...]

Tampilkan postingan dengan label Pengembangan Diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengembangan Diri. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Desember 2011

Posted by Nugroho Agung Wibowo On 10.37 0 komentar

Kepribadian Guru


Faktor terpenting bagi seorang guru adalah kepribadiannya. Kepribadian itulah yang akan menentukan apakah ia menjadi pendidik dan pembina yang baik bagi anak didiknya, ataukah akan menjadi perusak atau penghancur bagi hari depan anak didik, terutama bagi anak didik yang masih kecil (tingkat sekolah dasar) dan mereka yang sedang mengalami kegoncangan jiwa (tingkat menengah).

Apa yang dimaksud dengan kepribadian? Dalam uraian ini kita tidak akan membicarakan arti atau batasan kepribadian secara teori, akan tetapi akan mencoba memahami berbagai unsur kepribadian yang dapat dilihat atau difahami dengan mudah. Orang awam dengan mudah mengatakan bahwa seorang itu punya kepribadian yang baik, kuat dan menyenangkan. Sedangkan ada pula orang lain dikatakan mempunyai kepribadian lemah tidak baik atau buruk dan sebagainya.

Kepribadian yang sesungguhnya adalah abstrak (maknawi), sukar dilihatatau diketahui secara nyata, yang dapat diketahui adalah penampilan atau bekasnya dalam segala segi dan aspek kehidupan. Misalnya dalam tindakannya, ucapan, caranya bergaul, berpakaian dan dalam menghadapi setiap persoalan atau masalah, baik yang ringan maupun yang berat.

Barangkali dalam hal ini, lebih baik kita memandang kepribadian tersebut dari segi terpadu (integrated) atau tidaknya. Kepribadian terpadu, dapat menghadapi segala persoalan dengan wajar dan sehat, karena segala unsur dalam kepribadiannya bekerja seimbang dan serasi. Pikirannya mampu bekerja dengan tenang, setiap masalah dapat dipahaminya secara obyektif, sebagaimana adanya. Maka sebagai guru ia dapat memahami kelakuan anak didik sesuai dengan perkembangan jiwa yang sedang dilaluinya. Pertanyaan anak didik dapat dipahami secara obyektif, artinya tidak ada kaitannya dengan persangkaan atau emosi yang tidak menyenangkan. Tidak jarang guru yang merasa rendah diri, menanggapi pertanyaan anak didik sebagai kritikan atau ancaman terhadap harga dirinya, maka jawabannya bercampur emosi, misalnya dengan marah atau ancaman.

Perasaan dan emosi guru yang mempunyai kepribadian terpadu tampak stabil, optimis dan menyenangkan. Dia dapat memikat hati anak didiknya, karena setiap anak merasa diterima dan disayangi oleh guru, betapapun sikap dan tingkah lakunya.

Guru yang goncang atau tidak stabil emosinya, misalnya mudah cemas, penakut, pemarah, penyedih dan pemurung. Anak didik akan terombang-ambing dibawa oleh arus emosi guru yang goncang tersebut karena anak didik yang masih dalam pertumbuhan jiwa itu juga dalam keadaan tidak stabil, karena masih dalam pertumbuhan dan perubahan. Biasanya guru yang tidak stabil emosinya tersebut, tidak menyenangkan bagi anak didik, karena mereka seringkali merasa tidak dimengerti oleh guru. Kegoncangan perasaan anak didik itu akan menyebabkan kurangnya kemampuannya untuk menerima dan memahami pelajaran, sebab konsentrasi pikirannya diganggu oleh perasaannya yang goncang karena melihat atau menghadapi guru yang goncang tadi.

Guru yang pemarah atau keras, akan menyebabkan anak didik takut. Ketakutan itu dapat bertumbuh atau berkembang menjadi benci. Karena takut itu menimbulkan derita atau ketegangan dalam hati anak, jika ia sering menderita oleh seorang guru, maka guru tersebut akan dijatuhinya agar dapat menghindari derita yang mungkin terjadi. Akan tetapi sebagai anak didik yang harus patuh dan tunduk kepada peraturan sekolah pendidikan, ia terpaksa tetap berada dalam kelas, ketika guru tersebut ada, maka lambat laun guru itu akan berhubungan secara negatif dalam hati anak didik itu, artinya ia akan membencinya. Apabila anak didik benci kepada guru, maka ia tidak akan berhasil mendapat bimbingan dan pendidikan dari guru tersebut, selanjutnya ia akan menjadi bodoh walaupun kecerdasannya tinggi.

Demikianlah pula dengan berbagai emosi lainnya yang tidak stabil, akan membawa kepada kegoncangan emosi pula pada anak didik bahkan mungkin akan membawa kepada kegoncangan kejiwaan. Tingkah laku atau moral guru pada umumnya, merupakan penampilan lain dari kepribadiannya. Bagi anak didik yang masih kecil, guru adalah contoh teladan yang sangat penting dalam pertumbuhannya, guru adalah orang pertama sesudah orang tua, yang mempengaruhi pembinaan kepribadian anak didik. Kalaulah tingkah laku atau akhlak guru tidak baik, pada umumnya akhlak anak didik akan rusak olehnya, karena adak mudah terpengaruhi oleh orang yang dikaguminya. Atau dapat juga menyebabkan anak didik gelisah, cemas atau terganggu jiwa karena ia menemukan contoh yang berbeda atau berlawanan dengan contoh yang selama ini didapatnya di rumah dari orang tuannya.

Sikap guru dalam menghadapi segala persoalan, baik menghadapi anak didik, teman-temannya sesama guru dan terhadap pendidikan itu sendiri akan dilihat, diamati dan dinilai pula oleh anak didik. Sikap pilih kasih dalam memperlakukan anak didik, adalah yang paling cepat dirasakan oleh anak didik, karena semua anak mengharapkan perhatian dan kasih sayang gurunya. Kelakuan anak didik tidak boleh dijadikan alasan untuk membedakan perhatian, karena anak yang nakal misalnya, seringkali dimarahi dan dibenci oleh guru, karena ia sering mengganggu suasana belajar. Akan tetapi guru yang bijaksana tidak akan dibenci kepada anak yang nakal, dia akan lebih memperhatikannya dan berusaha mengetahui latar belakang anak tersebut.

Selanjutnya berusaha memperbaikinya secara individual mungkin dengan mengajaknya bicara di luar jam belajar bahkan menghubungi orang tuanya dan sebagainya. Boleh jadi kenakalan itu terjadi karena si anak merasa tidak disayangi oleh orang tuannya, atau karena suasana keluarganya goncang dan menegangkan, sehingga ia bingung dan tertekan perasaan maka gurulah orang terdekat tempat memantulkan perasaannya yang goncang itu.

Sikap guru terhadap agama juga merupakan salah satu penampilan kepribadian. Guru yang acuh tak acuh kepada agama akan menunjukkan sikap yang dapat menyebabkan anak didik terbawa pula kepada arus tersebut, bahkan kadang-kaadang menyebabkan terganggunya jiwa anak didik. Sebuah contoh yang pernah terjadi di sebuah Sekolah SMP di suatu kota sebagai berikut : Seorang anak didik kelas dua dibawa ke klinik jiwa, karena mengalami gangguan kejiwaan, cemas takut dan tidak dapat belajar. Setelah oleh dokter jiwa diteliti dan dikumpulkan informasi tentang berbagai peristiwa dan pengalaman yang terjadi pada anak tersebut, ternyata bahwa penyakit tersebut dideritanya sejak guru olah raga memarahinya di depan kelas dengan meremehkan ketentuan agama yaitu ketika guru tersebut akan membawa anak didiknya pergi berenang. Anak tadi bertanya : Bagaimana mungkin anak perempuan bersama anak laki-laki, dalam pakaian renang? Guru olah raga yang tidak bijaksana tersebut menjawab sambil mengejek : Apakah kamu akan berenang pakai jilbab. Anak-anak tertawa, akan tetapi anak yang bertanya tadi diam dan merasa sangat malu serta bingung, apa yang harus diperbuatnya. Selama ini ia tahu bahwa wanita itu harus menutupi tubuhnya karena ada ketentuan agama yang harus dipatuhi. Akan tetapi gurunya mengejeknya ketika ia bertanya untuk mendapatkan penjelasan, agar ia dapat ke luar dari kesukarannya itu. Ia tidak dapat meyelesaikan persoalan itu, akhirnya ia jatuh kepada gangguan kejiwaan. Bagi anak-anak lain yang tidak mengalami gangguan kejiwaan namun jawaban guru tersebut juga merupakan semacam bahaya, yaitu timbulnya kecondongan untuk meremehkan ketentuan agama.

Cara guru berpakaian, berbicara, berjalan dan bergaul juga merupakan penampilan kepribadian lain, yang juga mempunyai pengaruh terhadap anak didik. Termasuk pula dalam masalah kepribadian guru itu, sikap dan pandangan guru terhadap fungsinya bagi anak didiknya. Apakah ia sebagai pemimpin, yang menyuruh, memerintah dan mengendalikan? Sedangkan anak didik adalah yang dipimpin harus patuh menurut dan menerima. Ataukah ia sebagai pembimbing yang mengerti dan menyiapkan suasana bagi anak didik, ia hidup dan ikut aktif dalam kegiatannya.

Macam yang pertama, yang menempatkan dirinya sebagai pemimpin yang memerintah dan menyuruh akan bersikap besar, sungguh-sungguh dan menampakkan diri dalam bentuk yang ideal. Hubungan antara guru dan anak didik dalam hal ini, adalah seperti hubungan atasan dan bawahan. Jika anak didik patuh, maka kepatuhan itu tidak akan berlangsung lama, dan tidak menguntungkan dalam pendidikan, karena anak didik dalam mematuhi itu mengalami ketegangan atau merasa terpaksa. Anak didik tidak akan merasa aman terhadap guru yang seperti itu, mungkin mereka akan menjauh atau menjadi putus asa, karena tidak mampu mengikuti guru tersebut.

Lain halnya dengan guru macam kedua, yang merasa bahwa dirinya adalah pembimbing bagi anak didiknya, ia menyiapkan suasana yang membantu mereka, ia ikut aktif dalam kegiatan mereka, ia menampakkan diri sebagaimana adanya, tidak berpura-pura hebat atau seram, hubungannya dengan anak didik sederhana dan wajar, atau dapat dikatakan seperti hubungan kakak dan adik. Biasanya guru yang seperti itu menarik dan menyenangkan bagi anak didik, ia akan dihormati, disayangi dan dipatuhi dengan gembira oleh anak didik. Pribadinya akan di contoh dan pelajarannya akan diperhatikan serta diminati oleh anak didik.

Mengingat tugas guru adalah mendidik dan bukan hanya mengajar suatu bidang tertentu, maka seorang calon guru harus dibekali dengan ketaqwaan terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala, kepribadian yang luhur serta kuat, dan pengetahuan teori dan praktek kependidikan dan keguruan yang menjadi spesialisasinya. Khusus untuk guru agama, disamping kualitas di atas, perlu pula disyaratkan bahwa dia harus meyakini dan mengamalkan agama yang diajarkannya.

Wallahu a'lam bish-shawwab.


Sumber : Buku "Kepribadian Guru" halaman 16-21, oleh Dr. Zakiah Daradjat, cetakan 1980, penerbit Bulan Bintang - Jakarta.

Minggu, 06 Februari 2011

Posted by Nugroho Agung Wibowo On 05.58 0 komentar

Terampil Berkomunikasi


Orang bijak berkata, "Dengan berbicara maka orang lain akan tahu siapa Anda." Untuk itu pandai-pandailah dalam berbicara. Kepandaian atau seni berbicara merupakan kebutuhan setiap manusia. Orang yang pandai berbicara atau tahu seninya berbicara akan merasakan lidah lebih cepat menyuarakan bisikan hati.

Orang yang pandai atau tahu seninya berbicara bukan berarti orang yang banyak berbicara, melainkan orang yang tahu kapan ia harus berbicara dan kapan tidak harus bicara sesuai kondisi dan kepentingannya.

Cara atau gaya Anda dalam berbicara dapat mempengaruhi penilaian orang lain terhadap diri Anda. Contoh kasus, orang lain akan merasa bosan jika Anda terlalu bertele-tele dan tidak fokus dalam pembicaraan. Karenanya dalam suatu pembicaraan, sesuatu yang disampaikan secara singkat dan tepat akan mendapatkan kehormatan. Pembicaraan yang baik adalah pembicaraan yang singkat dan mengena. Karena hal-hal yang baik jika disampaikan secara singkat akan semakin baik, dan hal-hal yang buruk jika disampaikan secara singkat akan menjadi tidak begitu buruk.

Hal penting lain yang perlu diperhatikan dalam berbicara adalah bahan pembicaraan. Sesuatu yang baru dan segar adalah sumber pembicaraan yang menarik. Namun, jangan atau hindarkan untuk membicarakan perihal diri sendiri. Karena hal ini bisa menimbulkan kesombongan diri dan tentu menjadi gangguan bagi orang lain yang mendengarkan.

Merupakan kemenangan besar apabila dalam berbicara dapat menarik hati dan menumbuhkan kepercayaan diri orang lain. Jangan sebaliknya, berbicara tentang hal-hal yang berisi keluhan atau keputusasaan yang dapat berakibat menurunkan harga diri.

Dalam berbicara kearifan lebih diutamakan daripada kecepatan atau banyak berbicara. Anda perlu beradaptasi diri dengan berbagai macam watak atau karakter dan kecerdasan pihak lain.

Berbicaralah seakan-akan Anda menulis surat wasiat. Semakin sedikit kata-kata, semakin kecil perkara hukumnya. Karena banyak waktu untuk mengeluarkan kata-kata, tetapi tidak pernah ada waktu untuk menariknya kembali. Lidah lebih tajam dari pisau, maka pergunakan kesempatan Anda dalam berbicara secara efisien, fokus dan pada tempatnya yang tepat.


Sumber : Buku 7 Langkah Menuju Sukses halaman 54-57.

Posted by Nugroho Agung Wibowo On 05.56 0 komentar

Terampil Dalam Bersikap


Ada kalanya Anda merasa tidak tahu atau salah dalam bersikap ketika berbicara atau berhadapan dengan orang lain.

Cara bersikap yang salah menyebabkan ketidaknyamanan segala sesuatu, dan sebaliknya cara bersikap yang benar akan memperbaiki segala sesuatu. Untuk itu, dalam bersikap Anda dituntut memperhatikan realitas dan tata cara yang tepat dan pantas, yaitu lingkungan (dimana, dengan siapa, untuk kepentingan apa) dan kepantasan (baik tidaknya atau benar tidaknya dalam bersikap).

Memiliki berbagai gaya dan taktik merupakan rahasia penting agar Anda dapat bersikap cerdas dan tetap berada dalam posisi yang aman dan menguntungkan. Kewaspadaan diri, kepekaan dalam menilai maksud-maksud tertentu orang lain, kecerdikan dan ketepatan bersikap adalah beberapa unsur penting yang harus dimiliki. Dalam hal ini melibatkan proses berpikir, mengatur emosi, dan cara-cara bertindak. Beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam mengambil sikap disaat menghadapi situasi tertentu adalah :

1. Bagaimana agar orang lain tetap menghargai Anda.
Rahasianya adalah jangan membuat orang lain merasa bosan dengan diri Anda. Untuk itu Anda harus tetap menjaga nilai diri Anda, jangan terlalu jelas dan lugu. Sekalipun Anda harus memberi keterbukaan hindarilah ketelanjangan sehingga orang lain tidak melihat yang paling dalam pada diri Anda. Dengan begitu, Anda akan tetap menjadi orang yang diperhitungkan dan memiliki nilai yang berharga.

2. Mempertahankan ketenangan diri.
Dalam situasi darurat sekalipun Anda harus berusaha menjaga sikap untuk tetap tenang, tidak panik dan terburu-buru. Hal ini akan menunjukkan Anda sebagai orang terampil yang cerdas dan memiliki hati, dan tidak mudah dikuasai emosi. Dengan demikian. orang akan memandang keunggulan Anda dan tidak mencela Anda.

3. Tegas, cepat, jelas dan tepat.
Keragu-raguan dalam berbuat sesuatu akan jelas terlihat oleh orang lain, yang memunculkan berbagai penilaian yang tidak mengenakkan hati. Untuk itu jangan melakukan tindakan yang tidak pantas menurut penilaian Anda sendiri. Karena Anda akan merasa betapa tololnya Anda jika telah menyadarinya. Ketegasan, kecepatan, kejelasan dan ketepatan adalah perpaduan unsur dalam bersikap yang akan memberi penghargaan pada diri Anda.

4. Waspada, biarkan semuanya terjadi.
Sikap membiarkan kadang merupakan cara yang baik untuk meredakan ketegangan. Jika Anda harus kalah sekarang, maka Anda harus menang esok hari. Jika Anda telah mentok dalam mengatasi kesulitan, Anda harus tetap tenang dan waspada untuk membiarkan semuanya berjalan secara alami dan menerapkan aturan moralnya. Dan pada saat yang tepat bertindaklah dengan cepat.

5. Menahan diri untuk mendapatkan kemenangan.
Ini merupakan taktik untuk mendapatkan yang diinginkan dan untuk dapat menangkap apa kemauan orang lain. Mengalah untuk menang merupakan taktik yang bermanfaat, karena cara ini hanyalah untuk membuka jalan bagi kepentingan Anda sendiri. Dengan sikap ini Anda tidak akan bingung dalam menghadapi masalah terutama yang penuh resiko.

Bawalah diri Anda pada sikap yang menguntungkan diri Anda dan tidak merugikan orang lain. Dengan demikian, lingkungan akan menjaga Anda.


Sumber : Buku 7 Langkah Menuju Sukses halaman 51-54.

Kamis, 03 Februari 2011

Posted by Nugroho Agung Wibowo On 12.24 0 komentar

Cara Mendayagunakan Pikiran Secara Efisien


Bagaimana sebaiknya kita mendayagunakan pikiran? Berikut ini cara-cara yang efisien dalam mendayagunakan pikiran :

1. Berpikir sehat.
Cara berpikir sehat adalah sumber dari perilaku, sumber semua ide, dasar dari sebuah nilai kebijaksanaan dan apabila didayagunakan secara tepat akan menjadi kekuatan sehingga segala sesuatu akan mudah dilaksanakan. Berpikir dengan sehat adalah berpikir tentang suatu hal yang paling baik sekaligus yang paling buruk, sehingga seseorang akan bisa melihat dan menerima kenyataan secara bijaksana apapun hasilnya.

2. Berpikir secara mendalam.
Jangan berpikir setengah-setengah karena hasilnya juga akan setengah-setengah dan seringkali tidak memuaskan. Sebagaimana halnya intan berlian dimana bagian dalamnya lebih penting daripada bagian permukaan, maka seseorang yang cara berpikirnya setengah-setengah, pendek dan sebatas permukaan diibaratkan sebagai bangunan yang terbengkelai, tidak selesai karena kehabisan anggaran dan kesalahan dalam perancangannya. Maka berpikir secara matang dan mendalam akan menunjukkan tingkat dan kualitas seseorang yang lebih tinggi daripada mereka yang malas dalam mendayagunakan pikirannya.

3. Berpikir ke depan.
Tidak ada yang sulit bagi mereka yang mau berpikir. Masa depan adalah situasi dan kondisi yang akan datang secara otomatis, sesuai apa yang kita kerjakan saat ini. Karena hari ini sangat menentukan hari esok, bahkan hari-hari jauh di depan. Jadi, dengan berpikir dan melakukan yang terbaik hari ini akan menciptakan masa depan yang baik pula. Menghindari atau takut menghadapi resiko adalah sikap yang tidak mencerminkan kemajuan. Akan lebih baik kalau kita mau berpikir bagaimana menghadapi kesulitan-kesulitan daripada mengkhawatirkan kesulitan-kesulitan yang bakal menghadang.

4. Berpikir dan bertindak.
Tidak banyak berguna bila seseorang berpikir sebatas ucapan. Dengan segera bertindak maka apa yang kita pikirkan akan segera menghasilkan perubahan dan keuntungan. Kecepatan dan ketepatan dalam berpikir dan bertindak akan menjadi kekuatan yang mampu menghasilkan keberhasilan.

5. Berpikir secara kreatif.
Daya kreatif merupakan karunia besar dari Allah Subhanahu wa Ta'ala bagi seseorang. Karena banyak orang bisa bicara dan bertindak dengan baik, tetapi hanya sedikit yang mampu menciptakan dengan baik. Yang sedikit inilah yang utama dan berkualitas terbaik. Berpikir kreatif dan inovatif menunjukkan kecerdasan seseorang yang berani mengambil keputusan dengan bijak dan hati-hati, berani bertindak secara tepat dan berani menciptakan kebaruan dengan sedikit sentuhan "kegilaan".

6. Berpikir tentang hal-hal yang besar dan menguntungkan.
Sebaiknya berpikir tentang hal-hal yang besar dan menguntungkan apabila ingin mencapai kemajuan. Saatnya bagi kita untuk mengambil posisi ke depan dengan tidak takut bermimpi besar, tidak takut mewujudkan mimpi, tidak takut gagal, dan selanjutnya siap menghadapi kesuksesan.

Pikiran kita adalah wujud realitas hidup kita, gambaran yang nyata dari kelebihan dan kekurangan kita, cermin dari keberhasilan atau kegagalan kita. Demikianlah hukum pikiran yang harus disadari agar apa yang kita pikirkan bermanfaat dan berdaya guna.

Sumber : Buku 7 Langkah Menuju Sukses halaman 34-37.

Sabtu, 15 Januari 2011

Posted by Nugroho Agung Wibowo On 00.14 0 komentar

Kenali Diri Sendiri


Mungkin ada orang yang heran, masak dengan diri sendiri saja tidak kenal. Kalau dengan orang asing tidak kenal, itu wajar. Tetapi kenyataannya memang demikian. Banyak yang belum mengenal dirinya sendiri. Apa kelemahannya dan apa pula kekuatannya. Malah orang lain lebih tahu terhadap dirinya. Kita harus belajar mengenali diri sendiri.

Secara garis besar ada empat kepribadian yaitu, sanguinis, koleris, melankolis dan phlegmatis. Setiap orang tidak ada yang sempurna pada salah satu kepribadian tersebut. Tetapi ada yang dominan, yang menonjol di antaranya, dan melebihi kepribadian lainnya meskipun sedikit. Akan lebih baik, apabila mengetahui kepribadian apa yang mendominasi diri Anda.

1. Apakah Anda sebagai sanguinis yaitu terbuka, suka bicara dan mempunyai sifat yang optimis? Orang sanguinis, mempunyai rasa humor yang tinggi, dapat menghidupkan pesta. Periang dan mempunyai rasa ingin tahu yang kuat dan daya ingatnya cukup kuat khususnya tentang warna. Emosional, demonstratif, antusias dan ekspresif merupakan ciri-ciri orang sanguinis. Berhati tulus dan sangat menyenangkan kalau berada di panggung.

Di samping kekuatan sanguinis di atas, ada kelemahan yang harus diperbaiki. Sebagai orang sanguinis, yang sangat senang bicara, maka ia juga harus dapat mengurangi bicara. Memang bicara itu menyenangkan, tetapi perhatikan apakah lawan bicara masih mau mendengarkan atau tidak. Orang sanguinis yang suka mementingkan diri sendiri, harus belajar merasakan terhadap kepentingan orang lain. Dahulukan kepentingan orang lain. Perbanyak mendengar. Jangan berpikir bahwa Anda akan mengisi semua kekosongan itu.

2. Apakah Anda sebagai Melankolis, yaitu orang yang tertutup, pemikir dan mempunyai sifat pesimis? Orang melankolis itu serius, penuh pikiran dan mendalam. Melankolis biasanya hebat, cenderung jenius, penuh bakat dan artistik. Orang melankolis juga sangat kreatif, tetapi filosofis dan puitis. Sangat senang dengan keindahan dan menjaga perasaan orang lain. Suka berkorban dan idealis.

Sebagai orang melankolis, yang sangat serius tersebut, coba Anda tersenyum sedikit. Jangan merengut saja. Orang tidak suka kepada orang yang berwajah muram. Jangan terlalu mudah tersinggung dan sakit hati. Permudah dan jangan selalu mempersulit. Carilah segi positifnya. Jangan selalu menunda-nunda pekerjaan. Hidup ini tidak harus berencana terus, melainkan juga harus ada tindakan.

3. Apakah Anda sebagai koleris yaitu terbuka, pelaksana atau pelaku dan mempunyai sifat optimis? Orang koleris berbakat untuk memimpin, dinamis dan aktif. Sangat perlu perubahan, berkemauan kuat dan tegas. Memancarkan keyakinan tidak mudah patah semangat. Orang koleris tidak emosional dalam bertindak.

Orang koleris, yang suka kerja keras, sering lupa kondisi badannya. Belajarlah rileks. Orang koleris tidak tahu bagaimana menangani orang lain. Belajarlah sabar, perlunak cara pendekatan terhadap orang lain. berhentilah bertengkar, biarkan orang lain benar. Kalau memang Anda salah, akuilah dan jangan lupa minta maaf.

4. Apakah Anda sebagai phlegmatis, yaitu orang yang tertutup, pengamat dan bersifat pesimis. Orang phlegmatis rendah hati dan mudah bergaul dengan santai. Sabar dan tenang tetapi cerdas. Simpatik dan baik hati, dapat menyembunyikan emosi. Orang phlegmatis juga serba guna.

Orang phlegmatis tampak kurang bersemangat dan bahkan cenderung pemalas. Carilah motivasi baru untuk membangkitkan semangat dan belajar menerima tanggung jawab. Belajarlah mengkomunikasikan perasaan Anda kepada orang lain. Dan yang penting, belajarlah mengatakan tidak. Jangan selalu menghindari konflik hanya untuk menyenangkan orang lain saja.

Kalau Anda sulit mengetahui termasuk kategori yang mana, coba tanyakan kepada teman Anda yang dapat menilai secara obyektif, atau merenunglah pada tempat yang sunyi tanpa ada gangguan. Akan lebih baik, kalau merenung tersebut dilakukan pada tengah malam, pada saat orang lain sedang tidur. Ambil tempat di suatu pojok rumah tempat tinggal Anda, lakukan introspeksi. Nilailah sendiri, apakah Anda termasuk sanguinis, melankolis, koleris atau phlegmatis.

Setelah menemukan jawaban, dan Anda termasuk dalam kepribadian mana, lakukan perbaikan dari kelemahan kepribadian Anda. Anda masih dapat berubah menjadi lebih baik, asal mau. Pertahankan kekuatan dan segi-segi positifnya. Dengan mengenali kepribadian Anda sendiri, maka Anda akan dapat memanfaatkan kelebihannya secara maksimal, dan melakukan antisipasi tentang kelemahan yang ada.


Sumber : Buku The Keys halaman 111-115.