REKENING DONASI MOSSDEF SYSTEM : BANK MU'AMALAT CABANG YOGYAKARTA NOMOR 0117546129 A/N NUGROHO AGUNG WIBOWO atau BANK BRI SYARIAH KCP JOGJA A DAHLAN A/N NUGROHO AGUNG WIBOWO NOREK. 1002252771.
  • Mossdef System adalah kependekan dari Moslem Self-Defence System atau juga bisa disebut dengan Moslem Street Fighting merupakan sebuah komunitas sistem pertahanan diri, pengembangan diri, pembinaan leadership dan pembinaan organisasi. [...]

  • Sebuah sistem pertahanan diri yang mudah di duplikasi, praktis, cepat, efektif dan fleksibel yang merupakan kombinasi dari teknik-teknik beladiri lainnya seperti Krav Maga, Haganah System, Systema SpatNaz, Soko Combat System, Tapak Suci, Jujutsu, Wing Chun, Sambo, Ninjitsu, Aikido, Tinju, Karate, Judo, kempo dan Thai boxing. Tetapi yang diutamakan dalam Mossdef System adalah kesederhanaan dalam menyerang namun membentuk sebuah pertarungan yang sangat efektif. [...]

  • Mossdef System merupakan sebuah sistem pertahanan diri yang diajarkan untuk kaum muslimin baik pria maupun wanita untuk menghadapi berbagai bentuk konfrontasi, aksi premanisme dan aksi tindak kejahatan di sekitar kita. [...]

  • Mossdef System memusatkan pada pelatihan-pelatihan teknik yang berlaku di kehidupan nyata, yaitu kehidupan yang penuh dengan konfrontasi, kekerasan premanisme dan tindak kejahatan, maka dari itu di dalam Mossdef System tidak ada komite dan aturan dalam menerapkan teknik-teknik Mossdef System di lapangan. [...]

Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Desember 2011

Posted by Nugroho Agung Wibowo On 06.54 1 komentar

Doa Istikharah


Masalah yang akan terjadi nanti atau besok merupakan hal yang ghaib bagi kita. Suatu perkara, apakah ia baik atau buruk, hanyalah Allah yang mengetahui. Terkadang ia datang dengan tiba-tiba atau bersamaan dengan yang lain dan mempunyai bobot yang sama. Pada saat itulah seseorang dituntut untuk memilih. Namun karena keterbatasan akal dan kemampuan manusia dalam memprediksi terhadap apa yang bakal terjadi, maka ia membutuhkan pertolongan dalam menentukan pilihan agar menghasilkan pilihan yang tepat dan tidak menyesal di kemudian hari.

Allah-lah tempat memohon pertolongan. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menganjurkan kita semua agar memohon pertolongan kepada Allah saja dalam segala permasalahan termasuk memilih suatu urusan. Untuk itu beliau mensunahkan kita shalat dan doa istikharah (doa memilih dan memohon taufiq dari dua masalah).

Imam Nawawi berpendapat bahwa apabila seorang mempunyai udzur, maka diperbolehkan dia untuk berdoa apa saja. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Jika salah seorang di antara kalian menginginkan sesuatu, maka hendaklah dia shalat dua rakaat yang bukan shalat fardlu, lalu mengucapkan : "Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat kepada-Mu dengan ilmu pengetahuan-Mu dan aku memohon kekuasaan-Mu (untuk mengatasi persoalanku) dengan kemahakuasaan-Mu. Aku memohon kepada-Mu sesuatu dari anugerah-Mu Yang Maha Agung. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib. Ya Allah, apabila Engkau mengetahui bahwa urusan itu baik bagiku dalam agamaku dan akibatnya terhadap diriku (atau Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : ... di dunia atau di akhirat). Takdirkanlah untukku, mudahkanlah jalannya, kemudian berilah berkah kepadaku di dalamnya. Akan tetapi apabila Engkau mengetahui bahwa perkara ini buruk bagiku dalam agama, kehidupan dunia dan akibatnya kepada diriku, maka singkirkanlah perkara tersebut dan jauhkanlah aku darinya. Takdirkanlah kebaikan untukku di mana saja kebaikan itu berada kemudian jadikanlah aku ridla terhadapnya. Orang yang mempunyai hajat hendaklah menyebutkan persoalannya." (HR. Bukhari 7/261)

Orang yang melakukan istikharah, hendaklah bermusyawarah dengan orang-orang mukmin dan berhati-hati dalam menangani persoalannya agar tidak menyesal di kemudian hari. Allah Maha Suci berfirman :
"... dan bermusyawarahlah bersama mereka (para shahabat) dalam urusan itu (peperangan, perekonomian, politik dan lain-lain). Dan jika kamu telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah ..." (Q.S. Ali Imran : 159)

Waktu Doa Istikharah

Imam Nawawi berpendapat bahwa seorang boleh melakukan doa istikharah setelah shalat-shalat sunnah rawatib maupun sunnah tahiyatul masjid. Disunnahkan sebelum berdoa memulai dengan membaca hamdalah dan shalawat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam (lihat Al-Adzkar oleh Imam Nawawi). Akan tetapi pendapat Imam Nawawi di atas masih perlu diteliti lage karena secara dhahir (teks hadits) penyebab dilaksanakan shalat itu ialah untuk memohon pilihan, sehingga perlu shalat dua rakaat khusus, tidak cukup dengan shalat sunnah rawatib, tahiyatul masjid atau shalat dua rakaat setelah wudlu dan doa dilakukan setelah selesai shalat (lihat Bahjatun Nadhirin karya Syaikh Salim Al-Hilali).

Peringatan Penting

Ada beberapa hal yang perlu diperingatkan mengenai doa yang selama ini dipahami oleh masyarakat yaitu adanya anggapan bahwa setelah shalat, ia akan bermimpi tentang sesuatu yang harus ia lakukan. Karena anggapan seperti itu, kita lihat banyak orang melakukannya dengan berwudlu, shalat kemudian tidur dengan harapan bermimpi dalam tidurnya. Bahkan ada yang sambil berpakaian putih.

Sebagian ulama berpendapat -ini masih perlu diteliti kembali- bahwa doa istikharah cukup dengan shalat wajib atau rawatib. Padahal Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membatasi doa itu setelah shalat dua rakaat khusus, bukan setelah shalat wajib.

Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan apa yang harus dilakukan setelah selesai shalat istikharah. Ada yang berpendapat melakukan apa yang ia anggap cocok. Sedang yang lain berpendapat mengerjakan apa yang ia merasa lega. Apabila seorang merasa mudah dan gampang serta cocok, hendaklah ia kerjakan pilihannya. Jika ternyata merasa sebaliknya setelah istikharah, hendaklah ia menahan diri untuk mengerjakannya (lihat Bahjatun Nadhirin karya Syaikh Salim Al-Hilali). Pendapat yang terakhir inilah yang beliau kuatkan.

Beberapa Kesalahan Dalam Istikharah

Kita hendaknya tidak mengikuti bid'ah yang sudah biasa dilakukan orang dalam doa istikharah, akan tetapi selalu mengikuti sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Dengan mengikuti sunnahnya dalam istikharah, insya Allah, problem kita akan selesai dengan mudah dan kita pun akan beruntung di dunia dan akhirat. Marilah kita kerjakan apa yang kita rasa lega setelah berdoa dan menjauhi ketergantungan kepada perasaan dan hawa nafsu yang timbul sebelum berdoa. Buanglah jauh-jauh perasaan itu! sebab jika tidak, berarti kita beristikharah kepada hawa nafsu, bukan kepada Allah Ta'ala. Wal iyadzubillah.

Tetapi sebaliknya kita harus jujur dalam memilih. Kita harus menyerahkan kekuasaan, pengetahuan dan hasil doa kita, serta daya dan upaya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala saja.

Di antara bid'ah-bid'ah shalat istikharah yang harus kita jauhi antara lain :

1. Doa istikharah harus dilakukan orang lain.
2. Harus ada mimpi tentang apa yang diniatkan atau melihat warna hijau atau putih bila apa yang dituju baik, dan melihat warna merah atau hitam bila yang dituju buruk.
3. Menghitung sejumlah kerikil yang diambil secara acak kemudian menghitungnya. Apabila berjumlah ganjil diurungkan niatnya dan bila berjumlah genap diteruskan niatnya.
4. Meminta dukun membaca garis-garis tangan agar menentukan hasil doa dengan kekuatan firasatnya.
Dan masih banyak lagi kemungkaran lain yang harus kita hindari dalam doa istikharah (lihat Al-Qaulul Mubin karya Syaikh Mansyhur Hasan Salman).

Demikian pula seorang harus menyerahkan segala keputusan/ketentuan kepada-Nya saja dengan keyakinan bahwa semua yang telah terjadi maupun akan terjadi karena takdir Allah semata. Sehingga apabila menemukan ketentuan baik, ia bersyukur dan apabila menemukan ketentuan jelek ia tidak putus asa. Inilah sikap orang beriman dalam menghadapi semua problematika kehidupan.

Demikianlah sekilas tentang doa istikharah menurut Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Semoga bermanfaat. Amiin.

Wallahu 'ala wa a'lamu wa 'azzu wa ahkam.

Maraji' :
1. Al-Qur'anul Karim.
2. Al-Adzkar, Al-Imam An-Nawawi, tahqiq Al-Arnauth, cet. Darul Hidayah.
3. Bahjatun Nadhirin, Syarhu Riyadlis Shalihin, Syaikh Salim Al-Hilali, cet. Dar Ibnul Jauziah.
4. Hishnul Muslim, Said bin Ali bin Wahf Al-Qahthani.
5. Al-Qaulul Mubin fi Akhthail Mushallin, Syaikh Masyhur Hasan Salman, cet. Dar Ibnul Qayyim.

Kamis, 15 Desember 2011

Posted by Nugroho Agung Wibowo On 13.11 1 komentar

Terkabulnya Doa Saat Sujud


Banyak kita jumpai dari kalangan kaum muslimin, hanya karena ingin terkabul doanya, mencari dan mendatangi tempat-tempat keramat yang terkadang untuk menuju tempat tersebut dibutuhkan biaya dan waktu yang tidak sedikit. Padahal syariat telah mengajarkan tempat berdoa yang sah dan jauh lebih mudah ditempuh. Dalam hal ini kita perlu mencermati makna hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang berbunyi :
"Hubungan terdekat antara seorang hamba dengan Pencipta-Nya ialah ketika ia sujud, maka perbanyaklah doa pada (saat itu)." (HR. Muslim, dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu)

Pada riwayat lain dari Ibnu Abbas radliyallhu 'anhu, katanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Adapun saat sujud, hendaklah kamu berdoa dengan sungguh-sungguh sebab ada jaminan untuk dikabulkan." (HR. Muslim)

Maksud sujud dalam hadist di atas adalah sujud ketika berlangsungnya shalat, baik shalat wajib ataupun sunnah. (lihat Syarah Shahih Muslim, Nawawi, 2/206)

Sebaik-baik doa adalah doa yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tuntunkan pada kita. Beliau saat sujud membaca :
"Subhaana robbiyal a'laa. (Maha Suci Rabbku Yang Maha Tinggi)." (HR. Muslim)

"Subhaanakallahumma wa bihamdika. Allahummaghfirlii. (Maha Suci Engkau Ya Allah Rabb kami dan segala puji bagi-Mu. Maka ampunilah aku)." (HR. Bukhari 1/99 dan Muslim 1/350)

"Subbuuhun qudduusun rabbul malaaikati warruuhi. (Maha Suci dan Maha Bersih Rabb Malaikat-Malaikat dan Rabb Jibril)." (HR. Muslim 353 dan Abu Dawud 1/230)

"Subhaanakallahumma wa bihamdika laa ilaha illa anta. (Maha Suci Engkau ya Allah dan dengan memuji bahwa tiada tuhan yang pantas disembah selain Engkau)." (HR. Muslim, 485)

"Allahumma innii a'udzubiridlaaka min sakhathika, wa bimu'aafaatika min 'uquubatika, wa a'uudzubika minka, laa uhshii tsanaa'an 'alaika anta kama atsnaita 'ala nafsika. (Ya Allah, sungguh aku berlindung dengan keridlaan-Mu dan kemarahan-Mu, dengan pemaafan-Mu dari siksa-Mu dan aku berlindung dengan-Mu dari marah-Mu. Aku tidak bisa menghitung pujian atas-Mu sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri)." (HR. Muslim no. 485 dan Nasa'i 2/222)

"Allahummalaka sajadtu wabika aamantu walaka aslamtu sajada wajhiya lilladzii khalaqahu wa shawwarahu wa syaqqa sam'ahu wa basharahu tabaarakallahu ahsanu. (Ya Allah, aku sujud demi Engkau. Aku beriman dengan-Mu. Aku serahkan diriku pada-Mu. Wajahku sujud demi yang menciptakan dan membentuknya serta yang menumbuhkan pendengaran dan penglihatannya. Maka berkah Allah sebaik-baik zat pencipta)." (HR. Muslim)

"Allahummaghfirlii dzanbii kullahu diqqahu wa jullahu wa awwalahu wa aakhirahu wa 'alaaniyatahu wa sirrahu. (Ya Allah, ampunilah semua dosaku, dosa yang kecil dan yang besar, yang pertama maupun yang terakhir dan yang nampak maupun yang samar)." (HR. Muslim no. 483)

"Allahummaghfirlii khathiiatii wa jahlii wa israafii fii amrii, wa maa anta a'lamubihi minnii. Allahummaghfirlii jiddii wa hazalii wa khathaii wa 'amadii, wa kullu dzalika 'indii. Allahummaghfirlii maa qaddamtu wa maa akhkhirtu wa maa asrartu wa maa a'lantu, anta ilahii laa ilaha illa anta. (Ya Allah, ampunilah semua kesalahanku, kebodohanku dan kelancanganku serta dosa-dosa yang Engkau lebih mengetahui dariku. Ya Allah, ampunilah kesengajaanku yang semua itu dariku. Ya Allah, ampunilah dosa-dosa yang telah lewat maupun yang akan datang, yang aku sembunyikan dan yang aku nampakkan Engkau sesembahanku. Tiada tuhan yang pantas disembah kecuali Engkau)." (HR. Bukhari 11/166 dan 167 serta Muslim 2719)

"Allahummaj'al fii qalbii nuuran wa fii sam'ii nuuran, wa fii basharii nuuran, waj'al 'anyamiinii nuuran, wa 'an syimaalii nuuran, waj'al fii amaamii nuuran, wa min khalqii nuuran waj'al min fauqii nuuran wa min tahtii nuuran. Allahumma a'thinii nuuran. (Ya Allah, berikanlah cahaya dalam hatiku, pendengaranku, penglihatanku. Berikanlah samping kanan, samping kiri, depan, belakang, atas dan bawah cahaya bagiku, dan berikanlah aku cahaya)." (HR. Muslim no. 479)

"Subhaanadzil jabaruubi wal malakuuti wal kibriyaai wal 'adzamati. (Maha Suci Zat yang memiliki kekuasaan dan kerajaan, kesombongan dan keagungan)." (HR. Abu Dawud 1/230, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud, 1/166)

Hendaklah seseorang bersungguh-sungguh berdoa kepada Allah ketika ia sujud. Akan tetapi menurut keterangan Ibnu Qayyim Al-Jauziah dalam karya besarnya Zadul Ma'ad, apakah perintah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk bersungguh-sungguh dalam sujud dapat diartikan memperbanyak doa dalam sujud atau jika seseorang mau berdoa hendaklah berdoa ketika ia sujud.

Menurut Ibnul Qayyim rahimahullah, dua hal ini mempunyai perbedaan. Sebab ada dua pengertian doa.
Pertama, doa yang bersifat pujian dan doa yang bersifat permintaan (masalah). Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sujudnya memperbanyak doa tersebut baik yang bersifat pujian ataupun permintaan. Dan doa-doa tersebut di atas mencakup dua jenis doa. Dikabulkannya doa juga ada dua jenis yaitu dikabulkannya doa orang yang meminta dengan suatu pemberian dan dikabulkannya doa orang yang memuji dengan diberi pahala. Agaknya inilah tafsir ayat berikut (yang artinya) :
"Aku mengabulkan doa orang yang berdoa jika ia berdoa pada-Ku." (Q.S. Al-Baqarah : 187),
yakni Allah mengabulkan dua jenis doa tersebut di atas; demikian menurut pendapat yang benar. (lihat Zadul Ma'ad, 1/235)

Jadi itulah doa-doa yang biasa diucapkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika sujud dalam shalat. Namun kebanyakan kaum muslimin salah memahami hadits yang memerintahkan banyak sujud dan doa. Maka kita banyak melihat di antara mereka sujud lalu berdoa setelah melakukan shalat dan wirid-wirid. Ini adalah suatu kesalahan yang perlu diluruskan. Di saat mereka bersungguh-sungguh dalam mengamalkan sunnah ternyata salah tata cara pengamalannya. La hau la wala quwwata illa billah.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Rabu, 14 Desember 2011

Posted by Nugroho Agung Wibowo On 08.39 0 komentar

Do'a Gundah Gulana


Kesedihan, kegundahan dan kecemasan adalah perasaan-perasaan yang biasa singgah di dalam hati. perasaan-perasaan itu muncul tanpa dikehendaki. Karenanya pula berlalulah perasaan senang dan gembira.

Begitulah hati manusia. Kadang baik kadang buruk. Semuanya bisa memberikan dampak positif atau negatif bagi tubuh manusia. Jika hatinya baik, niscaya akan baik pula perilaku tubuhnya dan jika buruk maka akan buruk pula perangainya. Demikian pula jika hatinya gembira, akan riang pula sikap dan gerakannya. Sebaliknya, jika hatinya gundah gulana, maka akan lesu dan tidak bersemangat tingkah lakunya.

Semua perihal ini telah dijelaskan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam :
"Ketahuilah sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging. Apabila segumpal daging itu baik niscaya baiklah seluruh tubuh dan apabila ia rusak, maka akan rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah ia adalah hati." (Muttafaqun 'alaihi)

Mengomentari hadits ini, Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah di dalam Fathul Bari 1/137 mengatakan : "Yang demikian dikarenakan hati adalah pemimpin seluruh tubuh."

Kegundahan dan kegelisahan begitu sering merasuki hati, dan tidak semua orang mampu menghindarinya. Hanya segelintir orang saja yang sanggup mengatasinya. Terlebih lagi di jaman sekarang ini, di mana nyawa seakan begitu murah dan keamanan terasa mahal harganya. Hari-hari dilalui manusia dengan segudang problem yang menumbuhkan kegundahan di hatinya dan berakibat tidak baik terhadap aktifitasnya.

Begitu mudahnya kegundahan menimpa manusia sehingga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan kepada umatnya agarhanya mengadu kepada Allah dalam menyelesaikan urusannya. Begitu pula bila meminta ketenangan untuk jiwanya. Karena hati manusia adalah milik Allah dan berada di antara dua jari jemari Allah, dibolak-balikkan-Nya sesuai dengan kehendak-Nya.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam :
"Sesungguhnya hati-hati anak Adam ada di antara dua jari jemari Allah seperti layaknya satu hati yang Allah memalingkannya sesuai dengan kehendak-Nya." Kemudian beliau berkata : "Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati-hati kami pada ketaatan kepada-Mu." (HR. Muslim)

Hanya kepada Allah-lah kita memohon dan meminta penyelesaian dari kegundahan hati, karena Dia-lah yang memiliki hati manusia. Rasulullah telah mengajarkan kepada umatnya doa-doa untuk mengatasi kegundahan hati, agar mereka mengadukan segala keluhan hanya kepada Allah semata, tidak kepada selain-Nya dan hanya mengatasinya dengan tuntunan Rasul-Nya, bukan malah bermaksiat kepada-Nya.

Sebagaimana kita saksikan di masyarakat sekarang ini, kebanyakan mereka mengobati kegundahan hatinya dengan mendatangi tempat-tempat maksiat, dan mengatasi permasalahannya dengan melakukan larangan-larangan-Nya. Semua ini mereka lakukan dengan alasan mencari hiburan dan ketenangan.

Sungguh merugi orang-orang yang berbuat demikian, dan beruntunglah orang-orang yang kembali kepada Allah dengan tuntunan Rasulullah.

Ada beberapa doa yang diajarkan Rasulullah kepada umatnya ketika mereka gundah gulana, di antaranya :
"Allahumma innii 'abduka wabnu 'abdika wabnu amatika, naashiyatii biyadika maadhin fii khukmuka, 'adlun fii qodhoouka asaluka bikulli ismii huwalaka sammaitabihi nafsaka, au anzaltahu fii kitaabika au 'allamtahu akhadan min kholqika au ista'tsartabihi fii 'ilmil ghoibi 'indaka an taj'alal qur'ana robi'a qolbii, wa nuuro shodrii, wajala'a khuznii wa dzahaaba hammii." "Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu, ubun-ubunmu berada di tangan-Mu, berlaku padaku hukum-Mu, adil bagiku ketentuan-Mu, aku memohon kepada-Mu dengan seluruh nama-Mu yang telah kau namai diri-Mu dengannya atau yang Kau turunkan di dalam kitab-Mu, atau yang Kau ajarkan kepada salah seorang dari hamba-Mu, atau Kau simpan di alam ghaib di sisi-Mu. Jadikanlah Qur'an sebagai penyejuk hatiku, penerang jiwaku, pengobat sedihku dan penghapus kegundahanku." (HR. Ahmad dan lainnya dengan sanad shahih, lihat Shahih Kitabul Adzkar wa Dlaifuhu 1/338)

Begitu agungnya doa ini sehingga apabila seorang hamba yang ditimpa kegundahan membacanya niscaya Allah akan menghilangkan kegundahannya dan menggantikannya dengan kegembiraan, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Di dalam riwayat yang lain dijelaskan, apabila Rasulullah mendapati suatu perkara yang menyusahkan hati, Beliau segera berdoa :
"Yaa hayyun yaa qoyyuum birohmatika astaghyitsu."
"Ya Hayyun, ya Qayyum, dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan." (HR. At-Tirmidzi, lihat Shahih At-Tirmidzi no. 2796)

Demikian pula dengan doa berikut ini, yang juga Rasulullah sering membacanya :
"Allahumma innii a'udzubika minal 'ajzi wal kasali wal bukhli wal jubni wa dlola'id dayni wa gholabatir rijaali."
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kegundahan, keresahan, kelemahan, kemalasan, kekikiran, ketakutan, terbebani hutang dan dikalahkan manusia." (HR. Bukhori)

Berdoa dengan doa-doa ini adalah caraterbaik untuk menghilangkan kegundahan. Dengan membacanya berarti seorang hamba telah mengadukan kesulitannya kepada Allah yang memiliki dan menguasai hatinya serta membolak-balikkannya atau memalingkannya sesuai dengan kehendak-Nya. Dengan membacanya pula, seorang hamba akan mendapatkan ketenangan jiwa dan ketentraman yang dapat mendorong dirinya untuk hidup lebih baik dari hari-hari sebelumnya.

Allah Ta'ala berfirman :
"Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram." (Q.S. Ar-Ra'du : 28)

Mudah-mudahan kita termasuk dari orang-orang yang mendapatkan pengampunan dosa dari Allah Subhanahu wa Ta'ala atas segala musibah yang menimpa kita hingga kegundahan yang melanda jiwa, seperti apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam haditsnya :
"Tidak ada yang menimpa seorang mukmin dari rasa sakit dan kesulitan, tidak pula keperihan dan kesulitan hingga kegundahan yang menyusahkan kecuali akan diampunkan kesalahan-kesalahannya dengan hal itu semua." (HR. Muslim)

Mudah-mudahan.

Maraji' :
1. Al-Wabilus Shayyib Minal KalimutThayyib, Ibnul Qayyim.
2. Shahih Kitabul Adzkar wa Dla'ifuhu, Syaikh Salim Al-Hilali.
3. Qawaid wa Fawaid, Nadhim Muhammad Sulthan.
4. Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Asqalani.

Jumat, 07 Januari 2011

Posted by Nugroho Agung Wibowo On 14.40 0 komentar

Berlindung Kepada Allah Dari Kejahatan Penjahat


Di masa kondisi keamanan yang rawan dan anacaman kejahatan yang mencekam, seorang Mu'min tidak boleh berputus asa dari harapan mendapatkan perlindungan terhadap keselamatan dirinya dan keluarganya. Karena seorang Mu'min tidak akan lepas dari keyakinan bahwa pelindung yang maha perkasa dan maha penyayang itu adalah Allah Ta'ala. Maka dengan modal keyakinan ini, seorang Muslim disaat kegentingan yang dihadapinya dalam hidupnya tetap mempunyai tempat pelarian dan tidak berkecil hati apalagi berputus asa untuk keluar dari kondisi kegentingan itu. Berikut ini kami hantarkan para pembaca yang budiman untuk mengenali dan menghafal do'a yang dituntunkan untuk kita panjatkan kepada Allah Ta'ala di saat-saat genting hidup kita.

Al Imam An Nawawi rahihahullah dalam kitab beliau Al Adzkar, membawakan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya dan juga diriwayatkan oleh An Nasa'ie dalam As Sunanul Kubra. Al Imam An Nawawi menshahihkan riwayat ini. Dalam riwayat tersebut diceritakan, bahwa Abu Musa Al Asy'ari radhiyallahu anhu meriwayatkan : Bahwa Nabi sallallahu alaihi wa aalihi wasallam, bila takut dari kejahatan suatu kaum maka beliau berdo'a dengan lafadl berikut ini :

(tulis lafadl haditsnya dalam Al Adzkar hal. 218 riwayat ke 319)

Allahumma Inna Naj'aluka Fi Nuhurihim, Wa Na'udzubika min Syururihim

“Ya Allah, kami menjadikan Engkau sebagai pihak yang memegang leher-leher mereka (yakni dalam posisi siap mencekik mereka setiap saat –pent), dan kami berlindung kepaMu dari berbagai kejahatan mereka”.

Diriwayatkan pula oleh Imam An Nawawi dalam Al Adzkar beliau riwayat Abu Dawud dan lain-lainnya dari Amer bin Syu'aib bin Muhammad bin Abdullah bin Amer bi Al Ash, dari bapaknya (yakni dari Syu'aib), dari kakeknya (yakni dari Abdullah bin Amer bin Al Ash), katanya bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam mengajari para Shahabat beliau bila dalam ketakutan mengucapkan do'a demikian :

(tulis lafadl do'anya di Al Adzkar riwayat ke 259 halaman 181)

A'udzu Bi Kalimaatillahit Taammaati Min Ghadlabihi Wa Syarri ‘Ibadihi Wa Min Hamadztis Syayathiin Wa An Yahdhurun

“Aku berlindung dengan Kalimat Allah (yakni berlindung dengan Omongan Allah Ta'ala) yang Maha Sempurna, dari KemurkaanNya, dan berlindung dari kejahatan hamba-hambaNya, dan juga berlindung kepadaNya dari berbagai bisikan syaithan dan aku berlindung kepadaNya dari bahaya hadirnya syaithan di tengah kami”.

Do'a yang terakhir ini juga diucapkan ketika akan tidur. Demikian Imam An Nawawi menerangkan dalam Al Adzkarnya.

Demikian do'a yang diajarkan untuk memohon perlindungan kepada Allah Ta'ala dalam berbagai kegentingan. Hafalkan dan fahami lafadl-lafadl do'a yang penting ini dan amalkan. Semoga anda termasuk hamba Allah yang cerdas, sehingga dapat melihat bukti perlindungan Allah terhadap hambaNya bila sang hamba memohon perlindungan kepadaNya. Amin Ya Mujibas sa'ilin.

Sumber :
1. Sunan Abi Dawud, hadits ke 1537.
2. Sunan Abi Dawud, hadits ke 3893, juga diriwayatkan oleh At Tirmidzi dalam Sunannya di hadits ke 3519, juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya jilid 2 hal. 181, juga Al Hakim dalam Mustadraknya jilid 1 hal. 548.

Sabtu, 12 Juni 2010

Posted by Nugroho Agung Wibowo On 21.01 0 komentar

Doa Mengatasi Masalah Yang Melilit


Dalam kehidupan sehari-hari kita kadang menemui kesulitan dan berbagai problem atau masalah. Oleh sebab itu kita dituntunkan untuk berdo'a kepada Allah, karena do'a adalah sebab yang paling kuat untuk menghindarkan diri dari berbagai masalah dan mendapatkan apa yang diinginkan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menuntunkan kita berdo'a apabila dalam kesulitan sebagaimana diriwayatkan Ibnu Abbas :
"Dari Ibnu Abbas radliyalla 'anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika dalam kesulitan berdo'a : Laa ilaha illallahul 'adziimul khaliimu, laa ilaha illallahu rabbul 'arsyil 'adziimu, laa ilaha illallahu rabbus samaa waati, wa rabbul ardli wa rabbul 'arsyil kariimu. (Tidak ada sesembahan yang benar melainkan Allah Yang Maha Agung, Maha Menahan Kemarahan, tidak ada sesembahan yang benar melainkan Allah, Tuhan 'Arsy Yang Maha Agung, tidak ada sesembahan yang benar melainkan Allah, Tuhan langit dan Tuhan bumi dan Tuhan 'Arsy yang Maha Mulia)." (Muttafaqun 'alaihi)

Apabila seseorang berdo'a dengan do'a ini ketika dalam kesulitan, maka do'a ini adalah sebab untuk mengeluarkannya dari kesulitan.

Dari hadits Sa'ad bin Abi Waqqas, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Do'a Dzu Nun (Nabi Yunus) ketika berdo'a dan beliau berada di perut ikan Hut : Laa ilaha illa anta subhaa naka inii kuntu minadz dzaalimiina (Tidak ada sesembahan yang benar selain Engkau Maha Suci Engkau sesungguhnya aku adalah termasuk orang yang menganiaya diri sendiri (Al-Anbiya' : 87)). Sesungguhnya tidaklah seorang muslim berdo'a dengan do'a ini pada suatu perkara kecuali Allah akan kabulkan baginya." (HR. At-Tirmidzi hadits no. 3505, dan beliau mengatakan hadits tersebut shahih)

Dalam Mustadrak Al-Hakim dari Sa'ad bin Abi Waqqas juga : bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Maukah aku beritahu kalian sesuatu jika salah seorang dari kalian ditimpa perkara yang menyusahkan, kemudian dia berdo'a dengan-Nya, maka Allah akan memberi jalan keluar dari perkara itu, yaitu do'anya Dzunun (nabi Yunus 'alaihis sallam)." (Hadits Shahih, diriwayatkan oleh Al-Hakim. Dan Al-Albani dalam Shahihnya 1744)

Do'a ialah seruan hamba kepada Rabbnya (Tuhannya) 'Azza wa Jalla dengan mengucapkan "ya Rabbi ya Rabbi" dalam rangka meminta kepada Allah apa yang diinginkannya dan apa yang dihindarkannya, dan menghilangkan apa yang dibencinya.

"Dari Anas bin Malik berkata : Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam jika menimpanya sesuatu perkara yang menyusahkan, beliau berdo'a : "Yaa hayyu yaa qayyuumu birahmatika astaghiitsu (Wahai yang Maha Hidup, Yang Maha Menegakkan, dengan rahmat-Mu aku minta dilepaskan dari malapetaka ini)." (Hadits Hasan, dikeluarkan oleh Tirmidzi 3524)

Dari Nu'man bin Basyir dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam beliau bersabda :
"Do'a itu adalah ibadah." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dan Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan shahih)

Karena di dalam berdo'a terkandung sifat menghadap kepada Allah dan mengakui keutamaan dan kemurahan-Nya. Dan juga berdo'a kepada Allah mengakui kesempurnaan Allah dan Maha Mengabulkan do'a, maka berdo'a kepada selain Allah adalah perbuatan syirik karena do'a itu sendiri ialah ibadah, dan beribadah kepada selain Allah adalah syirik.

Syarat-syarat dikabulkannya do'a

1). Ikhlas
Mengikhlaskan do'a hanya kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan yang lainnya, tidak beribadah dengan riya' (ingin dilihat makhluk) dan sum'ah (ingin didengar makhluk). Juga di dalam berdo'a kita merasa sangat membutuhkan kepada Allah, yang Allah Maha Kaya dan Maha Kuasa memberikan apa yang kita minta.

2. Bukan do'a yang dosa dan melampaui batas
Do'a yang demikian ini tidak dikabulkan walaupun do'a seorang bapak untuk anaknya, seperti meminta sesuatu yang haram. Yang demikian ini melampaui batas. Seperti juga berdo'a meminta dirinya menjadi Nabi dan juga seperti seorang bapak yang mendo'akan kejelekkan anaknya karena marah ketika melihat anaknya bergaul dengan orang-orang shalih. Yang seperti ini adalah dosa.

3. Berdo'a kepada Allah dan yakin dikabulkan
Yaitu bukan do'a coba-coba seperti seseorang yang berdo'a kemudian dia melihat dikabulkan do'a tersebut atau tidak, maka yang demikian ini tidak dikabulkan. Berdo'alah kepada Allah dan engkau merasa yakin bahwa Allah akan mengabulkan do'amu, tanpa keraguan.

4. Menjauhi yang haram
Orang yang memakan makanan yang haram, atau makan hasil riba, atau dari menipu, makanya do'anya tidak dikabulkan. Dalilnya ialah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam :
"Seseorang yang bepergian jauh kusut rambutnya dan berdebu bajunya menengadahkan tangannya ke langit kemudian mengucapkan, ya Rabbi ya Rabbi (yakni do'a) tetapi makan makanan yang haram, minum minuman yang haram, dan pakaiannya dari hasil yang haram, dan dikenyangkan dengan yang haram, maka bagaimana mungkin orang yang demikian do'anya dikabulkan." (HR. Muslim dalam Shahihnya bab Zakat no. 65 dari Abu Hurairah)

Maka bagi orang yang ingin do'anya dikabulkan harus memperhatikan empat perkara tersebut di atas.

Do'a yang dikabulkan mendapatkan salah satu yang di bawah ini :
1. Engkau diberi oleh Allah apa yang engkau minta.
2. Dipalingkan dari engkau suatu kejelekan yang sebanding atau lebih besar dari apa yang engkau minta.
3. Disimpan do'a itu untuk diberikan pahalanya di hari kiamat nanti.

Berdo'alah kepada Allah karena do'a itu adalah ibadah. Dikabulkan atau tidak dikabulkan engkau akan tetap engkau beribadah kepada Allah dan engkau mendapat pahala. Sampai-sampai salah seorang yang tali sandalnya putus, maka mintalah kepada Allah agar dimudahkan mendapatkan gantinya. Apalagi jika engkau menghadapi kesulitan, berdo'alah agar terlepas dari kesulitan tersebut.

Wallahu a'lam.

Sumber : Majalah Salafy Edisi 6 Tahun ke 5 halaman 70-72.

Jumat, 04 Juni 2010

Posted by Nugroho Agung Wibowo On 15.06 0 komentar

Berdoalah Kepada Allah Dalam Segala Keadaan


Dalam menjalani rutinitas kehidupan sehari-hari, sering kita mendapati berbagai problem dan keperluan. Untuk mengatasi berbagai problem dan keperluan itu kita sering dijangkiti oleh perasaan ketidakmampuan, bahkan sampai pada tingkat keputusasaan. Yang demikian ini amat mengganggu mental dan perasaan serta pikiran kita. Oleh karena itu, seorang Muslim sebagai orang yang beriman kepada Allah Ta'ala haruslah mengenal-Nya dan mengembalikan harapan hanya kepada-Nya. Karena sebesar apapun problem yang kita hadapi dan seberat apapun keperluan yang menghimpit kita akan menjadi amat kecil dan ringan bila berhadapan dengan kebesaran dan keagungan serta maha kaya-Nya Allah Ta'ala. Yakinilah yang demikian ini agar Allah selalu memberikan jalan keluar terbaik bagi segenap persoalan yang melilit kita dan memberikan pertolongan untuk meringankan beban kebutuhan kita. Inilah yang dinyatakan oleh Allah Ta'ala dalam Firman-Nya di Al-Qur'an surat Al-Baqarah :
"Dan apabila hamba-hamba-Ku, bertanya tentang Aku, maka sesungguhnya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan do'a siapa yang berdo'a kepada-Ku. Oleh karena itu tunaikanlah kewajiban-Ku kepada hamba-Ku dan berimanlah mereka kepada-Ku agar dengan itu mereka terbimbing kepada kebenaran." (Al-Baqarah : 186)

Jadi kita berdo'a kepada Allah Ta'ala haruslah disertai keyakinan dan keimanan bahwa Allah pasti akan mengabulkan do'a kita. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Tidaklah seorang muslim berdo'a kepada Allah yang Maha Mulia dan Maha Agung dengan satu do'a yang tidak mengandung padanya dosa dan tidak pula mengandung pemutusan tali silaturahmi kecuali pasti Allah akan memberinya dengan do'anya itu salah satu dari tiga perkara : 1). Kadang Allah segera mengabulkan do'anya. 2). Kadang Allah simpan segenap balasannya terhadap dia untuk menjadi kemanfaatan baginya di akhirat. 3). Atau Allah ganti permintaan hamba itu dalam do'anya dengan diselamatkan-Nya si hamba ini dari kejahatan atau kejelekan yang sebanding dengan kebaikan yang diminta oleh hamba itu." Para shahabat beliau yang mendengar keterangan ini menyatakan : "Kalau begitu kita perbanyak do'a yang baik." Nabi pun menjawab : "Allah memiliki lebih banyak lagi kebaikan dari apa yang kalian minta." (HR. Ahmad dalam Musnadnya dari Abi Said Al-Khudri)

Rasulullah juga memberitakan firman Allah Ta'ala sebagai berikut ini :
"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Allah Ta'ala berfirman : ((Aku sesuai dengan sangkaan hamba-Ku kepada-Ku .... al-hadits))." (HR. Bukhari dalam Shahihnya Kitabut Tauhid bab ke 15 hadits ke 7405 dan diriwayatkan pula oleh Muslim dalam Shahihnya dalam Kitab Adz-Dzikr hadits ke 2675 dari Abu Hurairah)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah dalam menerangkan makna hadits ini menukil keterangan Al-Qadli Ayyadl sebagai berikut : "Makna hadits ini ialah bila hamba Allah itu minta ampun kepada-Nya dengan yakin bahwa Dia akan mengampuninya, niscaya Allah akan mengampuninya. Bila hamba Allah itu bertaubat kepada-Nya dengan keyakinan bahwa Allah akan menerima taubatnya, niscaya Allah akan mengabulkan taubatnya. Bila hamba itu berdo'a kepada-Nya dengan keyakinan bahwa Allah akan mengabulkan do'anya, niscaya Allah akan mengabulkan do'a hamba itu. Bila hamba itu minta kecukupan keperluan hidup kepada Allah disertai keyakinan bahwa Allah akan memberinya, niscaya Allah akan memberinya kecukupan." (Syarah Shahih Muslim, Al-Imam An-Nawawi hadits ke 2675 juz 17 hal. 175)

Oleh karena itu Aisyah ummul Mu'minin radliyallahu anha menganjurkan :
"Mintalah kepada Allah segala sesuatu sampai pun kebutuhan tali sandal, karena bila Allah tidak memudahkannya, niscaya ia tidak akan didapat dengan mudah pula." (HR. Abu Ya'la dalam Musnadnya. Lihat Silsilah Al-Ahadits Adl-Dlaifah jilid 3 hal. 540 hadits ke 1363)

Oleh karena itu, berdo'alah kepada Allah dalam urusan yang kita merasa mampu mengatasinya dan lebih-lebih lagi dalam urusan yang kita tidak mampu mengatasinya. Jangan membusung dada dalam perkara yang kita merasa mampu mengatasinya. Tetaplah berendah hati di hadapan Allah dalam perkara yang demikian agar Allah memberkati perkara kita. Dan tanda berendah hatinya kita dalam perkara tersebut ialah bila kita tetap berdo'a kepada Allah Ta'ala meminta-Nya untuk membantu kita dan memudahkannya.

Jangan pula kita berputus asa dalam perkara yang sesulit atau seberat apapun. Yakinilah, bila kita mengadu kesulitan kita kepada Allah dengan memanjat do'a kepada-Nya disertai penuh harapan dan keyakinan bahwa Allah akan membantu kita memecahkan problem dengan sebaik-baik pemecahan, pasti Allah akan mengabulkan harapan dan do'a kita. Setelah itu marilah kita syukuri nikmat Allah ini.

Marilah kita coba resep berdo'a ini dalam hidup kita, kita akan berhasil dengan bantuan dan kehendak Allah. Selamat mencoba, semoga bertambah iman, amin.


Sumber : Majalah Salafy Edisi 42 halaman 42-43.

Sabtu, 19 Desember 2009

Posted by Nugroho Agung Wibowo On 00.19 0 komentar

Keutamaan Istighfar


Dari Al Aghor Al Muzani Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullaah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam bersabda:

“Bahwasanya terkadang timbul perasaan yang kurang baik dalam hati dan aku membaca istighfar (mohon ampun) kepada Allah seratus kali dalam sehari”. (HR. Muslim)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Saya mendengar Rasulullaah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam bersabda:

“Demi Allah, sesungguhnya aku mohon ampun dan bertaubat kepada Allah lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari”. (HR. Bukhari)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam bersabda:

“Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan menghilangkan kalian dari muka bumi dan Allah akan mendatangkan suatu kaum lain yang berbuat dosa, lalu beristighfar (memohon ampun) kepada Allah Ta’ala. Dan Allah mengampuni mereka”. (HR. Muslim)

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: “Kami menghitung Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam membaca :

“Robbighfirlii watub ‘alaiyya innaka antat tawwaaburrohiim” (Ya Tuhan, ampunilah aku dan terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang) ..sebanyak seratus kali dalam satu majlis”. (HR. Abu Dawud & At Tirmidzi)

Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa membiasakan beristighfar, maka Allah melapangkan kesempitannya dan memudahkan segala kesulitannya dan memberi rizki kepadanya dari arah yang tiada disangka-sangka”. (HR. Abu Dawud)

Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang berdoa: “Astaghfirullaahalladzii laa ilaaha illa huwal hayyul qoyyuum wa atuubu ilaihi” (Saya mohon ampun kepada Allah Dzat yang tidak ada sesembahan yang benar melainkan Dia yang Maha Hidup, lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya dan saya bertaubat kepada-Nya), maka diampunilah dosa-dosanya walaupun lari dari perang”. (HR. Abu Dawud, At Tirmidzi & Al Hakim, Berkata Al Imam An Nawawi: hadits ini shahih berdasarkan syarat Al Bukhari & Muslim)

Penjelasan Syaikh Muhammad Bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah berkenaan dengan riwayat-riwayat diatas:

Berkata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam, sebagaimana yang diriwayatkan Al Aghor Al Muzani Radhiyallahu ‘anhu: (“Bahwasanya terkadang timbul perasaan yang kurang baik dalam hati”) yakni sesuatu yang membuat kalut pikiran dan perasaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam (“dan aku membaca istighfar (mohon ampun) kepada Allah seratus kali dalam sehari”) kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam mengucapkan istighfar (astaghfirullah) dalam sehari sebanyak seratus kali.

Perhatikan perangai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam diatas, padahal Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengampuni dosa-dosa beliau Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam yang telah lalu dan yang akan datang, namun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam tetap beristighfar memohon ampun kepada Allah. Maka bagaimana dengan kita? dimana kita memiliki hati yang keras, bahkan mati dan tidak terlintas rasa kurang baik dalam hati serta pikiran ketika melakukan dosa-dosa dan pelanggaran. Dan sungguh engkau akan dapati manusia sangat sedikit untuk menaruh perhatian dalam masalah ini. Oleh karena itu sudah semestinya bagi manusia meneladani perangai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam yang mulia, yakni dengan banyak beristighfar sebagaimana yang dinyatakan Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, “Kami menghitung Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam membaca :

“Robbighfirlii watub ‘alaiyya innaka antat tawwaaburrohiim” (Ya Tuhan, ampunilah aku dan terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang) ..sebanyak seratus kali dalam satu majlis”. (HR. Abu Dawud & At Tirmidzi)

Demikian yang diamalkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam, dan itu merupakan suatu kenikmatan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas hamba-Nya ketika si hamba terpedaya untuk berbuat dosa dan kemudian beristighfar memohon ampun kepada Allah.

“Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan menghilangkan kalian dari muka bumi dan Allah akan mendatangkan suatu kaum lain yang berbuat dosa, lalu beristighfar (memohon ampun) kepada Allah Ta’ala. Dan Allah mengampuni mereka”. (HR. Muslim)

Riwayat diatas memberikan motivasi bagi manusia, agar mau bersungguh-sungguh dalam beristighfar dan memperbanyaknya. Karena dengan sebab itu manusia dapat mencapai derajat orang-orang yang suka beristighfar kepada Allah ‘Azza Wa Jalla. Sebagaimana yang dinyatakan Abu Dawud dalam Sunan-nya:

“Barangsiapa membiasakan beristighfar, maka Allah melapangkan kesempitannya dan memudahkan segala kesulitannya dan memberi rizki kepadanya dari arah yang tiada disangka-sangka”.

(Barangsiapa membiasakan beristighfar) yakni dalam keadaan terus-menerus beristighfar dan memperbanyaknya, maka akan menjadi sebab untuk melapangkan kesempitan dalam hidupnya dan memudahkan segala kesulitannya serta memberi rizki kepadanya dari arah yang tiada disangka-sangka.

Hadits-hadits yang berkenaan dengan keutamaan Istighfar dan pujian serta motivasi bagi pelakunya sangatlah banyak. Maka wajib atasmu wahai saudaraku untuk memperbanyak istighfar. Yang paling banyak diucapkan: “Allahummaghghfirli (Ya Allah ampunilah aku), Allahummarhamni (Ya Allah rahmatilah aku), Astaghfirullaaha wa atuubu ‘ilaih (Aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya) dan lafadz-lafadz yang semisalnya. Semoga pada hari kiamat kelak engkau berjumpa dengan Allah dalam keadaan dijawab permohonanmu, dan Allah mengampunimu. Wallahul muwaffiq.

Sumber :
Syaikh Muhammad Bin Shalih Al 'Utsaimin Rahimahullaah
Syarh Riyadhus Shalihin, Hal. 559 - 560