REKENING DONASI MOSSDEF SYSTEM : BANK MU'AMALAT CABANG YOGYAKARTA NOMOR 0117546129 A/N NUGROHO AGUNG WIBOWO atau BANK BRI SYARIAH KCP JOGJA A DAHLAN A/N NUGROHO AGUNG WIBOWO NOREK. 1002252771.
  • Mossdef System adalah kependekan dari Moslem Self-Defence System atau juga bisa disebut dengan Moslem Street Fighting merupakan sebuah komunitas sistem pertahanan diri, pengembangan diri, pembinaan leadership dan pembinaan organisasi. [...]

  • Sebuah sistem pertahanan diri yang mudah di duplikasi, praktis, cepat, efektif dan fleksibel yang merupakan kombinasi dari teknik-teknik beladiri lainnya seperti Krav Maga, Haganah System, Systema SpatNaz, Soko Combat System, Tapak Suci, Jujutsu, Wing Chun, Sambo, Ninjitsu, Aikido, Tinju, Karate, Judo, kempo dan Thai boxing. Tetapi yang diutamakan dalam Mossdef System adalah kesederhanaan dalam menyerang namun membentuk sebuah pertarungan yang sangat efektif. [...]

  • Mossdef System merupakan sebuah sistem pertahanan diri yang diajarkan untuk kaum muslimin baik pria maupun wanita untuk menghadapi berbagai bentuk konfrontasi, aksi premanisme dan aksi tindak kejahatan di sekitar kita. [...]

  • Mossdef System memusatkan pada pelatihan-pelatihan teknik yang berlaku di kehidupan nyata, yaitu kehidupan yang penuh dengan konfrontasi, kekerasan premanisme dan tindak kejahatan, maka dari itu di dalam Mossdef System tidak ada komite dan aturan dalam menerapkan teknik-teknik Mossdef System di lapangan. [...]

Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Januari 2011

Posted by Nugroho Agung Wibowo On 14.35 0 komentar

Keyakinan Adanya Makhluk Allah Yang Mengetahui Hal Ghaib


Menyakini adanya makhluk Allah yang mengetahui perkara-perkara ghaib termasuk salah satu dari bentuk-bentuk kemusyrikan. Karena salah satu dari aqidah Ahlu Sunnah wal Jamaah adalah menyakini bahwa tidak ada satupun dari mahkluk Allah yang ada di langit (seperti malaikat) ataupun di bumi (seperti Nabi-Nabi dan manusia dan Jin) yang mengetahui hal ghaib.

Di antara dalil-dalil yang menunjukkan keyakinan Ahlu Sunnah ini adalah sebagai berikut :

1) Secara Umum Tidak Ada Satu Makhluk pun Yang Mengetahui Hal Ghaib.

Dalil-dalil yang menunjukkan secara umum tidak adanya satu makhluk pun yang mengetahui hal-hal ghaib. Seperti firman Allah dalam Surat Hud :

"Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya. Maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan." (Hud : 123)

Dan firman Allah dalam surat Al-Jin :

"(Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib. Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu." (Al-Jin : 26)

2) Malaikat Tidak Mengetahui Hal Yang Ghaib.

Para malaikat, walaupun mereka makhluk Allah yang paling terdekat dengan-Nya juga tidak mengetahui hal yang ghaib, kecuali terhadap masalah-masalah yang Allah beritahukan kepada mereka. Di antara dalil-dalilnya adalah firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 32 :

"Mereka menjawab : Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkau-lah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (Al-Baqarah : 32)

Dan firman Allah Ta'ala dalam surat As-Saba' ayat 23 :

"Dan tiadalah berguna syafa'at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah di ijinkan-Nya memperoleh syafa'at itu. Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata : Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu ? Mereka menjawab : (perkataan) yang benar. Dan Dia-lah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar." (As-Saba' : 23)

Dalam ayat ini di ceritakan bahwa malaikat bertanya-tanya tentang apa yang baru dikatakan oleh Rabb nya. Ini menunjukkan kalau malaikat pun tidak mengetahui yang ghaib.

3) Rasulullah Serta Para Nabi Tidak Mengetahui Tentang Hal Ghaib.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam serta para Nabi dan Rasul tidak ada satupun dari mereka yang mengetahui hal ghaib, kecuali perkara-perkara ghaib yang telah Allah beritahukan kepadanya.

Adapun apa yang dikecualikan oleh Allah setelah ayat 26 dalam surat Al-Jin di atas adalah tidak mutlak. Ketika Allah mengatakan "kecuali Rasul yang diridlai", artinya kecuali Rasul yang diberitahu sebagian tentang hal-hal ghaib. Adapun yang tidak diberitahukan oleh Allah kepadanya, Rasul pun tidak mengetahuinya. Dengan demikian, Rasulullah tidak mengetahui hal yang ghaib secara mutlak, yang mengetahui hal-hal ghaib secara keseluruhan dan mutlak hanyalah Allah. Tidak ada satu makhluk pun yang mengetahuinya. Allah berfirman memerintahkan kepada Nabinya untuk menyatakan bahwa dirinya tidak mengetahui hal yang ghaib :

"Katakanlah : Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudlaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak ditimpa kemudlaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman." (Al-A'raf : 188)

Beliau hanya mengetahui apa-apa yang diberikan oleh Allah dalam wahyu-Nya sebagaimana apa yang Allah katakan dalam firman-Nya :

"Katakanlah : Aku tidak mengatakan kepadamu bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengetahui kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah : Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat ?. Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya) ?" (Al-An'am : 50)

Demikian pula ketika Allah Ta'ala berfirman menceritakan tentang ucapan Nabi Nuh alaihis sallam kepada kaumnya, juga meniadakan dari dirinya ilmu ghaib :

"Dan aku tidak mengatakan kepada kamu bahwa aku mempunyai gudang-gudang rezeki dan kekayaan dari Allah, dan tidak mengatakan bahwa aku mengetahui hal yang ghaib. Dan tidak (pula) aku mengatakan bahwa sesungguhnya aku adalah malaikat, dan tidak juga aku mengatakan kepada orang-orang yang yang dipandang hina oleh penglihatanmu; (Sekali-kali Allah tidak akan mendatangkan kebaikan kepada mereka). Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka, sesungguhnya aku kalau begitu benar-benar termasuk orang-orang yang dhalim." (Hud : 31)

4) Jenis Jin pun Tidak Mengetahui Hal Ghaib.

Bahkan makhluk dari jenis Jin pun tidak mengetahui hak yang ghaib. Ini sebagai bantahan langsung dari Allah kepada para dukun-dukun dan yang sejenisnya yang mengaku mengetahui hal ghaib dari para Jin.

Allah berfirman tentang Jin-Jin yang merupakan anak buah Nabi Sulaiman pun tidak mengetahui hal-hal ghaib :

"Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala itu telah tersungkur. Tahulah Jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan." (Saba' : 14)

5) Kahin (Paranormal/Tukang Prediksi), Ahli Nujum (Tukang Meramal Dengan Zodiak) dan Musya'widzin (Tukang Sihir) Tidak Mengetahui Hal Ghaib.

Kalau kita sudah mengetahui bahwa malaikat-malaikat dan Nabi-Nabi kemudian Jin-Jin tidak ada yang mengetahui perkara ghaib, apalagi para kahin (paranormal/tukang prediksi), dukun-dukun, ahli nujum (tukang meramal dengan zodiak), tukang sihir dan lain-lain.

Berikut ini firman Allah Ta'ala yang menerangkan bahwa mereka tidak mengetahui hal ghaib :
Firman Allah Ta'ala :
"Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib." (Ali Imran : 179)

Firman Allah Ta'ala :
"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri. Dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (lauh mahfudz)." (Al-An'am : 59)

Firman Allah Ta'ala :
"Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nyalah dikembalikan semua urusan. Maka sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan." (Hud : 123)

Ayat-ayat ini semuanya mengajak bicara orang kedua dengan lafadz "kamu tidak mengetahui", atau "tidak memperlihatkan kepadamu" dan seterusnya. Ini menunjukkan kalau semua manusia tidak mengetahui hal yang ghaib termasuk paranormal, tukang prediksi, dukun, tukang ramal melalui zodiak, tukang sihir dan yang sejenisnya.

Bahkan manusia itu sendiri tidak mengetahui berapa lamanya ia tidur, sebagaimana yang Allah kisahkan tentang ashabul kahfi yang tidur dalam gua selama 309 tahun :

"Katakanlah : ((Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua), kepunyaan-Nya-lah semua yang ghaib (tersembunyi) di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya, tak ada seorang pelindung pun bagi mereka selain daripada-Nya, dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan))." (Al-Kahfi : 26)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda berkaitan dengan masalah di atas :

"Dari Abdullah bin Umar radliyallahu 'anhuma berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : Kunci-kunci keghaiban ada lima. Tiada yang mngetahui kelimanya kecuali Allah. Tiada seorangpun yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari kecuali Allah, tiada seorang pun yang mengetahui apa yang dalam rahim kecuali Allah, dan tiada seorang pun yang mngetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati, tiada seorang pun yang mengetahui kapan datangnya hujan kecuali Allah dan tiada seorang pun yang mengetahui kapan datangnya hari kiamat kecuali Allah." (Telah mengeluarkan hadits ini Al-Bukhari dan Imam Ahmad dengan sanad yang Shahih)

Maka hendaknya kita mengambil pelajaran dan menyampaikan kepada orang yang belum mengetahui bahwa kita tidak perlu datang ke dukun-dukun, tukang prediksi, tukang ramal, tukang sihir, orang pintar (paranormal) atau tukang ramal melalui zodiak dan yang sejenisnya dengan tujuan untuk mengetahui perkara-perkara ghaib, seperti siapa jodohnya, dari mana rezekinya, kapan ajalnya, apa yang akan terjadi esok hari dan seterusnya. Karena dua sebab :

Pertama, perbuatan itu sia-sia karena sesungguhnya kita lebih menyakini bahwa tidak ada yang mengetahui hal-hal ghaib kecuali Allah.

Kedua, kita telah berbuat suatu kesyirikan karena menyakini adanya 'alimul ghaibi atau yang mengetahui keghaiban selain Allah, yang berarti menyamakan makhluk dengan khaliknya dalam masalah ilmu ghaib.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengancam :
"Barangsiapa yang mendatangi dukun-dukun, kemudian mempercayainya maka ia telah kafir dengan apa yang telah diturunkan pada Muhammad." (HR. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, Ad-Darimi, Ibnu Majah dan hadits ini shahih)

Demikianlah semoga Allah memberikan hidayah kepada kita dan seluruh kaum muslimin kepada jalan yang lurus dan selamat. Selamat dari kesyirikan dan kesesatan di dunia dan selamat dari adzab Allah di akhirat.

Wallahu a'lamu bish-shawwaab.

Sabtu, 27 Maret 2010

Posted by Nugroho Agung Wibowo On 10.32 1 komentar

Garis Antara Wali Allah & Wali Syaithan


Segala keanehan pada seseorang itu sebabnya bisa jadi karena ketha’atan orang itu kepada Allah dan RasulNya, atau bisa jadi pula karena ketha’atannya kepada syaithan. Bila keanehan pada seseorang itu muncul karena ketha’atannya menjalankan Kitabullah (Al Qur’an) dan Sunnah RasulNya (Al Hadits), maka keanehan itu dinamakan Karomah sebagai anugerah dari Allah Ta’ala. Tetapi bila berbagai keanehan pada seseorang itu muncul dalam keadaan orang tersebut tenggelam dalam berbagai amalan bid’ah, syirik, dan berbagai bentuk amalan kema’siatan kepada Allah, maka semua keanehan itu dinamakan sihir karena dibantu oleh syaithan. Hal ini telah dinyatakan oleh Allah Ta’ala dan RasulNya dalam Al Qur’an dan Al Hadits sebagai berikut :

“Ketahuilah, sesungguhnya para wali Allah itu adalah mereka yang tidak dijangkiti oleh rasa takut dan tidak pula diganggu oleh rasa sedih. Yaitu mereka yang beriman dan bertaqwa. Bagi mereka berita gembira di dunia dan di akherat. Tidak akan ada perubahan pada ketentuan Allah. Yang demikian itu adalah keberhasilan yang besar”. (S. Yunus 62 – 64)

Al Imam Abu Ja’far Ibnu Jarir At Thabari rahimahullah meriwayatkan dalam tafsir beliau sebuah hadits Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wasallam yang menyatakan :

“Sesungguhnya dari hamba-hamba Allah, ada orang-orang yang para Nabi dan para Syuhada’ (yakni orang-orang yang terbunuh dalam membela agama Allah – pent)”. Para Shahabat beliau bertanya : “Siapakah mereka wahai Rasulullah, barang kali kami bila mengenal mereka, kami akan mencintai mereka ?”. Maka Rasulullahpun menjawab : “Mereka itu adalah kaum yang saling menyinta di jalan Allah bukan karena harta dan bukan pula karena nasab turunan. Wajah mereka dari cahaya dan mereka ditempatkan di atas panggung yang diciptakan dari cahaya. Mereka itu tidak merasa takut ketika keumuman orang takut dan mereka tidak bersedih ketika keumuman orang bersedih” , kemudian beliau membacakan (ayat 62 – 64 S. Yunus).

Bila pada orang-orang yang demikian ini terjadi kejadian-kejadian aneh, apakah dalam bentuk mampu berkomunikasi dari jarak yang sangat jauh ataukah berbagai keanehan lainnya, maka yang demikian itu dinamakan Karamah sebagai anugerah, pertolongan dan perlindungan dari Allah kepadanya. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Aalihi Wasallam sebagai berikut :

“Takutlah kamu dari firasatnya orang Mu’min, karena dia melihat dengan cahaya Allah”. (HR. Abu Nu’aim Al Asfahani dalam kitab Al Hilyah jilid 6 halaman 118, juga diriwayatkan oleh At Thabrani dalam Al Mu’jamul Kabir jilid 8 halaman 102 hadits ke 7497 dari Abi Umamah radhiyallahu anhu. Al Imam Ibnu Hajar Al Haitsami dalam kitabnya Majma’uz Zawa’id jilid 10 halaman 268 menilai, bahwa hadits ini sanadnya hasan).

Juga telah diberitakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Aalihi Wasallam sebagai berikut :

“Tidak henti-hentinya hambaKu mendekat kepadaKu dengan mengamalkan ibadah-ibadah sunnah, sehingga Aku mencintainya. Maka bila Aku telah mencintainya, maka Aku yang menjadi pendengarannya ketika dia mendengar. Dan Aku yang menjadi penglihatannya ketika dia melihat, dan Aku yang menjadi tangannya ketika dia menggunakan tangannya, dan Aku yang menjadi kakinya ketika dia berjalan, maka dengan Aku dia mendengar dan dengan Aku dia melihat, dengan Aku dia menggerakkan tangannya, dan dengan Aku dia berjalan. Dan bila dia meminta kepadaKu, maka Aku akan memberinya. Bila dia meminta perlindungan kepadaKu niscaya Akupun akan melindunginya. Dan Aku tidak pernah ragu dalam suatu perkara yang Aku lakukan, seperti keraguanKu ketika Aku mencabut nyawa hambaKu yang Mu’min ini. Dia tidak suka mati, dan Aku tidak suka menyakitinya, padahal mati itu adalah suatu perkara yang harus terjadi padanya”. (HR Bukhari dan lainnya).

Adapun berbagai keanehan pada orang yang menyimpang dari Kitabullah dan Sunnah RasulNya, maka yang demikian itu adalah bantuan setan sebagaimana hal ini dinyatakan oleh Allah Ta’ala dalam firmanNya sebagai berikut :

“Dan setan itu hanyalah menakut-nakuti para pengikutnya. Oleh karena itu, janganlah kamu takut kepada para setan itu. Akan tetapi kalian hendaknya takut kepadaKu saja bila kamu memang orang-orang yang beriman”. S. Al Imran 175.

Juga Allah menegaskan betapa setan itu disamping menakut-nakut para pengikutnya, dia selalu membimbing para pengikutnya dengan berbagai ilmu yang diilhamkan kepadanya :

“Dan sesungguhnya setan itu mengilhamkan kepada para pengikutnya untuk mendebat kalian. Dan bila kalian menta’ati para pengikut setan itu, niscaya jadilah kalian sebagai orang-orang yang musyrik (yakni berbuat syirik)”. S. Al An’am 121.

Jadi menilai seseorang dalam hal munculnya berbagai keanehan pada dirinya itu, ialah dengan menilai sejauh mana penampilan dhahir dia dalam menjalankan Al Qur’an dan As Sunnah. Maka dengan demikian, barulah diketahui bahwa dia sebagai wali Allah (yakni kekasih Allah) atau dia itu wali setan (yakni kekasih setan).


Sumber : http://www.alghuroba.org/51

Posted by Nugroho Agung Wibowo On 10.28 0 komentar

Kekuatan Supranatural Dalam Tinjauan Syariah


Perlu diketahui bahwa penilaian sebagian besar masyarakat itu tidak bisa dijadikan dasar penilaian bahwa suatu perkara itu benar atau salah. Apalagi dalam perkara yang sesungguhnya adalah perkara ghaib (tidak bisa dicapai kepastiannya oleh akal atau panca indera). Karena pendapat sebagian besar masyarakat itu cenderung salah dan sesat. Hal ini telah diperingatkan oleh Allah Ta`ala dalam firman-Nya:

“Dan kalau kamu mentaati mayoritas / kebanyakan orang di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sesungguhnya mereka itu hanya mengikuti dugaan belaka dan mereka itu hanya mengira-ngira.” ( Al-An`am : 116)

Adapun apa yang dikatakan dengan kekuatan supranatural (kekuatan ghaib) yang ada pada seorang Ustadz, apalagi dikatakan bahwa “kelebihan” tampak sejak dia lahir, semua itu perlu kepastian ilmiah dan tidak cukup hanya dengan berita dari keumuman masyarakat. Sedangkan kepastian ilmiah dalam perkar gaib hanya bisa dicapai melalui dalil-dalil yang ada dalam Al-Qur'an dan al-hadits. Sedangkan kekuatan gaib itu dalam Al-Qur'an dan Al-Hadits hanya ada dua macam:

a). Kekuatan gaib dari Allah Ta'ala. Kekuatan ini hanya diberikan kepada para wali-wali Allah atau para kekasih-Nya. Kekuatan yang demikian ini dinamakan karamah. Kekuatan gaib dalam bentuk karamah ini diberikan oleh Allah kepada para kekasih-Nya dalam saat-saat tertentu yang dikehendaki-Nya, bahkan kadang-kadang para wali Allah itu tidak menyadari adanya karamah pada dirinya. Karena memang kekuatan gaib yang muncul dalam bentuk berbagai keanehan di luar rencananya, tetapi semata-semata dalam rencana dan kehendak Allah Ta'ala.

b). Kekuatan gaib dari setan. Kekuatan gaib ini hanya pada orang-orang yang berbuat kemaksiatan, kebid'ahan dan kemusyrikan. Orang-orang yang mempunyai kekuatan demikian, dengan rencana dan keinginannya terus-menerus menampakkan berbagai keanehan itu untuk menipu manusia.

(lihat lebih lanjut uraian lengkap masalah ini dalam kitab Al-Furqan Baina Auliya'ir Rahman wa Auliya'is Syaithan , Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Juga dalam Majmu' Fatawa beliau jilid 11 hal. 156 – 310)

Adapun kemampuan mengobati orang yang stress, ini tidak memerlukan kekuatan batin. Tetapi keahlian dan pengalaman, ketekunan serta kesabaran sebagai kemampuan utama untuk membantu upaya penyembuhan orang yang stress. Sedangkan kesembuhan itu datangnya dari Allah Ta'ala semata. Upaya penyembuhan itu adalah perkara yang diperintahkan oleh agama. Hanya saja upaya penyembuhan itu haruslah dilakukan oleh orang yang telah terbukti mempunyai kemampuan untuk itu. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah yang Maha Agung dan Maha Mulia di mana saja menciptakan penyakit, Dia menciptakan pula obat penawarnya. Oleh karena itu berobatlah kalian.” (HR. Ahmad dalam Musnad nya jilid 3 hal. 156 dari Anas bin Malik radliyallahu `anhu . Al-Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah menyatakan: “Sanad hadits ini baik.” (Lihat kitab beliau Ghayatul Maram hadits ke 292)

Dalam sabdanya, Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk berobat sebagai upaya mendapatkan kesembuhan dari Allah Ta`ala.

Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam juga bersabda:

“Apabila amanah telah ditelantarkan, maka tunggu saja datangnya hari kiamat.” Ditanyakan kepada beliau: “Bagaimanakah amanah itu ditelantarkan?” beliau menjawab: “Apabila diserahkannya suatu perkara bukan kepada ahlinya, maka tunggulah datangnya kiamat.” (HR. Bukhari dalam Shahih nya Kitabul `Ilmi bab kedua, dari Abu Hurairah radliyallahu `anhu ).

Dalam sabdanya di hadits ini, Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam memperingatkan bahwa segala sesuatu itu bila diserahkan kepada yang bukan ahlinya, akan menjadi malapetaka bagi umat ini. Termasuk pula dalam perkara pengobatan terhadap orang yang stress atau penyakit lainnya. Dan keahlian untuk mengobati orang sakit itu didapatkan melalui belajar tentangnya, tidaklah melalui kejadian tiba-tiba kemudian menjadi ahli. Sangat dikhawatirkan, keahlian yang demikian ini didapatkan melalui jalan yang tidak syar'i (yakni tidak sesuai dengan tuntunan syari'ah). Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:

“Ilmu itu dicapai hanyalah dengan belajar dan sikap tidak tergesa-gesa dalam segala perkara itu didapatkan dengan berlatih untuk bersikap demikian. Dan barangsiapa selalu mencari kebaikan, dia akan diberi kebaikan. Dan barangsiapa yang selalu menjaga diri dari kejelekan, dia akan dilindungi daripadanya.' (HR. Ibnu Asakir dalam Tarikh nya dan Ad-Daruquthni dalam Al-Afrad nya dari Abu Hurairah dan Al-Khatib Al-Baghdadi dalam Tarikh nya dari Abi Darda'. Demikianlah dinukil hadits ini dan diterangkan oleh As-Suyuthi dalam Al-Jami'ul Kabir ( Jam'ul Jawami' ) jilid 2 hal. 419 hadits ke 6363. Juga dinukil oleh Al-`Allamah Ala'uddin Al-Muttaqi bin Hasanuddin Al-Hindi dalam Kanzul Ummal jilid 10 hal. 239 hadits ke 29266)

Al-Hindi juga membawakan riwayat At-Thabrani dari Muawiyah bin Abi Sufyan dengan lafadh:

“Wahai sekalian manusia, ilmu itu dicapai hanyalah dengan belajar. Dan fiqih (pengertian) itu hanya bisa dicapai dengan belajar fiqih. Dan barangsiapa yang Allah inginkan kebaikannya, Allah jadikan dia mengerti tentang agama-Nya. Dan yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya hanyalah mereka yang berilmu agama.” ( Kanzul Ummal jilid 10 hal. 239 hadits 29265)

Dari hadits-hadits ini ditegaskan kepada kita bahwa ilmu itu didapat melalui proses belajar dan bukan dengan pemberian ilmu yang tiba-tiba secara ghaib. Jadi kalau ada Ustadz yang diberitakan atau mengaku dapat ilmu mengobati orang sakit atau ilmu-ilmu lainnya tanpa proses belajar sebagaimana mestinya, maka anda harus waspada kepadanya, bisa jadi ilmunya itu dari para setan dari kalangan jin dan yang demikian ini jelas dilarang keras oleh agama. Dan berobat kepada orang yang demikian ini haram dan bila mempercayai berita-berita dia yang ghaib, amalan ibadahnya tidak diterima oleh Allah selama empat puluh hari. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam :

“Barangsiapa mendatangi orang yang dianggap punya ilmu ghaib kemudian menanyakan kepadanya tentang sesuatu yang gaib kemudian membenarkannya, tidak akan diterima shalatnya empat puluh hari.” (HR. Muslim dalam Kitab Shahih nya)

'Arraf yang disebut di hadits ini menurut keterangan Ibnul Atsir dalam kitab beliau An-Nihayah fi Gharibil Hadits wal Atsar jilid 3 hal. 218 menerangkan: “ `Arraf yang disebut di hadits ini adalah tukang nujum yang mengaku punya ilmu ghaib.”

Jadi Ustadz yang diberitakan kebanyakan orang punya ilmu ghaib atau bahkan mengaku demikian itu sangat dikhawatirkan termasuk ' arraf yang akan merusak nilai ibadah kita.

Adapun tentang orang yang sakit jiwa, dia mestinya diobati dengan dibacakan ayat-ayat Al-Qur'an padanya, serta berusaha pula membawanya ke dokter ahli jiwa untuk mendapatkan pengobatan yang cukup. Ini adalah dalam rangka menyerahkan urusan tersebut kepada ahlinya.

Kemudian, berkenaan dengan apa yang disebut sebagai ruh yang gentayangan yang kadang menampakkan dirinya, sesungguhnya makhluk yang berbuat demikian ini adalah para jin jahat yang juga dinamakan setan.

Makhluk tersebut terus-menerus menakut-nakuti manusia dengan berbagai penampilan dan tingkah laku. Allah Ta'ala memperingatkan:

“Hanyalah setan itu menakut-nakuti kalian agar kalian takut kepada para kaki tangannya. Maka dari itu, janganlah kalian takut kepada mereka dan takutlah hanya kepada-Ku kalau kalian memang benar-benar sebagai orang-orang yang beriman.” ( Ali Imran : 175)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menerangkan bahwa jin itu bisa menyerupakan diri dalam bentuk orang yang sudah mati sehingga orang-orang yang tidak mengerti akan menyangka bahwa si mati itu datang lagi. Ini dilakukan oleh setan itu adalah dalam rangka mempermainkan orang-orang yang bodoh dengan berbagai kedustaan. Padahal orang yang telah mati, ruh dan jasadnya tidak akan kembali ke dunia selama-lamanya. (Lihat Daqaiqut Tafsir juz 3 hal. 135 – 146)

Tentang apakah jin jahat itu bisa mengganggu manusia sehingga membuatnya sakit, gila, atau bahkan membunuhnya, semua itu bisa terjadi dengan ijin Allah Ta'ala. Cara jin mengganggu manusia sehingga berakibat sakit, gila atau membunuhnya ialah antara lain dengan dua cara:

1). Jin jahat itu menyelinap pada tubuh manusia sehingga orang itu pun kesurupan. Dalam keadaan tidak sadarkan diri seperti itu, orang yang kesurupan itu menceburkan dirinya ke sumur dan menyebabkan kematiannya. Demikian antara lain cara jin jahat mengganggu atau membunuh manusia. Dengan cara ini pula jin jahat menyakiti atau menjadi sebab orang rusak akalnya sampai gila. Yang demikian itu telah terjadi di masa Rasulullah masih hidup sebagaimana diceritakan dalam riwayat berikut:

Dari Ya'la bin Murrah Ats-Tsaqafi, dia menceritakan bahwa seorang wanita datang menghadap Nabi shallallahu `alaihi wa sallam . Dia datang dengan membawa anaknya yang masih kecil dan terkena penyakit gila karena kesurupan. Maka Nabi menyatakan kepada anak kecil itu: “Keluarlah engkau musuh Allah! (Wahai jin yang ada pada anak ini), aku ini adalah utusan Allah.” Berkata Al-Manhal: Maka sembuhlah anak itu dari penyakit gilanya sehingga dia menghadiahkan kepada Nabi dua ekor kambing kibas dan sepotong susu kering dan samin. Berkata Ya'la: Maka Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam menyatakan: “Ambil susu kering dan saminnya, ambil pula seekor kambingnya dan kembalikan kepadanya seekor yang lainnya.” (HR. Ahmad dalam Musnad nya jilid 4 hal. 171)

Riwayat yang semacam ini terdapat pula dalam Sunan Ibnu Majah jilid 2 hal. 1174 hadits ke 3548 dari Utsman bin Abil `Ash.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menerangkan: “Jin itu merasuki tubuh manusia karena tiga sebab:

a). Karena jin itu senang dengan orang tersebut sehingga masuk pada tubuh orang itu untuk bersenang-senang dengannya. Yang demikian ini paling ringan akibatnya dan paling mudah mengatasinya.

b). Karena manusia mengganggu jin itu ketika buang air kecil (kencing) mengenai mereka, atau karena menyiramkan air panas yang mengenai mereka pula, atau membunuh sebagian dari mereka, atau yang lain-lain dari bentuk-bentuk gangguan manusia kepada jin. Kesurupan yang demikian ini paling berat, dan banyak orang yang kesurupan dengan sebab ini terbunuh karenanya.

c). karena jin yang iseng (main-main dan tidak ada sebab apa-apa) sebagaimana anak manusia yang kurang akal mempermainkan orang yang dalam perjalanan jauh.” ( Daqaiqut Tafsir juz 3 hal. 137)

Dengan kenyataan demikian maka kita harus pandai-pandai melindungi diri dari gangguan jin dan satu-satunya perlindungan bagi kita adalah dzikrullah serta wirid-wirid pagi dan petang sebagaimana yang diajarkan Nabi kita.

2). Jin jahat menyerupakan dirinya sebagaimana binatang buas seperti ular dan sejenisnya. Yang demikian ini telah diberitakan oleh Nabi shallallahu `alaihi wa sallam dalam sabda beliau berikut ini:

“Sesungguhnya rumah-rumah penduduk ini ada juga penghuninya dari kalangan jin. Maka bila kalian melihat daripadanya dalam bentuk ular, maka beri peringatan tiga kali. Maka bila dia pergi dengan peringatan itu, biarkanlah dia. Tetapi bila tidak pergi, maka bunuhlah dia, karena dia itu jin kafir.” (HR. Muslim dalam Shahih nya Kitabul Hayawan bab Qatlul Hayyat wa Ghairiha dari Abi Said Al-Khudri hadits no. 5801)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menerangkan: Berkata para ulama: Maknanya ialah bahwa bila ular itu tidak pergi setelah diperingatkan tiga kali, kalian mendapatkan kepastian bahwa ia bukanlah jin penghuni rumahmu dan bukan jin Islam, bahkan ia adalah setan. Maka tidak ada halangan apa-apa bagi kalian dari agama. Oleh karena itu bunuhlah ia. Dan Allah tidak akan memberi peluang baginya untuk membalas kalian. Beda dengan keadaan jin penghuni rumah dan jin yang telah masuk Islam bila diperlakukan demikian. Wallahu a`lam .” ( Syarah Shahih Muslim juz 14 hal. 454).

Demikianlah dua cara jin jahat mengganggu manusia, yaitu dengan menyelinap pada tubuh manusia itu dan yang kedua dengan menyerupakan dirinya sebagai ular dan binatang berbahaya lainnya. Dan kita telah mendapatkan bimbingan dari agama untuk menghadapi kedua model gangguan jin jahat itu.

Adapun hukum bermain jelangkung yaitu menghadirkan jin dengan cara tertentu dan kemudian menanyainya berbagai masalah, maka yang demikian ini amat berbahaya bagi diri anda. Karena jin yang anda tanyai dalam apa yang dinamakan jelangkung itu tidak bisa dipastikan secara ilmiah apakah dia sebagai jin yang pantas dipercaya atau bukan. Dan anda bisa jadi diberi kabar dusta dan menyesatkan. Maka tinggalkan permainan yang mengandung resiko kesesatan dan kedustaan itu. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam menasehati kita:

Adalah keindahan Islam seseorang ialah bila dia meninggalkan apa-apa yang tidak berguna baginya.” (HR. Tirmidzi dalam Sunan nya)


Sumber : http://www.alghuroba.org/52

Senin, 01 Februari 2010

Posted by Nugroho Agung Wibowo On 10.59 0 komentar

Klasifikasi Syirik


Syirik terbagi menjadi dua jenis :

Jenis yang pertama ialah Syirik Akbar (syirik besar). Konsekuensi dari perbuatan syirik besar ini dapat mengeluarkan seseorang dari agamanya, dan jika pelakunya mati dan belum sempat bertaubat daripadanya, maka kekekalan baginya di neraka.

Syirik besar ialah memalingkan niat dan tujuan dalam segala bentuk peribadatan kepada selain Allah. Seperti berdoa, bertaqorrub (mendekatkan diri), penyembelihan serta nazar yang diniatkan dan ditujukan untuk selain Allah; dalam wujud kuburan-kuburan, para jin dan para syaithon. Demikian juga dalam hal ini ialah takut dari jin dan para syaithan, dengan anggapan bahwa mereka ini secara mutlak dapat mematikan atau mendatangkan kemadharatan dan menjadikan diri seseorang sakit karenanya. Juga termasuk berharap kepada pihak atau oknum selain Allah dalam perkara yang tidak mempunyai kemampuan dan kekuasaan atasnya kecuali Allah; seperti minta dipenuhi kebutuhannya atau minta dihindari dari segala kesusahan dan kesulitan hidup. Sebagaimana yang kerap terjadi dulu dan sekarang yaitu banyak orang mendatangi kuburan-kuburan para wali atau orang-orang sholih dalam rangka berharap agar kiranya dapat terpenuhi segala kebutuhan hidupnya dan menghindarkannya dari segala bentuk kesusahan dan kesulitan. Allah Ta'ala berfirman :

“Dan mereka menyembah kepada selain Allah yang tidak dapat mendatangkan kemudhorotan bagi mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa'at kami disisi Allah ”. (Yunus: 18)

Jenis yang kedua ialah Syirik Ashghar (syirik kecil). Syirik model yang ke-dua ini tidaklah mengeluarkan pelakunya dari agamanya, akan tetapi berdampak pada ketauhidannya yang akan semakin terkikis dan menipis. Syirik kecil ini mempunyai peranan sebagai wasilah (perantara) yang mengantarkan seseorang kepada syirik besar.

Syirik kecil terbagi menjadi dua jenis:

Yang pertama, Syirik Dzahir (syirik yang tampak). Dikatakan dzahir (tampak) karena dapat terdeteksi oleh panca indera kita; seperti dalam bentuk lafadz pernyataan atau perbuatan-perbuatan. Realisasi dari bentuk lafadz pernyataan ialah seseorang bersumpah dengan nama selain Allah. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa 'ala aalihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang bersumpah dengan nama selain Allah, maka sungguh dia telah kufur atau berbuat syirik”. (HR. Tirmidzi dengan sanad yang hasan dan di shohihkan oleh Al Hakim)

Dan juga pernyataan seseorang yang menyatakan: “ Atas kehendak Allah dan kehendakmu ” (masya Allah wa syi'ta) , Rasulullaah Shallallahu 'alaihi wa 'ala aalihi wasallam ketika mendengar pernyataan itu berkata: “ Apakah engkau mau menjadikan aku sebagai tandingan-tandingan selain Allah! Katakan: “ Atas kehendak Allah saja ” (masya Allah wahdah) .

Juga pernyataan “Seandainya jika bukan karena Allah dan kamu ”; maka pernyataan yang benar ialah: “Atas kehendak Allah kemudian kehendak kamu”, atau “Seandainya jika bukan karena Allah kemudian karena kamu” . Karena kata kemudian menunjukkan urutan. Yakni menjadikan kehendak seorang hamba itu mengikuti kehendak Allah, sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

“Dan tidaklah kamu dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki oleh Allah, Tuhan semesta alam”. (At Takwir: 29)

Adapun kata “dan” dalam pernyataan diatas ( Atas kehendak Allah dan kehendakmu ) menunjukkan kesetaraan yakni bukan urutan; seperti pernyataan “ Kecuali Allah dan kamu ” atau “ Keberkahan dari Allah dan kamu ”.

Kemudian realisasi dari bentuk perbuatan ialah seperti seseorang memakai gelang atau benang dengan anggapan bahwa jika mengenakan kedua benda tersebut dapat terhindar dari segala malapetaka (bala') dan kerusakan, atau bahkan diyakini dapat menolaknya. Juga seperti menggantungkan jimat-jimat (tamimah) karena takut terkena “pandangan” (‘ain) yang dapat merusak dan semisalnya. Maka dalam hal ini, apabila seseorang mempunyai keyakinan bahwa benda-benda tersebut diatas sebagai sebab-sebab yang dapat menolak bala'; maka ini termasuk syirik kecil. Adapun jika diyakini bahwa benda-benda tersebut dapat menolak bala' dengan sendirinya (yakni bukan sebagai sebab) maka yang demikian ini termasuk syirik besar, karena sesungguhnya dia telah menggantungkan dirinya kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Jenis yang kedua dari syirik kecil ini ialah Syirik Khofiy (syirik yang tersembunyi). Seperti syirik dalam hal niat dan tujuan; contohnya perbuatan riya' (seseorang niat beribadah untuk Allah dan juga diperuntukkan untuk selain Allah yakni mempunyai niatan ingin show -unjuk diri atau pamer- sehingga menjadi perhatian orang banyak ketika menjalankan amalan-amalan ibadah), sum'ah (seseorang niat beribadah untuk Allah dan juga diperuntukkan untuk selain Allah yakni mempunyai niatan ingin didengar orang ketika menjalankan amalan-amalan ibadah). Sama halnya seperti orang yang berniat melakukan suatu amalan untuk Allah dan juga disertai niat untuk mendapatkan pujian dan sanjungan dari manusia; seperti mendramatisir sholatnya, dzikirnya dan bacaan qur'annya (tilawah), sehingga terkesan lebih bagus dan menarik perhatian banyak orang atau bersedekah dengan niatan mendapatkan pujian dan sanjungan handai taulan.

Perbuatan riya' semacam ini merupakan bentuk bercabangnya niat dalam melakukan suatu amalan, sehingga dengan sebab ini amalan yang telah dilakukannya menjadi gugur dan sia-sia belaka. Allah Ta'ala berfirman:

“Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhan-Nya, maka hendaknya ia beramal dengan amalan yang sholih dan jangan mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhan-nya”. (Al Kahfi: 110)

Rasulullaah ‘Alaihish sholaatu wassalam bersabda:

“ Yang paling aku takutkan atas kalian ialah syirik kecil ”. (para shahabat bertanya): “ Wahai Rasulullah apa yang dimaksud syirik kecil itu ”? (Rasulullaah ‘Alaihish sholaatu wassalam menjawab: “ Ar Riya' ”. (HR. Ahmad, Ath Thabraniy dan Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah)

Dan juga dalam hal ini termasuk seseorang beramal karena serakah (tamak) dengan dunia.. seperti dia beramal (mengajarkan ilmu syar'i atau berjihad) untuk Allah juga disertai niatan untuk memperoleh dunia, harta dan kekayaan. Rasulullaah Shallallahu 'alaihi wa 'ala aalihi wasallam bersabda:

“Sungguh celaka hamba dinar, celaka hamba dirham dan celaka hamba khomilah (pakaian kemegahan), jika diberi ia senang dan jika tidak diberi ia marah”. (HR. Al Bukhari)

Al Imam Ibnul Qoyyim berkata: “Syirik dalam hal niat dan tujuan bagai samudera tak bertepi dan sangat sedikit sekali orang yang selamat daripadanya”. Maka barangsiapa yang beramal dengan niat dan tujuan untuk selain wajah Allah dan juga menuntut pamrih dari seseorang, sungguh dia telah berbuat kesyirikan. Sedangkan Al Ikhlas maknanya ialah memurnikan niat beribadah kepada Allah dalam segenap perkataan, perbuatan, niat serta tujuan. Dan inilah yang dinamakan sikapHanif yakni monoloyalitas (kecenderungan total) kepada Allah dan apa-apa yang dicintai oleh Allah. Sikap hanif ini yang di usung nabiyullah Ibrahim ‘Alahissalaam, dan Allah memerintahkan segenap hambaNya untuk mempunyai mental hanif dengan mengikuti napak tilas nabiyullah Ibrahim ‘Alaihissalaam. Karena sesungguhnya Allah tidak akan menerima amalan hambaNya jika tidak didasari mental hanif tersebut, inilah hakikat syari'at Islam yang sesungguhnya. Sebagaimana Firman Allah Ta'ala:

“Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi”. (Al ‘Imron: 85)

Demikian gambaran agama Nabi Ibrahim ‘Alaihissalaam, maka barangsiapa yang membencinya; ketahuilah bahwa dia sebodoh-bodoh manusia. (Al Jawaabul Kaafi hal 115)

Berikut ringkasan pembahasan diatas, perbedaan antara syirik besar dan syirik kecil:

Syirik besar dapat mengeluarkan seseorang dari agamanya, sedangkan syirik kecil tidaklah mengeluarkan seseorang dari agamanya.

1. Syirik besar mengekalkan pelakunya dineraka jika dia mati dan belum sempat bertaubat daripadanya, namun syirik kecil tidaklah mengekalkan pelakunya dineraka.
2. Syirik besar dapat menggugurkan segenap amalan-amalan sholih yang pernah dilakukannya, adapun syirik kecil hanya menggugurkan amalan-amalan riya', sum'ah dan semisalnya.
3. Pelaku syirik besar boleh untuk ditumpahkan darahnya dan dirampas hartanya, sedangkan pelaku syirik kecil tidaklah demikian.

Kitabut Tauhid Hal. 9-10
Syaikh Sholih Bin Fawzan Al Fawzan Hafidzohullah

Posted by Nugroho Agung Wibowo On 10.50 0 komentar

Definisi Syirik


Syirik adalah menjadikan sekutu atau tandingan selain Allah Ta'ala dalam perkara rububiyahNya (meyakini bahwa Allah sebagai satu-satunya pihak yang mencipta, memberi rizki dan mengatur segala urusan, -red) dan uluhiyahNya (meyakini bahwa Allah sebagai satu-satunya pihak yang berhak disembah). Keumuman yang terjadi ditengah masyarakat kita ialah syirik dalam perkara uluhiyahNya; seperti berdoa kepada Allah dan bersamaan dengan itu juga berdoa kepada selainNya, atau memalingkan niat kepada sesuatu dalam melakukan peribadatan seperti penyembelihan, nazar, takut, berharap dan cinta. Perbuatan syirik ini merupakan dosa yang paling besar diantara dosa-dosa yang ada, dengan alasan dan sebab sebagai berikut:

Yang pertama, karena sesungguhnya dengan perbuatan syirik itu seorang hamba telah menyerupakan atau mensejajarkan Allah dengan makhluk dalam kekhususan uluhiyahNya. Maka barangsiapa yang berbuat kesyirikan berarti secara langsung maupun tidak, dia mempunyai anggapan bahwa Allah sejajar dengan makhlukNya. Dan yang demikian ini merupakan satu tindakan yang sangat dzalim dari berbagai kedzaliman yang ada. Allah Ta'ala berfirman:

"Sesungguhnya perbuatan syirik itu merupakan kedzaliman yang besar". (Luqman: 13)

Kedzaliman itu maknanya meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Maka barangsiapa yang beribadah kepada selain Allah berarti dia telah meletakkan ibadah bukan pada tempatnya yakni memalingkan peribadatan kepada pihak yang tidak berhak atasnya untuk disembah, sungguh hal ini merupakan puncak kedzaliman.

Kedua, Allah Ta'ala telah mengabarkan kepada kita bahwa Dia tidak akan mengampuni dosa syirik bagi orang yang belum sempat bertaubat atas perbuatannya. Allah Ta'ala berfirman:

"Sesungguhnya Allah tidak mengampuni perbuatan syirik itu dan Dia mengampuni perbuatan selain syirik bagi siapa yang dikehendakiNya". (An Nisa: 48)

Ketiga, Allah Subhanahu Wa Ta'ala juga telah mengabarkan kepada kita bahwa Dia mengharamkan surga atas orang yang berbuat kesyirikan (musyrik) dan baginya kekekalan di neraka jahannam. Allah Ta'ala berfirman:

"Sesungguhnya orang-orang yang mempersekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan surga atasnya, dan tempatnya adalah di neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun". (Al Ma'idah: 72)

Ke-empat, perbuatan syirik ini menjadi sebab gugurnya segenap amalan shalih yang pernah dilakukan. Allah Ta'ala berfirman:

"Seandainya mereka memepersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan". (Al An'am: 88)

Allah Ta'ala juga berfirman:

"Sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu (hai Muhammad) dan kepada (nabi-nabi) sebelummu, jika kamu mempersekutukan (Allah) niscaya akan gugurlah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi". (Az Zumar: 65)

Kelima, bahwa orang-orang yang berbuat syirik (musyrikin) halal darahnya untuk ditumpahkan dan halal hartanya untuk dirampas. Allah Ta'ala berfirman:

"Maka bunuhlah kaum musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka dan tangkaplah mereka, kepunglah mereka dan intailah mereka ditempat pengintaian". (At Tawbah: 5)

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa 'ala aalihi wasallam bersabda:

"Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka menyatakan Laa ilaaha illallah (tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah), maka apabila mereka telah menyatakannya; sungguh telah terjaga darah-darah mereka dan harta-harta mereka kecuali dengan haknya (yakni hak syahadat tersebut, -red)". (HR. Bukhari & Muslim)

Ke-enam, bahwa syirik merupakan dosa besar yang paling besar, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa 'ala aalihi wasallam bersabda:

"Maukah aku beritakan kepada kalian tentang dosa besar yang paling besar?” (jawab para shahabat): “Tentu yaa Rasulallah”, kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa 'ala aalihi wasallam menerangkan: “Yaitu berbuat syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua". (HR. Bukhari & Muslim)

Al 'Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Al Jawaabul Kaafi hal.109 beliau menyatakan: bahwa Allah Ta'ala telah mengabarkan kepada kita tentang tujuan penciptaan dan perintah; yaitu untuk mengenal nama-namaNya yang Maha Agung dan sifat-sifatNya yang Maha Mulia dan perintah hanya beribadah kepadaNya semata serta berlepas diri dari kesyirikan. Dengan demikian manusia dapat menegakkan keadilan yakni keadilan yang tegak dilangit dan dibumi. Sebagaimana firman Allah Ta'ala:

"Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan), supaya manusia dapat menegakkan keadilan". (Al Hadiid: 25)

Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengabarkan bahwa Dia mengutus para RasulNya dan menurunkan kitabNya; agar manusia mau menegakkan keadilan yaitu At Tauhid menjadikan Allah sebagai satu-satunya pihak yang berhak disembah dalam segala peribadatan dan yang demikian ini merupakan puncak keadilan. Adapun kesyirikan sebagai puncak kedzaliman. Allah Ta'ala berfirman:

"Sesungguhnya perbuatan syirik itu merupakan kedzaliman yang besar". (Luqman: 13)

Ayat ini menunjukkan bahwa syirik merupakan puncak kedzaliman dan tauhid merupakan puncak keadilan. Dan perbuatan syirik merupakan dosa besar yang paling besar; karenanya Allah mengharamkan surga atas kaum musyrikin, kemudian menghalalkan darah dan harta mereka untuk ditumpahkan dan dirampas, serta menjadikan keluarga mereka sebagai hamba sahaya (budak) bagi orang-orang yang bertauhid. Dengan sebab itulah Allah Subhanahu Wa Ta'ala enggan menerima amalan orang-orang yang hidupnya penuh dengan kesyirikan, Allah enggan memberikan syafa'at kepada mereka, enggan mengabulkan doa-doa mereka diakhirat kelak dan enggan untuk menerima harapan mereka. Karena sesungguhnya mereka ini adalah sebodoh-bodoh manusia yang paling bodoh tentang Allah; yaitu ketika mereka mencoba untuk menjadikan makhluk-makhlukNya sebagai sekutu dan tandingan-tandingan selainNya. Walhasil ini merupakan tindakan yang sangat dungu dan dzalim, yakni kedunguan dan kedzaliman atas diri-diri mereka sendiri kaum musyrikin.

Dan yang terakhir, bahwa kesyirikan sebagai bentuk kekurangan dan keaiban, dimana Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah mensucikan diriNya dari kedua hal tersebut. Dengan demikian barangsiapa berbuat kesyirikan, sungguh dia telah menganggap bahwa Allah tidak mensucikan diriNya dari segala kekurangan dan keaiban. Anggapan yang demikian ini merupakan penyimpangan yang dahsyat dan bentuk pembangkangan terhadap apa yang telah Allah tetapkan. (bersambung, Insya Allah klasifikasi syirik).

Kitabut Tauhid Hal. 9-10
Syaikh Shalih Bin Fawzan Al Fawzan Hafidzohullah

Senin, 16 November 2009

Posted by Nugroho Agung Wibowo On 17.36 0 komentar

Tauhid Dalam Kehidupan Manusia


Tauhid apabila mengawali dan mendasari kehidupan individu dan jamaah akan mewujudkan buah yang paling baik, bahkan menjadi idaman setiap orang atau kelompok. Di antara buahnya yang akan dipetik antara lain :

1. Memerdekakan manusia dari penghambaan dan ketundukan kepada selain Allah, artinya memerdekan akal mereka dari khurafat-khurafat dan tahayul-tahayul, memerdekakan mereka dari ketundukan, penghinaan dan kepasrahan (kepada selain pemilik-Nya), memerdekakan jeritan hidup setiap orang dari penguasa-penguasa yang dhalim, sesembahan-sesembahan, tukang sihir dan tukang tenung. Oleh karena demikian buahnya maka tokoh-tokoh kebatilan dan kesyirikan berusaha menghadang derap langkah dakwah para Nabi dan Rasul secara umum dan dakwah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam secara khusus.

Musuh-musuh para Rasul dan Nabi itu mengetahui apa makna yang terkandung dalam kalimat la ilaha illallah. Makna yang terkandung adalah "proklamasi umum tentang kemerdekaan manusia dan proklamasi tentang keruntuhan tahta para penguasa-penguasa jahat dari kedustaan mereka dan juga merupakan pemberitahuan tentang ketinggian dahi orang-orang yang beriman yang tidak akan sujud kepada selain Allah Subhanahu wa Ta'ala." Allah berfirman :
"Dan seperti itulah Kami jadikan bagi setiap Nabi musuh dari orang-orang yang berdosa dan cukuplah Tuhanmu menjadi pemberi petunjuk dan penolong." (Al-Furqan : 31)

Allah berfirman :
"Janganlah kalian bersikap lemah dan jangan pula kalian bersedih hati, padahal kalian-lah orang-orang yang paling tinggi jika kalian orang-orang yang beriman." (Ali Imran : 139)

2. Tauhid membentuk pribadi yang harmonis sehingga seseorang mengetahui arah hidup dan tujuannya. Bagaimana tidak? Orang-orang yang bertauhid akan mengetahui kepada siapa dia mengadu dan mengeluh baik dalam keadaan sepi maupun ramai, dalam keadaan senang ataupun sedih. Berbeda dengan orang-orang musyrik yang tidak bertauhid, hatinya terpecah-pecah kepada tuhan-tuhan yang banyak. Satu waktu dia mengeluh kepada makhluk yang hidup, di waktu lain dia mengeluh kepada mereka yang sudah mati. Di sinilah Nabi Yusuf 'alaihis sallam menyinggung dua orang yang dipenjara bersamanya :
"Hai kedua penghuni penjara, manakah yang lebih baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah yang Maha Tunggal lagi Maha Perkasa." (Yusuf : 39)

Seorang mukmin yang bertauhid mengabdikan dirinya hanya kepada Allah, mengetahui perkara yang akan menjadikan Allah ridla dan benci. Dia akan berhenti pada apa saja yang diridlai Rabb-Nya. Bagaimana tidak akan tentram hatinya dengan yang demikian?

Adapun orang-orang yang menyekutukan Allah, Rabb yang satu menarik dia ke kanan dan yang lain ke kiri, dan dalam keadaan yang demikian dirinya tercabik-cabik tidak memiliki pendirian.

3. Tauhid merupakan sumber keamanan dan ketenangan, karena akan mengisi jiwa-jiwa pemiliknya dengan ketenangan dan ketentraman sehingga dia hanya takut kepada Allah. Bahkan tauhid menutup pintu-pintu yang akan mengundang ketakutan seperti ketakutan akan rezeki, diri sendiri atau keluarganya. Seorang mukmin yang bertauhid tidak ada rasa takut pada dirinya kecuali takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Engkau menyaksikan dia tenang ketika orang-orang ditimpa ketakutan, tentram ketika orang lain mengalami kegundahan-gulanaan. Inilah yang telah diriwayatkan oleh Allah dalam firman-Nya :
"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kedhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keamanan dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." (Al-An'am : 82)

Keamanan yang didapat oleh setiap orang mukmin munculnya dari dalam jiwa, bukan karena penjagaan tentara atau polisi. Hal ini hanya sebatas keamanan di dunia, tetapi keamanan di akhirat lebih abadi dan kekal.

4. Tauhid merupakan sumber kekuatan jiwa, karena tauhid itu akan mengilhami kepada pemiliknya jiwa yang kuat yang akan siap menghadapi sebesar apa pun badai kehidupan. Dia berharap hanya kepada Allah yang akan melepaskannya, yakin dan tawakkal, ridha dengan ketentuan Allah dan bersabar dari bala' yang menimpanya, dan merasa cukup, tidak butuh dengan apa yang ada di tangan makhluk. Dia hidup seperti gunung yang kokoh. Apabila turun musibah dia meminta kepada Allah untuk membebaskan dirinya, syiarnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :
"Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan." (Al-Fatihah : 5)

Dan hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam :
"Apabila kamu meminta, maka mintalah kepada Allah dan apabila kamu meminta tolong, maka mintalah kepada Allah." (HR. Imam At-Tirmidzi no. 1988 dari hadits Ibnu Abbas radliyallhu 'anhu. Syaikh Al-Albani rahimahullah menshahihkannya)

5. Tauhid merupakan asas persatuan dan persaudaraan.
Dengan tauhidullah diwujudkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :
"Dan berpeganglah kalian dengan agama Allah seluruhnya dan jangan kalian bercerai berai." (Ali Imran : 103)

"Dari Abu MUsa Al-Asy'ari radliyallahu 'anhu, dia berkata : telah bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam : 'Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti bangunan. Satu bagiannya menguatkan bagian yang lain." (HR. Bukhari no. 468 dan Muslim no. 2585)

"Dari Abu Abdillah Nu'man bin Basyir radliyallahu 'anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam : Perumpamaan orang-orang beriman dalam kasih sayang dan cintanya mereka seperti satu tubuh. Apabila satu organ mengeluh kesakitan, maka seluruh tubuh terpanggil merasa panas dan terjaga." (HR. Bukhari no. 5641 dan Muslim no. 2586)

Dengan demikian, untuk menyatukan barisan kaum Muslimin dalam menghadapi sergapan musuh-musuh Allah dengan segala makar-makar mereka, maka hendaklah kaum Muslimin itu kembali kepada tauhidullah. Apabila kaum Muslimin berada di atas satu tauhid, maka mereka akan memiliki teropong untuk mendeteksi gerakan-gerakan musuh mereka dan melihat gerak-gerik dengan segala persiapannya pada babak berikutnya (disadur dari kitab Firqatun Najiyah dengan beberapa pengurangan dan penambahan karya Syaikh Jamil Zainu).

Walhasil, kita serukan kepada segenap kaum Muslimin agar bangkit dari tidur mereka untuk menyongsong kebrutalan musuh-musuh Allah dalam penjarahan mereka terhadap kesucian fitrah generasi Islam dengan peperangan yang mereka telah kobarkan, mulai dari nenek moyang mereka --yaitu iblis--, sampai akhir jaman. Kita serukan pula kepada segenap kaum Muslimin untuk merapatkan barisan dalam pertempuran yang akan mereka jalani melawan tentara-tentara jajahan iblis. Demikian Allah kutip niat mereka dalam kitab suci-Nya :
"Dan sekali-kali tidak akan ridha kepadamu (Muhammad) orang-orang Yahudi dan Nashrani sehingga kalian mengikuti agama mereka." (Al-Baqarah : 120)

Mulailah wahai kaum Muslimin mengawali kehidupan ini dengan mentauhidkan Allah, menjalankannya di atas tauhid dan menutup kehidupan ini dengan mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Wallahu a'lamu bish-shawwab.

Sumber : Majalah Salafy edisi 38 halaman 24-25.

Posted by Nugroho Agung Wibowo On 17.35 0 komentar

Hukum Sihir dan Tukang Sihir


Perlu diketahui bahwa sihir itu adalah amalan-amalan setan yang dilakukan oleh manusia dengan cara menghembuskan, meniupkan atau cara lain dengan tujuan memberikan rasa was-was ataupun untuk mempengaruhi yang lain. Sihir itu tidak mungkin didapatkan kecuali dengan bantuan setan dan dengan cara yang haram. Oleh karena itu Allah dan Rasul-Nya melarang kaum muslimin untuk mendatangi tukang sihir atau dukun yang mengaku mengetahui perkara-perkara ghaib. Juga dilarang membenarkan perkataan mereka, karena mereka berbicara atas dasar sangkaan belaka atau mereka minta bantuan jin. Telah diriwayatkan dari Muslim dalam Shahihnya, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Barangsiapa yang mendatangi tukang tenung dan bertanya sesuatu kepadanya, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh hari." (HR. Muslim)

Kemudian dari Abdullah bin Mas'ud radliyallhu 'anhu, dia berkata :
"Barangsiapa yang mendatangi tukang tenung, tukang sihir, dukun kemudian dia bertanya lalu membenarkan apa yang mereka katakan, maka sungguh dia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam." (HR. Bazarm, Baihaqi, AlMundziri dalam At-Targhib 4/53 dan Abu Ya'la dengan sanad "Jayyid")

Dan dari Imran bin Hushain radliyallahu 'anhu, dia berkata : "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Bukanlah termasuk dari golonganku orang yang bertathayyur (meramal) atau minta tathayyur, orang yang berdukun, atau minta didukunkan, penyihir atau minta disihirkan. Barangsiapa yang mendatangi tukang tenung dan membenarkan apa yang dia katakan, maka ia telah kafir tehadap apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam." (HR. Bazzar dengan sanad "jayyid")

Nash hadits-hadits di atas, tidak lain merupakan larangan kepada kaum muslimin untuk mendatangi para ahli nujum, tukang sihir dan para dukun untuk menanyakan sesuatu serta larangan membenarkan atau mempercayainya segala model ucapannya. Kaum muslimin wajib mengingkari seluruh ucapannya, karena mereka bukan orang alim, bahkan mereka adalah orang-orang bodoh lagi pendusta.

Mereka (para dukun dan tukang sihir) tidaklah mengetahui perkara-perkara ghaib, melainkan hanya menggunakan kebohongan jin dan peribadatan kepada selain Allah. Dengan demikian mereka telah kufur dan berbuat syirik kepada Allah. Oleh karena itu bagi kaum muslimin dilarang bertanya mengenai pernikahan, hari yang baik dan yang buruk, nasib yang baik dan nasib yang jelek atau perkara lain yang tidak diketahui kecuali oleh Allah yang Maha Tahu. Dan sihir adalah perkara haram dan perbuatan kufur sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala tentang dua malaikat dalam surat Al-Baqarah :
"... sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan : 'Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir'. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudlarat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan ijin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudlarat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Sesungguhnya mereka tidak meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya sendiri dengan sihir, kalau mereka mengetahui." (Al-Baqarah : 102)

Ayat ini menunjukkan bahwa tukang sihir adalah kufur dan mereka dengan sihir itu bisa menceraikan suami istri. Tapi sihir itu sendiri tidak dapat memberi manfaat atau mudlarat dan tidak pula bisa mempengaruhi kecuali dengan ijin Allah. Karena Allah Subhanahu wa Ta'ala yang menciptakan kebaikan dan kejelekan. Ayat ini juga menerangkan bahwa mereka mempelajari sihir yang memudlaratkan dan tidak memberi manfaat dan sesungguhnya mereka di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak mendapatkan keuntungan.

Hal ini merupakan ancaman besar dan menunjukkan kerugian besar dunia dan akhirat, karena mereka menjual diri mereka dengan harga yang teramat sangat murah. Oleh karena itu Allah mencela mereka dengan firman-Nya :
"... dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya sendiri dengan sihir, kalau mereka mengetahui." (Al-Baqarah : 102)

Kemudian firman Allah Subhanhu wa Ta'ala dalam surat Al-Baqarah lainnya :
"Dan setelah datang kepada mereka seorang rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka, sebagian dari orang-orang yang diberi kitab (Taurat) melemparkan kitab Allah ke belakang (punggung) mereka seolah-olah mereka tidak tidak mengetahui (bahwa itu adalah kitab Allah)." (Al-Baqarah : 101)

Di antara sebab penyelewengan mereka adalah melemparkan kitab di belakang punggung mereka (sama saja apakah itu kitab Taurat atau Al-Qur'an yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam) dan perbuatan itu adalah perbuatan kafir. Dan bahwasanya sihir itu tidak mungkin diamalkan kecuali dengan kufur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sebab turunnya ayat ini sebagaimana perkataan Rabi' bin Anas bahwa kaum Yahudi bertanya kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam pada suatu waktu tentang perkara yang ada pada kitab Taurat, tidaklah mereka menanyakan tentang sesuatu melainkan telah Allah turunkan apa yang mereka tanyakan, lalu Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam membantahnya. Maka ketika mereka tahu hal itu, mereka menyatakan : "Ini (Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam) lebih mengetahui apa yang telah turunkan (kepada kita) dari pada kita." Sungguh mereka bertanya kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam tentang sihir lalu mereka membantahnya. Maka Allah menurunkan firman-Nya :
"Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia ..." (Al-Baqarah : 102)

Wallahu a'lamu bish-shawwab.

Sumber : Majalah Salafy edisi 18 halaman 35-37.

Posted by Nugroho Agung Wibowo On 12.00 0 komentar

Istiqamah Di Atas Kemurnian Tauhid


Kalau kita lihat realita yang ada di negeri kita, mayoritas kaum muslimin telah digerogoti oleh penyakit syirik tanpa mereka sadari. Aqidah mereka sedikit demi sedikit terkikis dengan perbuatan-perbuatan syirik yang mereka lakukan. Di antara mereka ada yang berdoa di makam-makam, meminta kepada wali-wali yang telah meninggal, minta kepada dukun-dukun, mempercayai barang-barang mistik, keris pusaka, pedang pusaka, susuk konde, dan berbagai keyakinan-keyakinan syirik lainnya.

Pada kenyataan lain, terdapat sejumlah orang yang pada awalnya muslim. Tetapi karena keimanan yang tipis dan penderitaan duniawi (kemiskinan) yang dialaminya, mengakibatkan mereka dengan mudahnya menjual aqidah mereka dengan sebungkus indomie dan selembar kain.

Dari kenyataan tersebut mestinya kita senantiasa mengkhawatirkan diri dan keluarga kita. Apakah kita sanggup untuk tetap istiqamah di atas Islam dan di atas aqidah yang murni hingga maut menjemput kita? Ataukah -- na'udzubillah -- kita termasuk orang-orang yang merugi di dunia maupun di akhirat? Allah abadikan dalam Al-Qur'an kisah bapak para Nabi, yakni Ibrahim alaihis sallam.

Beliau mengkhawatirkan dirinya dan anak keturunannya dari peribadatan kepada selain Allah atau perbuatan syirik :
"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata : 'Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah) negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak, cucuku dari menyembah berhala-berhala. Ya Rabb-ku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan manusia. Maka barang siapa mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku dan barang siapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Ibrahim : 35-36)

Syaikh Abdur Rahman bin Hasan menyatakan setelah menyebutkan ayat tersebut : "Apabila manusia telah mengetahui bahwa kebanyakan manusia terjerumus dalam syirik akbar dan tersesat karena menyembah berhala, tentunya hal itu menyebabkan dia takut jangan sampai terjerumus seperti halnya kebanyakan manusia dalam kesyirikan yang tidak diampuni oleh Allah."

Ibrahim At-Taimi berkata : "Siapakah yang merasa aman dari bala' (terjerumus dalam kesyirikan) setelah Ibrahim? Tiada yang merasa aman dari terjerumus dalam kesyirikan kecuali orang yang tidak mengerti makna syirik dan tidak mengetahui perkara-perkara yang dapat membebaskan dia dari kesyirikan, yakni mengenal Allah dan perintah Allah terhadap Rasul-Nya berupa kewajiban untuk bertauhid dan larangan berbuat syirik." (Fathul Majid hal. 93)

Oleh karena itu Ibrahim alaihis sallam mendapatkan pujian dari Allah karena keitiqamahan beliau di atas agama tauhid, meskipun dia hidup di tengah-tengah manusia yang ketika itu semuanya kafir atau musyrik. Allah berfirman :
"Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang Imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali dia bukan termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. Dia mensyukuri nikmat-nikmat Allah ..." (An-Nahl : 120-121)

Demikian halnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengkhawatirkan ummatnya jangan sampai terjerumus dalam perbuatan syirik hingga syirik yang paling kecil sekalipun, yaitu riya' :
"Dari Mahmud bin Labid radliyallhu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : 'Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirkul ashghar (syirik kecil).' Para shahabat bertanya : 'Apakah syirkul ashghar itu, wahai Rasulullah?' Beliau menjawab : 'Riya''. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman pada hari kiamat ketika membalas amal-amal manusia : 'Pergilah kepada orang-orang yang kalian berbuat riya' kepada mereka ketika di dunia! Lihatlah! Apakah kalian mendapatkan balasan di sisi mereka?'". (HR. Ahmad dan At-Thabrani, dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no. 591 dan Shahih Al-Jami' no. 1551. Lihat Fathul Majid hal. 94)

Bahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Syirik itu lebih tersembunyi dari langkah semut." Abu Bakar bertanya : 'Wahai Rasulullah, bukankah syirik itu tidak lain beribadah kepada selain Allah atau mempersekutukan Allah ketika berdoa?' Rasulullah berkata : 'Apakah ibumu telah kehilangan engkau (yakni kalimat hardikan)? Syirik itu bagi kalian lebih tersembunyi daripada langkah semut." (HR. Bukhari no. 4293)

Begitu khawatirnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap para shahabatnya. Padahal mereka radliyallahu 'anhuma adalah orang-orang terbaik dari umat beliau. Tentunya hal itu menjadi pelajaran berharga bagi kita untuk lebih mawas diri dari segala bentuk kesyirikan. Jangan menganggap remeh perkara syirik. Meskipun syirik kecil diperselisihkan oleh para ulama apakah termasuk dosa yang diampuni Allah atau tidak, yang jelas kita wajib berhati-hati dari kesyirikan secara mutlak dan mengingat firman Allah :
"Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi yang dikehendaki-Nya ..." (An-Nisaa' : 48, 116).

Juga sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam :
"Barangsiapa menjumpai Allah dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah sedikitpun, dia akan masuk syurga. Dan barangsiapa menjumpai-Nya dalam keadaan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu dia akan masuk neraka." (HR. Muslim no. 152 dari Jabir radliyallahu 'anhu).

Wallahu Ta'ala A'lam.



Sumber : Majalah Salafy edisi 18 halaman 48-49.

Posted by Nugroho Agung Wibowo On 11.56 0 komentar

Sihir Pembatal Iman


Sihir termasuk perbuatan yang membatalkan keimanan, karena ia adalah perbuatan kufur. Di antara dalil-dalil yang menunjukkannya adalah :

1. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :
"... Padahal Sulaiman tidak kafir (mengerjakan sihir), karena setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia ..." (Al-Baqarah : 102)

2. Firman Allah :
"... Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat ..." (Al-Baqarah : 102)

Berkata Syaikh Al-Hafidz Hakami : "Ancaman ini tidak dimutlakkan karena dia kafir, karena tidak ada seorang mukmin kecuali dia akan masuk syurga, cukup dengan masuk syurga itu sudah merupakan suatu keuntungan dan tidak akan masuk syurga kecuali jiwa yang mukmin."

3. Firman Allah :
"Sesungguhnya kalau mereka beriman dan bertaqwa ...." (Al-Baqarah : 103)

Berkata Al-Jashas tentang ayat ini : "Iman lawannya adalah perbuatan sihir, ini menunjukkan bahwa tukang sihir adalah kafir walau sebelumnya mukmin. Dia telah kafir dengan perbuatan sihir itu sehingga pantas untuk dipenggal."

Berkata Al-Hakami tentang dalil ini : "Sangat jelas dalam ayat ini atas kafirnya tukang sihir dan hilangnya iman secara keseluruhan. Dan tidak mungkin dikatakan (dalam ayat ini) ... kalau mereka beriman dan bertaqwa. Allah berfirman dalam ayat ini kepada orang yang telah kufur yang berbuat dosa besar, yang mengamalkan sihir yang menentang Rasul Allah dan yang melemparkan kitab di belakang punggungnya."

4. Firman Allah :
"Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang." (Thaha : 69)

Berkata Syaikh Syanqithi rahimahullah tentang ayat ini : "Sesungguhnya ini adalah penafian dalam bentuk umum. Firman Allah "Dan tidak akan menang" ayat ini umum, menafikan semua jenis kebahagiaan tukang sihir, lalu dikuatkan dengan firman Allah selanjutnya. "dari mana saja ia datang" ini dalil kafirnya tukang sihir, karena kebahagiaan tidak akan hilang / lenyap secara keseluruhan kecuali orang yang tidak mempunyai kebaikan sama sekali alias kafir."

5. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menggandengakan antara sihir dengan kesyirikan.
Pada sebagian hadits-hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menghukumi dengan kufur (telah kafir) bagi orang yang mendatangi tukang sihir dan membenarkan perkataannya."

Dari Abu Hurairah radliyallhu 'anhu : Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan : Para shahabat bertanya : "Ya Rasulullah apa tujuh perkara tersebut?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab : "Syirik kepada Allah dan sihir ...."

Wallahu a'lam bish-shawwab.


Sumber : Majalah Salafy edisi 18 halaman 38-39.

Sabtu, 14 November 2009

Posted by Nugroho Agung Wibowo On 11.33 0 komentar

Penjagaan Dari Pengaruh Sihir


Pencegahan terhadap pengaruh sihir yang paling efektif adalah dengan berdzikir, berdo'a dan ta'awudz (meminta perlindungan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala) dengan ayat-ayat Al-Qur'an maupun dari hadits-hadits yang shahih. Di samping itu harus menjalankan semua kewajiban Allah Subhanahu wa Ta'ala dan menjauhi hal-hal yang diharamkan-Nya serta bertaubat dari segala maksiat dan dosa-dosa.

Di antara do'a-do'a dan dzikir-dzikir itu adalah :
1. Membaca ayat kursi, dua ayat akhir surat Al-Baqarah, Al-Ikhlash, Al-Falaq dan An-Naas ketika hendak tidur, pagi hari setelah shalat Subuh dan awal malam hari setelah shalat Maghrib.

Telah tetap dari Nabi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa siapa saja yang membaca ayat kursi pada malam hari akan terus menerus dalam penjagaan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan tidak diganggu setan. Sebagaimana yang dikatakan oleh setan kepada Abu Hurairah radliyallahu 'anhu yang dibenarkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan mengatakan: Dia jujur kepadamu padahal dia pendusta.

"Barangsiapa membaca ayat kursi sebelum tidur, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala akan terus melindunginya sampai pagi hari dan tidak akan didekati oleh setan." (HR. Bukhari)

2. Membaca dzikir dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam :
"Dengan nama Allah yang bersama nama-Nya tidak ada yang dapat memberi mara bahaya di bumi maupun di langit dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." Sebanyak tiga kali setelah selesai shalat Subuh." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

4. Membiasakan ta'awudz dengan lafadh :
"Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari setiap kejahatan yang diciptakan." (HR. Muslim) Pada malam hari dan siang hari dan ketika singgah di suatu tempat.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyatakan : "Barangsiapa yang singgah di suatu tempat dan padang pasir, laut atau tempat angker lalu ia mengucapkan dzikir di atas, tidak ada yang dapat mencelakakannya sampai melewati tempat itu."

Demikian pula mengucapkan dzikir-dzikir harian yang lain, seperti dzikir ketika masuk WC, ketika akan jima' (bersetubuh), dzikir setelah shalat wajib dan membaca Al-Qur'an. Insya Allah dengan berdzikir memakai dzikir-dzikir dan do'a-do'a di atas akan terjaga dari semua kejahatan sihir dan yang semacamnya, dengan didasari kejujuran, keimanan, keikhlasan, kesungguhan, kepercayaan kepada-Nya dan tawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Pengobatan Setelah Terkena Sihir

Pengobatan setelah terkena sihir ada beberapa macam yaitu :

1. Mengeluarkan atau membuang ikatan sihir dengan membakar atau menghancurkan buhul-buhul (tempat ikatan sihir). Cara ini adalah cara yang paling efektif untuk menghilangkan pengaruh sihir.

2. Dengan membaca ruqyah yang disyariatkan seperti membaca surat Al-Araf 118-122, Surat Yunus ayat 79-82, Surat Thaha ayat 65-70, surat Al-Kafirun ayat 1 sampai terakhir, surat Al-Ikhlash, Al-Falaq dan An-Naas. Kemudian ditiupkan ke dalam air yang cukup untuk mandi, sebagian diminumkan tiga kali dan sisanya untuk mandi. Jika perlu dilakukan berulang-ulang sampai hilang sihirnya.

3. Dibacakan surat Al-Fatihah, ayat kursi, dua ayat terakhir surat Al-Baqarah, Al-Ikhlash, Al-Falaq, An-Naas tiga kali atau lebih dengan meniupkannya dan mengusapkan di wajah yang terkena sihir dengan tangan kanan.

4. Mencari tempat-tempat sihir di mana saja berada baik di dalam tanah, gunung, atau tempat yang lainnya. Jika telah ditemukan segera dihancurkan atau dibakar.

5. Membaca do'a seperti do'a malaikat Jibril yang meruqyah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di atas. Atau do'a yang lain seperti :
"Wahai Tuhan pemilik manusia, hilangkanlah sakit dan sembuhkanlah. Engkau adalah Maha Penyembuh. Tiada kesembuhan kecuali dari_mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit." (HR. Muslim)

Demikianlah hal-hal yang dapat mengobati dari pengaruh sihir. Adapun pengobatan sihir dengan sihir adalah perbuatan terlarang oleh syariat karena terdapat unsur kesyirikan,, yaitu meminta bantuan kepada jin. Demikian pula dilarang menanyakan kepada dukun atau orang pintar karena mereka pada hakekatnya adalah pendusta, kufur, sesat dan teman setan, serta mengaku tahu ilmu ghaib dan ini adalah syirik akbar yang nyata. (Risalah fi Hukmi Sihri wal Kahanah, Syaikh Bin Baaz. hal. 9). Sebagaimana yang dinyatakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam :
"Barangsiapa yang mendatangi kahin (dukun) dan membenarkan apa-apa yang diucapkannya sungguh ia telah kafir (ingkar) dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam." (HR. Abu Dawud, shahih, lihat tahqiq Fathul Majid oleh Syaikh Muhammad Hamid Al-Faqi hal. 355)

Kalau orang yang mendatangi dukun saja dikatakan ingkar terhadap apa yang dibawa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tentu bagi si dukun lebih daripada itu keingkarannya. Kepada Allah sajalah kita mohon hidayah dan bimbingan agar terhindar dari segala amal kejahatan yang menjerumuskan ke neraka serta kita mohon kepada-Nya pemeliharaan dan pemahaman agama yang benar agar terjauh dari setiap perselisihan syariat yang agung ini.

Amiin ya Rabbal 'alamiin.


Sumber : Majalah Salafy edisi 25 halaman 50-51.

Jumat, 19 Juni 2009

Posted by Nugroho Agung Wibowo On 07.13 0 komentar

Apa Hukum Jimat Itu ?


Jimat -- yang dalam bahasa Arab diistilahkan dengan tamimah -- adalah apa yang digantungkan pada leher atau pada bayi untuk menghindari 'ain (pandangan hasad). (Lihat Qamus Al-Muhith (978) dan Mu'jamul Wasith (89)). Dinamakan tamimah karena orang-orang menganggap bahwa benda-benda yang digantung itu dapat mencegah 'ain secara sempurna. Ini adalah perbuatan syirik, karena Allah dan Rasul-Nya tidak menjadikan hal itu sebagai sebab untuk menjaga diri dari 'ain. Memakai jimat juga berakibat menghilangkan kesempurnaan tauhid seseorang yang merupakan konsekwensi dari makna kalimat la ilaha illallah. Sebab orang yang bertauhid, hatinya tidak akan berpaling sedikitpun untuk mencari manfaat dan menolak mudlarat kepada selain Allah.

Uqbah bin 'Amir radliyallahu 'anhu menyatakan :
"Bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam didatangi oleh sejumlah orang (10 orang). Lalu beliau membaiat sembilan orang dan menahan (tidak membaiat) satu orang. Mereka berkata : "Wahai Rasulullah, engkau membaiat sembilan orang kemudian menahan orang ini?" Beliau bersabda : "Sesungguhnya pada dirinya ada jimat." Lalu beliau memasukkan tangannya, kemudian memutusnya kemudian membaiatnya dan bersabda : "Barangsiapa menggantungkan tamimah, maka dia telah berbuat syirik." (HR. Ahmad dan Al-Hakim, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no. 492)

Ibnu Atsir mengatakan dalam Gharibul Hadits juz 1 hal. 198 : "Dalam hadits tersebut Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menganggap perbuatan menggantungkan tamimah sebagai kesyirikan karena mereka (orang-orang yang menggantungkannya) menginginkan catatan takdir yang telah ditulis dapat tertolak. Mereka mencari penolak musibah dari selain Allah yang sebenarnya Allah sajalah yang mampu menolaknya."

Syaikh Al-Albani -- setelah membawakan riwayat di atas berkomentar : "Kesesatan ini -- penggunaan jimat-jimat -- tersebar luas di kalangan orang-orang gunung, para petani dan sebagian orang-orang kota. Sejenis dengan ini yaitu azimat yang diletakkan oleh sebagian supir di hadapan mereka di dalam mobil dan mereka gantungkan di atas cermin. Sebagian mereka menggantung sandal butut di bagian belakang atau depan mobil. Selain mereka ada pula yang menggantung tapal kuda di bagian depan rumah atau toko. Semua itu bertujuan menolak 'ain menurut anggapan mereka. Demian pula perkara-perkara lain yang tersebar merata dikarenakan kejahilan tentang perkara yang tauhid dan perkara yang dapat menafikkan tauhid berupa kesyirikan-kesyirikan dan penyembahan berhala-berhala ..." (Silsilah As-Shahihah no. 492)

Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam Fatawanya 2/384 menjelaskan : "Jika jimat dibuat dari nama-nama setan, tulang-tulang, akar bahar, seruling, thalasim (huruf-huruf berbahasa Arab atau berbahasa Latin yang terputus) dan semacamnya adalah termasuk syirik.

"Barangsiapa menggantungkan sesuatu, maka dirinya akan diserahkan kepadanya." (HR. Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud dan Al-Hakim dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi no. 1691 dan Ghayatul Maram 297)

Demikian pula orang yang menggantungkan hati atau perbuatannya atau kedua-duanya kepada selain Allah. Allah akan menjadikan orang tersebut bergantung sepenuhnya kepada tempat ia bergantung. Adapun orang-orang bergantung kepada Allah dan menyandarkan segala kebutuhannya kepada-Nya serta menyerahkan segala urusannya kepada-Nya, Allah akan mencukupinya dan mendekatkan setiap yang jauh serta memudahkan setiap yang sulit. Maka orang yang menggantungkan dirinya semata kepada pendapat akalnya, obat-obatannya atau jimat-jimatnya dan semacamnya. Allah akan menyerahkan dirinya kepada semua itu dan menghinakannya berdasarkan nash-nash dan pengalaman yang ada. Allah berfirman :
"Barangsiapa bertawakal kepada Allah, maka Dia-lah yang mencukupinya. (At-Thalaq : 3) (Lihat Fathul Majid hal. 155)

Oleh karena itulah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam riwayat Abu Basyir Al-Anshari :
"Bahwa dia bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada sebagian perjalanan beliau. Abdullah (bin Abu Bakar) berkata : "Aku menyangka bahwa dia berkata : Dan manusia di tempat mereka menginap, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengutus seorang utusan (Zaid bin Haritsah) : "Agar jangan sekali-kali membiarkan pada leher onta tertinggal satu kalungpun dari bekas tali busur panah kecuali diputuskan." (HR. Bukhari, Muslim) (Lihat Fathul Bari 6/1)

Dijelaskan oleh Imam Al-Baghawi tentang makna hadits tersebut : "Imam Malik menakwilkan perintah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam untuk memutuskan kalung-kalung (pada leher onta) karena sebab 'ain. Yang demikian karena mereka mengikat kalung-kalung dan jimat-jimat dan menggantungkannya pada leher onta adalah untuk perlindungan. Mereka menyangka bahwa jimat-jimat itu menyelamatkan mereka dari penyakit-penyakit. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melarang mereka darinya dan memberitakan kepada mereka bahwa semua itu tidak dapat menolak takdir Allah sedikitpun." (Fathul Majid hal. 149)

Kata Ibnu Atsir : "Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melarang mereka karena mereka menyakini bahwa menggantungkan bekas tali busur panah pada leher kuda dapat mencegah dia dari 'ain dan marabahaya. Sehingga benda itu ibarat pelindung baginya. Maka beliau melarang mereka dan mengabarkan bahwa benda itu tidak dapat menolak mudlarat." (Gharibul Hadits 4/99)

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam juga mengancam orang-orang yang menggantungkan jimat-jimat pada kendarannya. Beliau bersabda :
"Wahai Rawaifi', semoga hidupmu (umurmu) panjang. Kabarkanlah kepada manusia bahwa barangsiapa memintal jenggotnya atau mengalungkan bekas tali bususr panah (jimat-jimat) atau beristinja' dengan kotoran hewan atau tulang, maka sesungguhnya Muhammad berlepas diri darinya." (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Nasa'i dan dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Misykatul Mashabih no. 351)

Dari riwayat-riwayat yang telah dibawakan dan keterangan-keterangan para ulama, jelas bagi kita bahwa menggantung jimat-jimat dengan segala macamnya adalah perbuatan terlarang dan termasuk syirik ashghar. Bahkan bisa menjadi syirik akbar jika si pemakai menyakini bahwa jimat-jimat itulah yang dapat menyembuhkan penyakitnya atau menjaga diri dari segala malapetaka atau lainnya.

Sedangkan menggantungkan jimat-jimat yang terbuat dari ayat-ayat Al-Quran dan doa-doa tertentu diperselisihkan oleh para ulama dari kalangan shahabat, tabi'in dan orang-orang setelah mereka. Sebagian kelompok membolehkannya seperti ucapan Abdullah bin Amr bin Al-Ash dan riwayat dari 'Aisyah. Juga pendapat Abu Ja'far Baqir dan Imam Ahmad dalam sebuah riwayat. Mereka memaknakan hadits larangan menggantungkan jimat-jimat yaitu jika ada kesyirikan padanya.

Sebagian kelompok tidak membolehkan, diantaranya Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, Hudzaifah, Uqbah bin Amir, Ibnu Ukaim, sekelompok dari kalangan tabi'in di antaranya murid-murid Ibnu Mas'ud, Imam Ahmad dalam sebuah riwayat yang dipilih oleh kebanyakan murid-murid beliau dan dikuatkan oleh ulama-ulama setelahnya. Mereka berhujjah dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas'ud radliyallahu 'anhu, beliau berkata :
"Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam bersabda : "Sesungguhnya jampi-jampi, jimat-jimat, dan pengasihan (gendam) adalah perbuatan syirik." (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Al-Hakim. Dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud no. 3288 dan Shahih Ibnu Majah no. 3530)

Pendapat yang kuat dalam hal ini adalah pendapat yang tidak membolehkan sama sekali. Yang demikian ditinjau dari beberapa segi :

Pertama, keumuman larangan dan tidak adanya pengkhususan atau pengecualian keumuman tersebut.

Kedua, menutup jalan menuju keharaman. Karena hal itu mengantar kepada menggantung sesuatu yang tidak diperbolehkan.

Ketiga, jika seseorang menggantung jimat-jimat yang terbuat dari ayat-ayat Al-Qur'an, maka mesti dia memakainya ketika buang hajat, istinja' dan semacamnya.

Demikian keterangan Syaikh Abdur Rahman bin Hasan Alu Syaikh dalam Fathul Majid hal. 152, Syaikh Doktor Shalih bin Fauzan Al-Fauzan dalam Kitabut Tauhid hal. 50, dan keterangan senada dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Majmu' Fatawa wa Rasail jilid 1 hal. 107.

Wallahu a'lamu bish-shawwaab.

Selasa, 16 Juni 2009

Posted by Nugroho Agung Wibowo On 06.34 0 komentar

Apa itu Syirik ?


Syirik merupakan bahaya yang terbesar dan penyakit yang paling berbahaya. Perlu diketahui bahwa para ulama membagi jenis syirik menjadi dua bagian :

a) Syirik Akbar (besar)
- Yang tidak diampuni (apabila pelakunya mati dan belum bertaubat).
- Diharamkan baginya surga.
- Kekal di dalam neraka.
- Membatalkan semua amalan-amalan yang lalu.
b) Syirik Ashghar (kecil)
- Dibawah kehendak Allah, kalau Allah ampuni pelakunya, maka tidak di adzab, dan kalau tidak di ampuni, pelakunya masuk terlebih dahulu di neraka meskipun setelah itu dimasukkan ke dalam surga.
- Tidak kekal dalam neraka (kalau dia dimasukkan ke dalam neraka).
- Tidak membatalkan semua amalan tetapi sebatas yang dilakukan.
- Tidak diharamkan baginya surga.

Penjelasan Syirik Akbar

Sebagaimana penjelasan di atas, syirik akbar merupakan dosa yang terbesar yang tidak akan diampuni oleh Allah apabila tidak bertaubat, Allah Ta'ala berfirman :

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang di kehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutuan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar." (An-Nisa' : 48)

Juga pelaku syirik akbar tempat kembalinya adalah neraka dan diharamkan baginya surga.

Allah Ta'ala berfirman :

"Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata : "Sesungguhnya Allah itu ialah Al-Masih putera Maryam. Padahal Al-Masih (sendiri) berkata : "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu." Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang yang dhalim itu seorang penolong pun." (Al-Maidah : 72)

Sedangkan dalil yang menunjukkan bahwa syirik akbar menggugurkan amalan-amalan adalah firman Allah Ta'ala :

"Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan." (Al-An'am : 88)

Macam-Macam Syirik Akbar

Macam-macam dari syirik akbar ini sangat banyak sekali, tetapi bisa kita kelompokkan menjadi tiga bagian :

1. Syirik di dalam al-uluhiyyah

yaitu kalau seseorang menyakini bahwa ada tuhan selain Allah yang berhak untuk disembah (berhak mendapatkan sifat-sifat ubudiyyah). Yang mana Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam berbagai tempat dalam kitab-Nya menyeru kepada hamba-Nya agar tidak menyembah atau beribadah kecuali hanya kepada-Nya saja. Firman Allah Ta'ala :
"Wahai manusia sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu, karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahuinya." (Al-Baqarah :21-22)

Perintah Allah dalam ayat ini agar semua manusia beribadah kepada Rabb mereka dan bentuk ibadah yang diperintahkan antara lain : syahadat, shalat, zakat, shaum, haji, sujud, ruku', thawaf, do'a, tawakal, khauf (takut), raja' (berharap), raghbah (menginginkan sesuatu), rahbah (menghindarkan dari sesuatu), khusu', khasyah, isti'anah (minta tolong), isti'adzah (berlindung), istighatsah (meratap), penyembelihan, nadzar, sabar, dan lain-lain dari berbagai macam ibadah yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Di sisi lain ada kerancuan yang terdapat di kalangan umum dalam memahami ibadah. Mereka mengartikan ibadah dalam definisi yang sempit sekali seperti shalat, puasa, zakat, haji. Adapun yang lainnya tidak dikategorikan di dalamnya.

Sungguh indah perkataan Syaikhul Islam Abul Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam mendefinisikan ibadah, beliau berkata :
"Ibadah itu ialah suatu nama yang mencakup semua perkara yang di cintai Allah dan diridlai-Nya, apakah berupa perkataan ataupun perbuatan, baik dhahir maupun yang batin."

Inilah pengertian ibadah yang sesungguhnya, yaitu meliputi segala perkara yang dicintai dan diridlai Allah, baik itu berupa perkataan maupun perbuatan.

2. Syirik di dalam ar-rububiyyah.

yaitu seseorang menyakini bahwa ada selain Allah yang bisa menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan atau mematikan dan yang lainnya dari sifat-sifat ar-rububiyyah. Orang-orang seperti ini keadaannya lebih sesat dan lebih jelek daripada orang-orang kafir terdahulu.

Orang-orang terdahulu beriman dengan tauhid rububiyyah, namun mereka menyekutukan Allah dalam tauhid uluhiyyah. Mereka menyakini kalau Allah satu-satunya Pencipta alam semesta. Namun mereka masih tetap berdo'a, meminta pada kuburan-kuburan, seperti kuburan Latta.

Sebagaimana Allah kisahkan tentang mereka :
"Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka : "Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan ?" Tentu mereka akan menjawab : "Alah". Maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar)." (Al-Ankabut : 61)

Firman Allah Ta'ala :
"Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka : "Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya ?" Tentu mereka akan menjawab : "Allah." Katakanlah : "Segala puji bagi Allah." Tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya)." (Al-Ankabut : 63)

Firman Allah Ta'ala :
"Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka : "siapakah yang menciptakan langit dan bumi ?" Tentu mereka akan menjawab : "Allah." Katakanlah : "Segala puji bagi Allah." Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuinya." (Luqman : 25)

Firman Allah Ta'ala :
"Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka : "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi ?" Niscaya mereka akan menjawab : "Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui." (Az-Zukhruf : 9)

Ayat-ayat ini semua menunjukkan kalu orang-orang musyrik terdahulu mengakui Allah-lah satu-satunya pencipta yang menciptakan langit dan bumi, yang menghidupkan dan mematikan, yang menurunkan hujan dan seterusnya. Akan tetapi mereka masih memberikan peribadatan kepada yang lainnya.

Maka bagaimanakah dengan orang-orang yang tidak menyakini sama sekali kalau Allah-lah Penciptanya, atau ada tuhan lain yang menciptakan, menghidupkan dan mematikan, yang menurunkan hujan dan seterusnya, atau ada yang serupa dengan Allah dalam masalah-masalah ini. Tentu yang demikian lebih jelek lagi. Inilah yang dinamakan syirik dalam rububiyyah.

3. Syirik di dalam Al-Asma' dan Ash-Shifat

Yaitu kalau seseorang mensifatkan sebagian makhluk Allah dengan sebagian sifat-sifat Allah yang khusus bagi-Nya. Contohnya menyakini bahwa ada makhluk Allah yang mengetahui perkara-perkara ghaib.

Firman Allah Ta'ala :
"(Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib. Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu." (Al-Jin : 26)

Dalam masalah ini silahkan baca lebih lengkapnya di dalam pembahasan lain pada judul "Keyakinan Adanya Makhluk Yang Mengetahui Hal Yang Ghaib".

Penjelasan Syirik Ashghar

Meskipun dalam masalah ini ada khilaf (sebagaimana yang telah kita bahas di atas), akan tetapi wajib bagi setiap muslim untuk berhati-hati terhadap penyakit ini dan jangan menganggap remeh. Pelakunya diwajibkan untuk bertaubat. Diantara yang dikategorikan dalam syirik ashghar antara lain :

a) Ar-Riya' (mengamalkan suatu ibadah supaya dilihat manusia dalam rangka mendapatkan popularitas). Meskipun syirik ini tidak membatalkan semua amalan secara keseluruhan, namun ia membatalkan amalan yang diniatkan untuk manusia tersebut. Maka wajib bagi pelakunya untuk bertaubat.

Firman Allah yang menerangkan bahwa riya' itu membatalkan amalan yang disertai riya' tersebut adalah sebagai berikut :
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya' kepada manusia dan tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atas ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak berkuasa sedikitpun dari apa yang mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir." (Al-Baqarah : 264)

Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam :
"Diriwayatkan dari Mahmud bin Labid bahwa dia berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : Suatu ketakutan yang paling aku takutkan dari kalian adalah syirik kecil. Kemudian ditanyakan tentang syirik itu, beliau menjawab : riya'." (HR. Ahmad)

Dan juga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu : Bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : Allah Ta'ala berfirman : Barangsiapa melakukan suatu amalan kemudian ia jadikan bersama Allah sekutu dalam amalan itu, maka Allah tinggalkan amalan tersebut dan sekutunya." (HR. Muslim)

Dalam masalah membatalkan amalan, riya' ini terbagi menjadi dua bagian :

1) Apabila riya' sejak awal, yaitu bahwa orang tersebut dalam melakukan amalannya sudah mempunyai niat untuk riya'. Yang seperti ini membatalkan amalan.

2) Apabila datang dengan tiba-tiba di tengah-tengah atau di akhir amalan dan orang tersebut berusaha untuk menolak atau menghilangkan dari hatinya. Maka yang seperti ini tidak sampai membatalkan amalannya.

2) Sum'ah (mengamalkan suatu ibadah supaya didengar orang lain dalam rangka mendapatkan popularitas). Pada hakekatnya sum'ah merupakan riya' juga.

Dua penyakit ini yang sangat rawan dalam hati karena sangat samar tidak terlihat oleh mata, sehingga seorang muslim harus sangat berhati-hati. Ayat Al-Qur'an dalam surat Al-Baqarah 264 serta hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dari shahabatnya Mahmud bin Labid di atas menjadi perhatian bagi kita bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala memanggil dengan panggilan "Wahai orang-orang yang beriman" dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengkhawatirkan riya' tersebut akan menimpa para shahabat. Hal ini menunjukkan bahwa orang mukmin pun apabila tidak hati-hati akan terkena penyakit ini. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta'ala selamatkan kita darinya.


Wallahu a'lamu bish-shawwab.

Sabtu, 13 Juni 2009

Posted by Nugroho Agung Wibowo On 01.03 0 komentar

Keberanian Sejati Adalah Buah Aqidah Yang Benar


Di antara buah aqidah yang benar yang akan bisa dipetik bagi pemiliknya adalah keberanian yang sejati. Memang untuk menjadi orang yang memiliki keberanian sejati haruslah mempunyai jiwa yang agung dan besar serta berwibawa. Hal ini akan bisa terbentuk apabila kotoran yang melilit hati hilang dan bersih. Untuk membersihkan dan menghilangkan tiada jalan lain kecuali dengan belajar aqidah yang benar yaitu aqidah yang bersumber dari Al-Qur'an dan As-Sunnah. Keberanian merupakan salah satu cermin dari aqidah yang benar.

Keberanian merupakan salah satu sifat terpuji di sisi Allah selama sesuai dengan bimbingan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Sifat keberanian inilah yang telah dimiliki oleh para Rasul Allah dalam mengemban amanat risalah Islam menghadapi teror dan ancaman kaumnya.

Sifat terpuji ini telah diwarisi oleh para penempuh jalan para Rasul Allah ini dari kalangan generasi-generasi Rabani setelah mereka, lebih khusus lagi generasi sepeninggal Rasulullah shallalahu 'alaihi wa sallam. Mari kita menyimak ungkapan sejarah yang pasti kebenarannya yang berlandaskan wahyu Allah, yaitu Al-Qur'an dan As-Sunnah. Di dalam keduannya telah disebutkan sederetan para pahlawan agama yang memiliki sifat keberanian yang murni dan sejati.

Pertama, Allah bercerita di dalam Al-Qur'an, demikian pula Rasul-Nya dalam As-Sunnah, tentang keberanian sosok orang yang mencerminkan generasi sesudahnya dan sebelumnya. Sosok orang yang tabah tegar dalam menghadapi teror dan ancaman, bahkan teror fisik dari kaumnya yang tiada belas kasihan. Dialah bapak orang-orang bertauhid, Ibrahim 'alaihis salam. Keberaniannya telah dilukiskan oleh Allah dalam Al-Qur'an:

"Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia ketika mereka berkata kepada kaum mereka: ((Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah. Kami ingkari (kekafiran) kalian dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja))." (Al-Mumtahanah : 4)

"Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya : ((Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah kecuali dari Dzat yang telah menciptakan aku. Sesungguhnya Dia akan memberikan hidayah kepadaku))." (Az-Zukhruf : 26-27)

Keberanian beliau untuk menerima resiko yang berat, yaitu perintah Allah untuk melenyapkan buah hatinya, seorang anak yang ditunggu-tunggu kehadirannya, perintah menyembelihnya bak binatang kurban. Dia dengan tabah dan sabar menawarkan keinginan Allah pada dirinya dengan mengatakan :

"((Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka fikirkanlah apa pendapatmu)). Ia menjawab: ((Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah kamu akan menemukanku termasuk orang-orang yang sabar))." (Ash-Shafat : 102)

Keberanian beliau dalam menghadapi teror dan penyiksaan kaumnya dan kesabaran beliau dalam mematahkan angkara murka kaumnya, ditunjukkannya pertama kali dengan cara melibas sesembahan-sesembahan mereka. Dihancurkannya berkeping-keping berhala-berhala mereka kecuali yang paling besar. Setelah mereka mengetahui bahwa Nabi Ibrahim alaihis salam yang melakukannya, dengan murka mereka memanggilnya di hadapan khalayak ramai. Terjadilah dialog mereka dengan Nabi Ibrahim 'alaihis salam :

"Mereka bertanya: ((Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?))
Ibrahim menjawab :((Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyalah kepada berhala itu jika mereka dapat berbicara)).
Maka mereka kembali kepada kesadaran mereka lalu berkata : ((Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya [diri sendiri].)) Kemudian kepala mereka menjadi tertunduk lalu berkata : ((Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim), telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara)).
Ibrahim berkata: ((Maka mengapa kalian menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak pula memberi mudlarat kepada kalian. Ah, (celakalah) kalian dengan apa yang kalian sembah selain Allah, maka apakah kalian tidak mengetahuinya?)).
Mereka berkata: ((Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kalian jika kalian benar-benar bertindak)). Kami berfirman: ((Hai api, menjadilah dingin dan jadilah keselamatan bagi Ibrahim)). Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi." (Al-Anbiya' : 62-70)

Dengarlah apa ucapan Nabi Ibrahim ketika angkara murka mereka terlampiaskan! Dan perhatikan darimanakah ucapan tersebut kalau bukan dari jiwa yang sudah bersih dengan aqidah yang benar.

Dari Abdullah Ibnu Abbas radliyallhu 'anhuma beliau berkata: "Hasbunallahu wani'mal wakil adalah ucapan Nabi Ibrahim ketika dicampakkan ke dalam api dan diucapkan oleh MUhammad shallallahu 'alaihi wa sallam ketika ada orang yang mengatakan: Sesungguhnya manusia (orang Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian. Karena itu takutlah kalian kepada mereka!" maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah sebagai penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung." (HR. Bukhori no. 4248)

Kedua, imam para Rasul dan Nabi Allah di dunia dan di akhirat. Penutup amanat risalah dan akhir Nabi dan Rasul. Pendobrak kerajaan iblis dan tentaranya yang bertahta dalam kerajaan jahiliyah. Pencabut akar kesyirikan dan pelumat segala kebatilan. Inilah yang telah digambarkan oleh Allah di dalam Al-Qur'an :

"Dan katakanlah : ((Telah datang kebatilan dan telah lenyap kebatilan, sesungguhnya kebatilan itu pasti akan lenyap))." (Al-Isra' : 81)

Dialah Muhammad shallallahu 'alaihi wa salam penutup Nabi dan Rasul. Tentang keberanian beliau telah dilukiskan oleh saksi mata yaitu para shahabat beliau dalam banyak hadits, Lihat kumpulan hadits tersebut yang menceritakan keberanian beliau dalam kitab As-Shahihul Musnad minasy Syama'il Muhammadiyyah jilid 1 halaman 216-225 karya Ummu Abdillah Al-Wadi'iyyah, putri dari As-Syaikh Muqbil Rahimahullah. Di antaranya:

"Dari Anas radliyallahu 'anhu, dia berkata: "Rasululah shallallahu 'alaihi wa salam adalah orang yang paling baik, manusia yang paling dermawan dan paling pemberani. Pada suatu malam penduduk Madinah dikejutkan oleh sebuah suara dan orang-orang berbondong-bondong menuju arah suara itu. Rasulullah shallalahu 'alaihi wa salam yang ternyata telah datang lebih dulu menyambut mereka dan mengatakan: "Janganlah kalian takut! Janganlah kalian takut!" Sambil beliau berada di atas kuda Abu Thalhah yang tidak berpelana. Di leher kuda tersebut tergantung pedang dan beliau berkata: "Kami menemukannya lari sangat kencang atau memang sangat kencang." (HR. Al-Bukhari no. 6033 dan Muslim no. 2307)

Al-Imam An-Nawawi berkata di dalam Syarah Shahih Muslim jilid 8 halaman 68 : "Di dalam hadits ini ada faidah-faidah diantaranya keterangan tentang sifat beraninya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam karena segeranya beliau menuju musuh sebelum orang lain untuk mengetahui keadaan dan kembali sebelum sampainya orang-orang".

Dari Ali radliyallahu 'anhu: Sungguh kami telah melihat diri kami pada perang Badar dalam keadaan berlindung di belakang Rasululah shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan beliau paling dekat diantara kami kepada musuh, dan beliaulah orang yang paling berani dalam pertempuran." (HR. Ahmad no. 654, dikeluarkan oleh An-Nasa'i dalam Al-Kubra 5/191 dan Thabrani dalam At-Tarikh no.2/530)

"Seorang berkata kepada Al Bara' bin Adzib radliyallahu 'anhu: "Apakah kalian lari dari Rasululah shallallahu 'alaihi wa sallam pada perang Hunain?" Beliau berkata: "Akan tetapi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak lari. Sesungguhnya penduduk Hawazan adalah pemanah-pemanah ahli. Maka ketika lami menjumpai mereka, kami hadapi mereka dan mereka kocar-kacir. Kaum Muslimin mendapatkan banyak ghanimah dan mereka datang menuntut pembagian. Sedangkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak lari sungguh aku menyaksikan beliau di atas keledai beliau yang putih dan Abu Sofyan memegang tali kekangnya dan beliau shallalahu 'alaihi wa sallam berkata: "Saya adalah Nabi tidak dusta, saya adalah anak Abdul Muthalib." (HR. Bukhori no. 2864 dan Muslim no. 1776)

Dan masih banyak lagi hadits-hadits yang menjelaskan sifat keberanian beliau yang tiada lain karena buah pendidikan wahyu dari Allah.

Ketiga, sederetan manusia hasil kaderisasi Rasulullah shallalahu 'alaihi wa sallam yang ditempa oleh tarbiyah beliau di atas wahyu Allah. Sebagai pilihan Allah untuk menemani Rasul-Nya dalam kepahitan perjalanan dakwah dan dalam suka duka hidup. Mereka adalah sebagai saksi-saksi Allah dimuka bumi ini. Merekalah para shahabat Nabi shallalahu 'alaihi wa sallam.

a). Zubair radliyallahu 'anhu

Az-Zubair bin 'Awwam Abu Abdillah Al-Qurasyi Al-Asadi, salah seorang dari sepuluh orang yang dijamin masuk ke dalam syurga oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Dari Jabir radliyallahu 'anhu, beliau berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada perang Badar: "Siapa yang (berani) datang dengan membawa berita kaum itu (Bani Quraidhah)?" Az-Zubair berkata: "Saya." Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Siapa yang berani datang membawa berita kaum tersebut? Az-Zubair berkata: "Saya." Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sungguh setiap Nabi memiliki pembela dan pembelaku adalah Az-Zubai." (HR. Al-Bukhori no. 265 dan Muslim no. 2415)

b). Ja'far bin Abi Thalib radliyallahu 'anhu.

Beliau adalah seorang shahabat mulia anak paman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan gugur sebagai syahid pada perang Mu'tah.

"Dari Abdullah bin Umar radliyallahu 'anhu beliau berkata: Bahwa Rasululah shallallahu 'alaihi wa salam telah mengangkat Zaid bin Al-Haritsah sebagai pemimpin (pasukan) pada perang Mu'tah. Beliau berkata: "Jika Zaid terbunuh, maka (akan diganti) dengan Ja'far dan jika Ja'far terbunuh maka (akan diganti) oleh Abdullah bin Rawahah." Abdullah bin Umar berkata: "Aku waktu itu ikut dalam peperangan tersebut, maka kami mencari Ja'far bin Abi Thalob dan kami menemukannya telah terbunub dan kami menemukan pada jasad beliau ada tujuhpuluh sekian tusukan pedang dan panah." (HR. Bukhari no. 4261 dengan Fathul Bari)

c). Khalid bin Walid radliyallahu 'anhu.

Khalid bin Walid bin Al-Mughirah Abu Sulaiman yang digelari saifullah (pedang Allah), pemimpin pada perang melawan kaum murtad dan selainnya dari peperangan. Beliau masuk Islam antara perjanjian Hudaibiyah dan pembukaan kota Mekkah. Tentang keberaniannya tidak bisa diringkas di sini. Cukuplah kita nukilkan ucapan beliau:

"Sungguh telah patah di tanganku pada perang Mu'tah sembilan pedang, dan tidak tersisa di tanganku kecuali pedang yang lebar dari Yaman." (HR. Bukhari no. 4265 dengan Fathul Bari)

d). Abu Dujanah Simmak bin Kharasyah radliyallahu 'anhu

"Dari Anas radliyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallalahu 'alaihi wa sallam mengambil sebuah pedang pada perang Uhud kemudian berkata: "Siapa yang akan mengambil pedang ini." Setiap orang dari mereka mengulurkan tangannya. Beliau bersabda: "Siapa yang akan mengambilnya dengan haknya?" Anas berkata: "Kaum tersebut menarik tangan-tangan mereka kembali. Lalu Sammak bin Kharasyah Abu Dujanah berkata: "Saya yang akan mengambil dengan haknya." (Anas) berkata: Lalu dia mengambilnya lalu dia menerjang kelompok musyrikin." (HR. Muslim no. 2470)

e. Umair bin Humam radliyallahu 'anhu

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih beliau no. 1951 dari shahabat Anas bin Malik radliyallahu 'anhu: Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersama para shahabat ingin keluar menghadang kafilah Abu Sufyan, sampailah beliau ke Badar mendahului kaum Musyrikin, lalu beliau berkata:

"Jangan salah seorang dari kalian maju sedikit pun sebelum aku ke depan." Maka mendekatlah orang-orang musyrik. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Berangkatlah kalian menuju syurga yang luasnya seluas langit dan bumi." Anas berkata: "Umair bin Humam Al-Anshari mengatakan: "Wahai Rasululah syurga yang luasnya seluas langit dan bumi?" Beliau menjawab: "Ya". Umair berkata: "bakh, bakh (ucapan yang menunjukkan ketakjuban). Rasulullah pun bertanya: "Apakah yang mendorongmu mengucapkan bakh, bakh?" Dia menjawab: "Tidak demi Allah hai Rasulullah, kecuali aku berharap termasuk dari penghuninya." Lalu dia mengeluarkan kurma dari tempat anak panahnya lalu dia memakannya beberapa butir darinya lalu berkata: "Kalau saya masih hidup sampai habis kurma ini sesungguhnya kehidupan yang lama." Anas berkata: Dia lalu melemparkannya kurma yang dibawanya kemudian berperang bersama mereka dan terbunuh. (HR. Muslim no. 1901)

Diceritakan oleh Abdullah bin Qais:

"Aku telah mendengar bapakku dan dia (waktu) itu berada di hadapan musuh seraya berkata: "Telah bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: ((Sesungguhnya pintu-pintu syurga berada di bawah pedang)). Berdirilah salah seorang yang keadaannya serba usang lalu berkata: "Hai Abu Musa, benarkah kamu telah mendengarnya dari Rasulullah?" Ia menjawab: "Benar". (Abu MUsa) berkata: Ia lalu kembali kepada teman-temannya dan mengatakan: ((Assalamu'alaikum)). Kemudian ia memecah sarung pedangnya dan membuangnya kemudian maju dengan pedang ke arah musuh, dia terus menebas dengan pedangnya sampai dia terbunuh." (HR. Muslim no. 1902)

Demikianlah seluruh para shahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah para pahlawan tiada tanding seperti Hamzah Asadullah, Ali, Thalhah, Umar, Sa'ad bin Abi Waqqash dan selain mereka. Perjalanan hidup mereka penuh dengan keberanian, kepahlawanan, kejantanan dan ketangkasan.

Semoga Allah memberikan kepada kita sifat yang mulia ini dan menjauhkan kita dari sifat kepengecutan dan ketakutan, Amiin.

Wallahu a'lam bishawwab.

Dikutip dari majalah Salafy Edisi sampul tentara.