REKENING DONASI MOSSDEF SYSTEM : BANK MU'AMALAT CABANG YOGYAKARTA NOMOR 0117546129 A/N NUGROHO AGUNG WIBOWO atau BANK BRI SYARIAH KCP JOGJA A DAHLAN A/N NUGROHO AGUNG WIBOWO NOREK. 1002252771.
  • Mossdef System adalah kependekan dari Moslem Self-Defence System atau juga bisa disebut dengan Moslem Street Fighting merupakan sebuah komunitas sistem pertahanan diri, pengembangan diri, pembinaan leadership dan pembinaan organisasi. [...]

  • Sebuah sistem pertahanan diri yang mudah di duplikasi, praktis, cepat, efektif dan fleksibel yang merupakan kombinasi dari teknik-teknik beladiri lainnya seperti Krav Maga, Haganah System, Systema SpatNaz, Soko Combat System, Tapak Suci, Jujutsu, Wing Chun, Sambo, Ninjitsu, Aikido, Tinju, Karate, Judo, kempo dan Thai boxing. Tetapi yang diutamakan dalam Mossdef System adalah kesederhanaan dalam menyerang namun membentuk sebuah pertarungan yang sangat efektif. [...]

  • Mossdef System merupakan sebuah sistem pertahanan diri yang diajarkan untuk kaum muslimin baik pria maupun wanita untuk menghadapi berbagai bentuk konfrontasi, aksi premanisme dan aksi tindak kejahatan di sekitar kita. [...]

  • Mossdef System memusatkan pada pelatihan-pelatihan teknik yang berlaku di kehidupan nyata, yaitu kehidupan yang penuh dengan konfrontasi, kekerasan premanisme dan tindak kejahatan, maka dari itu di dalam Mossdef System tidak ada komite dan aturan dalam menerapkan teknik-teknik Mossdef System di lapangan. [...]

Tampilkan postingan dengan label Akhlaqul Karimah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akhlaqul Karimah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Desember 2011

Posted by Nugroho Agung Wibowo On 08.29 0 komentar

Jadilah Orang Kaya yang Bersyukur atau Orang Miskin yang yang Sabar


Masalah ini telah diperdebatkan secara panjang lebar oleh kedua golongan tersebut. Masing-masing berhujjah dengan dalil-dalil yang kuat yang tidak mungkin bisa dibantah dari Al-Kitab dan As-Sunnah serta atsar-atsar para shahabat dan ulama. Jika orang memperhatikan dalil-dalil yang mereka bawakan, ia akan melihat bahwa kedua-duanya sama kuatnya. Padahal kita telah mengetahui bahwa al-haq tidak mungkin saling bertentangan.

Maka Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya 'Uddatus Shabirin menjelaskan bahwa kedua-duannya haq, karena antara syukur dan sabar ada hubungan yang tidak mungkin bisa dipisahkan. Syukur tidak akan sempurna kecuali dengan sabar dan sabar tidak akan sempurna kecuali dengan syukur.

Orang kaya yang bersyukur tentunya dia harus sabar dengan ujian kekayaannya dan fitnahnya dunia, demikian pula sebaliknya orang miskin yang sabar tentunya dia harus bersyukur dengan apa yang Allah berikan walau pun sedikit. Sehingga kadang-kadang syukur dan sabar bermakna sama dalam konteks tertentu.

Kita telah mengetahui bahwa syukur mempunyai rukun-rukun yang harus dikerjakan.
1. Mengakui bahwa kenikmatan tersebut itu dari Allah.
2. Memuji Allah sebagai pemberi.
3. Menggunakan kenikmatan tersebut sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah.

Sedangkan sabar adalah tetap dalam perintah dan hukum Allah walaupun berbagai kesulitan dan halangan serta musibah menimpanya sebagaimana disebutkan dalam surat At-Thur ayat 48 yaitu :
"dan bersabarlah terhadap hukum Rabb-mu karena sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami ..."

Jika demikian definisi syukur dan sabar, maka syukur adalah dengan cra menggunakan kenikmatan dalam taat kepada Allah sedangkan sabar adalah tetap di dalam ketaatan kepada Allah apa pun cobaan yang menimpanya.

Ibnul Qayyim mengatakan : "Jika telah diketahui demikian, maka sabar dan syukur saling berkaitan erat satu dengan yang lainnya, tidak mungkin ada salah satunya tanpa yang lain. Hanya saja kadang-kadang diungkapkan dengan salah satunya karena dianggap lebih dominan dalam keadaan tertentu."

Kita bisa contohkan dengan ungkapan di atas "orang kaya yang bersyukur" karena memang yang menonjol pada orang kaya adalah rasa syukurnya, walaupun sesungguhnya dia harus bersabar dengan cobaan dunia dan kekayaan. Sebaliknya diungkapan pula "orang yang miskin yang sabar" karena memang yang menonjol pada orang miskin adalah kesabarannya. Walau pun dia tetap dituntut untuk syukur karena selamatnya dia dari cobaan dunia dan walau pun terlihat sedikit dia telah mendapatkan kenikmatan besar yang harus disyukuri.

Lebih jelasnya kita lihat firman-firman Allah Subhanahu wa Ta'ala yang menunjukkan bahwa kekayaan dan kemiskinan, kesusahan dan kemudahan, kebaikan dan kejelekan semuanya merupakan cobaan dan ujian yang harus dihadapi dengan sabar :
"Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya)." (Q.S. Al-Anbiya' : 35)
"Adapun manusia apabila Rabb-nya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata : Rabb-ku telah memuliakanku. Adapun bila Rabb-nya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata : Rabb-ku menghinakanku." (Q.S. Al-Fajr : 15-16)
"Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya." (Q.S. Al-Kahfi : 7)
"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya." (Q.S. Al-Mulk : 2)
"Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah d antara kamu yang lebih baik amalnya." (Q.S. Hud : 7)

Dalam surat Al-Anbiya' di atas Allah menyatakan bahwa kebaikan dan kejelekan merupakan fitnah. Kemudian dalam surat Al-Fajr Allah menyatakan jika Allah memberikan kebaikan ataupun sebaliknya menahan rezeki, maka kedua-duanya adalah ibtila' atau cobaan juga. Demikian pula pada ayat-ayat berikutnya pada Al-Kahfi, Al-Mulk dan Hud diatas. Semuanya menunjukkan bahwa harta perhiasan dunia, hidup atau mati, penciptaan langit dan bumi, semuanya itu adalah ujian untuk megetahui siapa yang paling baik amalannya. Dengan kata lain, semuanya itu ujian untuk mengetahui siapa yang bersabar.

Oleh karena itu para shahabat ridwanullahi 'alaihim 'ajma'in mengatakan, "Kita diuji dengan kesusahan kita bisa sabar. Tetapi ketika kita diuji dengan kemudahan (kekayaan) kita tidak sabar."

Sebaliknya kemiskinan, penyakit, hilangnya kenikmatan dunia juga dari sisi lain merupakan kenikmatan yang harus disyukuri, yaitu selamatnya dia dari godaan dunia. Oleh karena itu Ibnul Qayyim berkata : "Ar-Rabbu Ta'ala kadang-kadang memberi cobaan dengan kenikmatan dan memberikan kenikmatan dengan bencana."

Inilah yang menyebabkan Umar ibnu Khattab radliyallahu 'anhu berkata : "Kalau syukur dan sabar adalah dua kuda tunggangan, maka aku tidak peduli yang mana yang akan aku naiki."

Kesimpulannya Ibnul Qayyim rahimahullah mendudukkan kedua-duanya seimbang. Dan kedua-duannya saling berkaitan. Tidak sempurna syukur tanpa sabar dan tidak pula sempurna sabar tanpa syukur. Beliau berkata : "Kesimpulannya, yang paling utama di antara keduanya adalah yang paling taqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, apakah dia orang kaya atau pun orang miskin. Jika keduanya sama ketaqwaannya maka sama pula keutamaannya. Karena Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak mengutamakan seseorang dengan kekayaan atau kemiskinan, tidak pula dengan bencana atau pun keselamatan. Tetapi Allah memuliakan seseorang dengan ketaqwaan. "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu." (Q.S. Al-Hujurat : 13)

Sedangkan ketaqwaan dibangun di atas dua landasan : sabar dan syukur. Apakah dia orang kaya atau pun orang miskin, harus menyempurnakan kedua-duanya. Barangsiapa sabar dan syukurnya lebih sempurna, maka dia lebih utama.

(Disarikan dari kitab 'Uddatus Shabirin wa Dzakhiratus Syakirin cetakan Daar Ibnu Katsir, tahun 1993 M / 1414 H, karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyah)

Jumat, 07 Januari 2011

Posted by Nugroho Agung Wibowo On 14.31 0 komentar

Tawakkal Pada Dia Yang Di Atas


Di tengah ketidakpastian nasib negara kita sekarang ini, banyak kita dapati kaum Muslimin goncang keimanannya dan ragu hatinya akan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sehingga di antara mereka ada yang lari dari jalan kebenaran dan bahkan ada yang murtad dari agamanya.Yang demikian itu karena gentarnya mereka dengan kekuatan musuh-musuh Islam dari jauhnya mereka dari akhlak tawakkal kepada Allah ta'ala. Padahal akhlak ini sangat membantu kaum Muslimin untuk menenangkan jiwa mereka dari rongrongan mental yang terus digencarkan oleh musuh-musuh Islam dengan berbagai sarana yang mereka miliki. Begitu mulianya akhlak ini sehingga Allah memerintahkan kaum Mukminin untuk memilikinya. Allah berfirman:
"Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang Mukminin itu bertawakkal." (Ibrahim: 11)
"Dan bertawakkalah kepada Allah Yang hidup (kekal), Yang tidak mati." (Al-Furqan: 58)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang menjelaskan akhlak mulia ini. Keagungan akhlak ini telah dibuktikan langsung oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya -- semoga Allah meridlai mereka semua --, ketika kaum musyrikin ingin kembali menyerang pasukan Muslimin setelah Perang Uhud agar binasa seluruh kaum Muslimin bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Namun dengan akhlak ini Allah menyelamatkan mereka dan melemparkan rasa takut pada hati-hati kaum musyrikin sehingga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabatnya selamat tanpa mendapat bencana yang ditakut-takutkan kepada mereka. Satu ungkapan yang mereka ucapkan ketika mendengar kabar bahwa kaum musyrikin akan menyerang mereka dengan jumlah yang besar adalah:
"Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung."

Allah mengabdikan kisah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabatnya serta ungkapan ini dalam firman-nya:
"Yaitu orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul-Nya) yang kepada mereka ada orang-orang yang berkata: ((Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, karena itu takutlah pada mereka)). Maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: ((Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung)). Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah. Mereka tidak mendapatkan bencana apa-apa, mereka mengikuti keridlaan Allah dan Allah mempunyai karunia yang besar." (Ali-Imran: 173-174)

Ungkapan seperti di atas juga diucapkan oleh Nabi Ibrahim 'alaihis salam ketika beliau dilemparkan ke dalam api oleh kaumnya seperti yang diriwayatkan Bukhori dalam kita Shahihnya.

Akhlak yang agung ini tidaklah begitu saja dapat dimiliki oleh setiap Mukmin tanpa ia memiliki al-yaqin (keyakinan pada Allah). Sebab tawakkal adalah buah dan hasil dari suatu keyakinan, sebagaimana dinyatakan oleh Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam Madarijus Salikin 2/414.

Dan yang dikatakan tawakkal adalah ketulusan penyandaran hati kepada Allah 'Azza wa Jalla dalam mencapai maslahat dan menolak mudlarat pada seluruh urusan dunia dan akhirat dan diserahkannya seluruh urusan itu kepada-Nya serta memantapkan keimanan bahwa tidak ada yang memberi, mencegah, memudlaratkan dan memberi manfaat kecuali hanya Allah semata. (Iqadlul Himam 628)

Semua ini tidak mungkin terwujud tanpa keyakinan. Karena tidaklah seseorang bertawakkal pada selainnya kecuali ia meyakini pada selainnya itu ada tiga perkara: kasih sayang, kekuatan dan hidayah. Dan ini hanya ada pada Allah kesempurnaannya.

Tidaklah sempurna tawakkal seorang hamba kecuali dengan kekuatan hati sekaligus kuatnya keyakinan.

Sesungguhnya seseorang yang bertawakkal kepada Allah ada tiga keadaan:

Pertama: Seseorang meyakini dan percaya bahwa Allah yang menjaminnya dan menolongnya.

Kedua: Keadaan seseorang dengan Allah seperti keadaan anak kecil dengan ibunya karena anak kecil tidaklah kenal selain ibunya dan tidak berlindung kecuali kepadanya. Jika ia menginginkan sesuatu maka pertama kali yang terbetik di hatinya dan yang diucapkan lisannya ialah "wahai ibu".
Siapa yang bertawakkal seperti ini kepada Allah sungguh ia adalah orang yang betul-betul bertawakkal. Keadaan yang kedua ini lebih kuat dari keadaan yang pertama.

Ketiga: Seseorang di hadapan Allah keadaannya seperti mayat di hadapan orang yang memandikannya, yang benar-benar pasrah terhadap apa yang dilakukan pada dirinya. Keadaan yang ketiga ini lebih tinggi derajatnya dibanding dua keadaan sebelumnya.

Seluruh keadaan ini ada pada hamba, akan tetapi sulit untuk terus menerus memilikinya, terlebih lagi keadaan yang ketiga. (Dinukil dari Mukhtashar Minhajul Qasidin hal. 332-333)

Demikian pentingnya peran tawakkal ini dalam hidup manusia, oleh karena itu seharusnya kita segera memilikinya kalau kita tidak ingin hidup dibayangi ketakutan, kecemasan, kengerian dan dengan bayang-bayang ketidakpastian.

Walaupun demikian bukan berarti akhlak tawakkal menyuruh kita untuk meninggalkan usaha dan hanya melamun saja. Tidak! Ini adalah anggapan bodoh sebagian manusia tentang akhlak ini. Mereka ini adalah para pemalas yang berdalil dengan tawakkal. Padahal Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai kekasih Allah yang paling bertawakkal kepada-Nya juga memakai baju besi ketika berperang, menutup pintu rumahnya dan menyuruh shahabatnya untuk mengikat untanya kemudian bertawakkal kepada Allah. Ini sebagai bukti bahwa tawakkal yang benar adalah dengan usaha untuk mendapat manfaat atau menolak mudlarat.

Allah ta'ala menjamin bagi orang yang memiliki akhlak ini dengan firman-Nya :
"Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya." (Ath-Thalaq : 3)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan bahwa tawakkal kepada Allah adalah salah satu ciri orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.
"Mereka adalah orang-orang yang tidak minta diruqyah, tidak minta dikai (pengobatan dengan besi panas), tidak bertathayyur (menganggap sial dengan tanda burung atau lainnya) dan mereka hanya bertawakkal kepada Tuhan mereka." (Muttafaqun alaihi)

Sebaik-baik akhlak adalah akhlaknya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Di kutip dari Majalah Salafy Edisi 36

Sabtu, 27 Maret 2010

Posted by Nugroho Agung Wibowo On 10.32 0 komentar

Sunnah Berucap Baik Dan Menampakkan Wajah Berseri-seri Ketika Berjumpa


Berkata Al Imam An Nawawi Rahimahullah dalam kitab beliau Riyadhus Sholihin:

Allah Ta’ala Berfirman :

“Dan berendah hatilah kamu terhadap orang-orang yang beriman”. (Al Hijr: 88)

“Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, niscaya mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu”. (Al Imran: 159)

Dari ‘Adi Bin Hatim Radhiyallahu ‘anhu, Berkata Rasulullah Shollallahu ‘alayhi wa aalihi wa sallam :

“Takutlah kalian dari api neraka, walaupun hanya dengan bershodaqoh sebiji kurma. Barangsiapa yang tidak punya sebiji kurma, maka hendaklah bershodaqoh dengan perkataan yang baik”. (HR. Bukhori no.1417 dan Muslim no.1016)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi Shollallahu ‘alayhi wa aalihi wa sallam bersabda :

“Dan perkataan yang baik termasuk shodaqoh”. (HR. Bukhori no. 2707 dan Muslim no. 1009)

Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu, Berkata Rasulullah Shollallahu ‘alayhi wa aalihi wa sallam :

“Janganlah kalian menganggap remeh kebaikan sekecil apapun, walaupun salah seorang dari kalian bertemu saudaranya hanya dengan wajah yang berseri-seri”. (HR. Muslim no. 2626)

Penjelasan Syaikh Muhammad Bin Sholih Al ‘Utsaimin Rahimahullah berkenaan dengan ayat dan hadits diatas (Syarh).

Apabila seseorang berjumpa dengan saudaranya sesama muslim, maka hendaknya dia menampakkan kegembiraan dengan wajah yang berseri-seri dan berkata dengan tutur kata yang baik. Karena sesungguhnya perbuatan yang demikian ini merupakan akhlaq Nabi Shollallahu ‘alayhi wa aalihi wa sallam. Dan sikap seperti ini tidaklah menurunkan kewibawaan seseorang, melainkan akan mengangkat derajatnya dan mendapatkan balasan dan pahala dari sisi Allah ‘azza wa jalla.

Seorang muslim hendaknya menampakkan wajah yang berseri-seri ketika berjumpa dengan saudaranya dan berkata dengan tutur kata yang baik, demi memperoleh pahala, loyalitas (kecintaan) dan kasih sayang sesama saudaranya. Karena jika kaum muslimin membiasakan diri dengan akhlaq seperti ini, maka akan dapat mencegah mereka dari sifat sombong dan mendidik kepribadiannya untuk tidak berbangga-bangga diri atas saudaranya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

“Dan berendah hatilah kamu terhadap orang-orang yang beriman”. (Al Hijr: 88)

Berendah hati dalam ayat diatas yaitu bersikap lembut dan tawadhu’ terhadap kaum mu’minin (bukan berendah diri: minder, -red), karena sesungguhnya setiap mu’min pantas diperlakukan demikian. Adapun sikap terhadap orang-orang kafir, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala membimbing kita dengan firman-Nya :

“Wahai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafiq serta bersikap keraslah terhadap mereka. Dan tempat mereka adalah neraka jahannam, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. (At-Tawbah: 73)

Pada asalnya hanya kaum mu’minin saja yang berhak diberikan rasa simpatik dengan menampakkan kegembiraan dan wajah yang berseri-seri. Namun jika ada dari orang kafir yang diharapkan keislamannya, maka hendaknya kita bergaul dengan mereka juga menampakkan kegembiraan dan wajah yang berseri-seri. Karena dengan sikap seperti itu, kita dapat mengambil manfaat ketika berjumpa dengan mereka, yaitu dalam rangka meluluhkan hati mereka, sehingga dengan mudah mereka mau merujuk kepada Islam. Akan tetapi jika kita bersikap tawadhu’ dan menunjukkan rasa simpatik kepada orang kafir itu, dan ternyata justru membuat dia besar diri dan semakin bertambah kesombongannya terhadap kaum mu’minin, maka dalam konteks ini kita dilarang untuk menunjukkan sikap ramah kepadanya.

Ketahuilah, dengan wajah yang berseri-seri sahabatmu akan merasa gembira gegap gempita dan penuh semangat ketika berjumpa. Dia akan membedakan orang-orang yang pernah berjumpa dengannya yakni antara orang-orang yang bermuka masam, dengan orang-orang yang wajahnya berseri-seri. Nabi Shollallahu ‘alayhi wa aalihi wa sallam menasehati Abu Dzar Al Ghifari Rodhiyallahu ‘anhu:

“Janganlah kalian menganggap remeh kebaikan sekecil apapun, walaupun salah seorang dari kalian bertemu saudaranya hanya dengan wajah yang berseri-seri”. (HR. Muslim no. 2626)

Menampakkan wajah yang berseri-seri memiliki nilai kebaikan, karena dengan demikian dapat membuat saudaramu senang dan menjadikan hatinya lapang. Kemudian jika sikap ini digandengkan dengan tutur kata yang baik, maka akan menjadi dua kebaikan yang saling melengkapi. Nabi Shollallahu ‘alayhi wa aalihi wa sallam bersabda :

“Takutlah kalian dari api neraka, walaupun dengan bershodaqoh sebiji kurma..”

Hendaknya kalian jadikan pelindung; antara kalian dengan api neraka yakni dengan bershodaqoh sebiji kurma. Karena amalan shodaqoh akan melindungi kalian dari api neraka, tentunya jika Allah menerima shodaqoh kalian. Namun apabila kalian tidak memiliki sebiji kurma, maka Rasulullah Shollallahu ‘alayhi wa aalihi wa sallam memberikan alternatif lain yang juga dapat melindungi kalian dari api neraka yakni berupa perkataan yang baik. Seperti kalian bertanya tentang keadaan sahabat kalian “kayfa anta?”, “kayfa haluka?” (bagaimana kabarmu?), “kayfa ikhwanuka?” (bagaimana kabar saudara-saudaramu?), “kayfa ahluka?” (bagaimana kabar keluargamu?) dan semisalnya. Dimana sikap seperti ini dapat menjadi sebab gembiranya sahabat kalian dan melapangkan hatinya. Ketahuilah, bahwa semua perkataan yang baik termasuk shodaqoh, dan Allah akan memberikan ganjaran serta pahala bagi siapa yang mengamalkannya. Sebagaimana sabda Nabi Shollallahu ‘alayhi wa aalihi wa sallam :

“Kebaikan itu adalah akhlaq yang baik”

Dan Nabi ‘Alaihish sholatu wassalam juga bersabda :

“Kaum mu’minin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaqnya”


Sumber :
Syarh Riyadhus Sholihin hal. 581-582
Syaikh Muhammad Bin Sholih Al-‘Utsaymin Rahimahullah

Posted by Nugroho Agung Wibowo On 10.25 0 komentar

Refleksi Hati


Mengikhlaskan niat untuk Allah Ta’ala maknanya ialah seseorang beribadah kepada Allah dengan tujuan mendekatkan diri (taqorrub) kepada-Nya dan untuk mengantarkannya ke surga-Nya.

Adapun apabila dikatakan bahwa seseorang mempunyai orientasi lain dalam ibadahnya, maka disini terdapat perincian hukum atasnya:

Yang pertama, seseorang beribadah dalam rangka mendekatkan diri kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan juga berupaya mendapatkan sanjungan dan pujian dari manusia atas amalan yang telah dilakukannya. Maka amalan dalam kategori yang pertama ini sia-sia. Dan perbuatan yang demikian ini termasuk syirik kepada Allah. Dalam riwayat yang shahih dinyatakan, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu; bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Aalihi Wa Sallam bersabda:

“Allah Ta’ala berfirman: “Aku adalah yang paling tidak membutuhkan sekutu-sekutu dari segala bentuk persekutuan. Maka barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan dalam rangka menyekutukan Aku, sungguh Aku meninggalkan dirinya dan para sekutunya.” (HR. Muslim no. 2985)

Yang kedua, seseorang beribadah dalam rangka menyalurkan ambisinya terhadap kesenangan duniawi; seperti kepemimpinan, kemegahan dan harta. Dan dia beramal dengan amalan ibadah tanpa disertai niat dan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Maka amalan dalam kategori yang kedua ini pun termasuk sia-sia. Allah Ta’ala berfirman:

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami akan berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka didunia dengan sempurna dan mereka didunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh apa-apa di akhirat; kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah di usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan”. (Huud: 15-16)

Perbedaan antara amalan yang pertama dan kedua ialah bahwa yang pertama tujuannya untuk mendapatkan sanjungan dan pujian manusia pada amalan ibadahnya. Adapun yang kedua tidak mempunyai tujuan untuk itu, bahkan dia menganggap tidak begitu penting sanjungan dan pujian manusia ketika menjalankan segenap amalan-amalan ibadah.

Yang ketiga, seseorang beribadah kepada Allah dalam rangka mendekatkan diri kepada-Nya dan juga disertai keinginan memperoleh tujuan duniawi sebagai hasilnya. Seperti orang yang melakukan thaharah (bersuci) dengan niat beribadah kepada Allah Ta’ala dan juga disertai niatan lain yakni untuk menyegarkan badan dan menghilangkan keringat, atau seperti orang pergi haji disertai niat untuk menyaksikan tempat-tempat manasik haji dan melihat bukti-bukti bersejarah yang ada disana; maka perbuatan semisal ini dapat mengurangi pahala keikhlasan. Akan tetapi jika niat beribadah kepada Allah tersebut lebih dominan; maka sungguh telah luput darinya pahala yang sempurna. Dan perbuatannya itu tidaklah dianggap dosa bagi dirinya, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Bukanlah suatu dosa bagimu mencari karunia dari Tuhan-mu”. (Al-Baqarah: 198)

Namun jika ternyata niatnya lebih cenderung ditujukan untuk selain beribadah kepada Allah, maka tidak ada pahala baginya diakhirat kelak, dan dia hanya mendapatkan ganjaran didunia. Aku merasa khawatir bahwa orang yang mempunyai niat seperti ini akan berdosa, karena dia menjadikan ibadah sebagai perantara untuk mendapatkan kesenangan duniawi yang tidak berharga, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Dan diantara mereka ada yang mencelamu tentang (pembagian) sedekah; jika mereka diberi bagian, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi bagian, tiba-tiba mereka marah”. (At-Taubah: 58)

Dalam Sunan Abu Dawud dinyatakan, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu:

“Bahwa seorang pria berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam, “Ada seseorang yang ingin berjihad dijalan Allah akan tetapi dia juga menginginkan harta benda dari harta-harta dunia”, maka berkata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam: “Tidak ada pahala baginya” (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Aalihi Wa Sallam mengulangi pernyataannya tersebut sebanyak tiga kali).

Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Aalihi Wa Sallam juga bersabda:

“Barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yang ingin dicapainya atau kepada wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang dia upayakan dengannya”. (HR. Abu Dawud no. 2516 dan Ahmad jilid 2/366)

Jika kualitas niatnya sebanding yakni 50% dari kadar niatnya ditujukan untuk beribadah kepada Allah dan 50% lagi ditujukan untuk selain beribadah kepada Allah, maka disini perlu penelitian. Namun yang paling dekat ialah tidak ada pahala baginya sama seperti orang yang niat beramal untuk Allah dan juga untuk selain-Nya.

Perbedaan antara contoh diatas dengan contoh sebelumnya (yang ketiga) ialah bahwa tujuan beribadah kepada selain Allah dalam contoh yang ketiga (ketika bersuci) akan memperoleh sesuatu yang tidak mungkin dihindari (yakni menyegarkan badan). Maka keinginannya ialah keinginan yang menghasilkan sesuatu secara tidak langsung. Dan seolah-olah terkesan bahwa dia menginginkan dari amalan yang dilakukannya itu untuk kepentingan dunia (menyegarkan badan). Jika dikatakan: “Apa yang menjadi timbangan dalam contoh tersebut diatas bahwa niatnya lebih dominan ditujukan untuk beribadah kepada Allah atau sebaliknya?” Syaikh rahimahullah menjawab: yang dijadikan timbangan ialah apabila dia menganggap tidak perlu segala bentuk niatan selain ibadah; menghasilkan atau tidak, maka ini sebagai bukti yang menunjukkan bahwa niatnya dalam beribadah kepada Allah lebih dominan, begitu juga sebaliknya.

Walhasil niat itu ialah apa yang terbetik didalam hati. Dan perkara niat ini memiliki pengaruh yang besar dan krusial. Niat terkadang dapat memuliakan seorang hamba hingga mencapai derajat Ash-Shiddiqiin (orang-orang yang jujur), dan juga terkadang dapat merendahkan derajat seorang hamba sehingga menjadi makhluk yang teramat hina, berkata sebagian Salaf:

“Apa yang diupayakan diri dalam menempuh sesuatu, upayakanlah diatas keikhlasan”

Kita memohon kepada Allah agar menganugrahkan pada diri kita keikhlasan niat dan amalan yang shalih.

Majmu' Fatawa Wa Rasa'il, 1/98-100
Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-'Utsaimin Rahimahullah

Rabu, 03 Februari 2010

Posted by Nugroho Agung Wibowo On 21.32 0 komentar

Beberapa Akhlaq Yang Tercela Menurut Pandangan Islam


Setelah kita mengerti kerangka dan kriteria akhlaqul karimah , kita perlu mengerti pula kerangka dan kriteria akhlaqudz dzamimah (yakni akhlaq yang tercela). Agar kita dapat lebih dalam lagi memahami akhlaqul karimah , sehingga dapat lebih mudah lagi mengamalkannya. Akhlaq yang tercela telah dipaparkan dalam Al-Qur'an dan Al-Hadits, adalah dalam rangka menimbulkan perasaan anti pati dalam diri kita terhadapnya.

Adapun akhlaqudz dzamimah , tumbuh dalam kerangka perbuatan kemusyrikan dan kebid'ahan dan dalam rangka mengekor kepada hawa nafsu. Karena itu kita dapati, bahwa Islam amat mencela perbuatan syirik, bid'ah dan mengekor kepada hawa nafsu. Segala kerusakan akhlaq, adalah bersumber dari ketiganya. Hal ini dinyatakan oleh Allah dan Rasul-Nya dalam Al-Qur'an dan Al-Hadits sebagai berikut:

1). Syirik sebagai kedhaliman yang paling besar dan menumbuhkan mental penakut:

“Sesungguhnya syirik itu adalah kedhaliman yang besar.” ( Luqman : 13).

Allah Ta'ala menegaskan pula tentang mental penakut pada orang yang berbuat syirik:

“Kami akan memasukkan rasa takut yang dahsyat dalam hati orang-orang kafir akibat perbuatan mereka menyekutukan Allah dengan yang lain-Nya yang tidak diperintahkan oleh-Nya. Dan tempat kembali mereka itu adalah neraka, sebagai tempat kembali yang sejelek-jeleknya bagi orang-orang yang berbuat dhalim.” ( Ali Imran : 151).

2). Bid'ah sebagai sumber kesesatan dan penyimpangan agama, sebagaimana hal ini dinyatakan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam :

“Dan hati-hatilah kalian dari perkara yang dibikin-bikin dalam agama, karena semua yang dibikin-bikin itu adalah bid'ah dan semua yang bid'ah itu adalah sesat.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi dalam Sunan keduanya).

3). Hawa nafsu, sebagai sebab terbesar terjadinya kemusyrikan dan kebid'ahan serta segala penyimpangan lainnya. Allah Ta'ala menegaskan tentang betapa jahatnya orang yang selalu menuruti hawa nafsunya:

“Tidakkah engkau melihat orang-orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya. Apakah engkau akan menjadi pembela terhadap mereka ini? Apakah engkau menyangka bahwa kebanyakan mereka itu mendengar dan memikirkan apa yang engkau sampaikan, mereka itu tidak lain keadaannya seperti binatang ternak atau bahkan lebih rendah.” ( Al-Furqan : 43 – 44).

Menjadikan hawa nafsu sebagai sesembahan itu maknanya ialah menuruti selera hawa nafsu itu apapun yang dimaukannya. (Lihat Tafsir At-Thabari tentang ayat-ayat tersebut).

Dari tiga akhlaq yang tercela ini, muncullah berbagai pelanggaran akhlaq, karena dengan ketiganya disingkirkanlah otoritas agama sebagai pengatur dan pembimbing kehidupan di dunia ini. Sehingga muncullah segala malapetaka pada segenap aspek kehidupan ummat manusia seperti sekarang ini.

Senin, 03 Agustus 2009

Posted by Nugroho Agung Wibowo On 08.27 0 komentar

Malu, Hanyalah Mendatangkan Kebaikan


Akhlak yang mulia adalah akhlaknya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta'ala memuji kemuliaan akhlak Rasul-Nya ini di dalam Al-Quranul Karim sebagaimana firman-Nya:
"Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung." (Al-Qalam: 4)

Ummul mukminin Aisyah radliyallhu 'anha ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka ia pun menjawab: "Akhlak beliau adalah Al-Qur'an." (HR. Muslim)

Demikian pula Anas radliyallahu 'anhu menyatakan bahwa beliau shallallahu 'alaihi wa sallam adalah manusia yang paling bagus akhlaknya (dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berpesan di dalam sabdanya:
"Sesungguhnya yang paling baik di antara kalian ialah yang paling bagus akhlaknya." (HR. Bukhari dan Muslim dari 'Abdullah bin 'Amr bin 'Ash)

Jika demikian keadaannya dan nilainya akhlak karimah, maka sepantasnya kita untuk berakhlak dengan akhlak yang mulia sebagaimana akhlaknya Khairul Anam (sebaik-baik manusia) shallallahu 'alaihi wa sallam.

Di antara akhlak-akhlak yang mulia ialah:

Malu

Akhlak ini adalah warisan para nabi yang terus diambil dan diamalkan dari generasi ke generasi hingga sampai ke umat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ini, sebagaimana sabda beliau:
"Sesungguhnya apa yang diperoleh manusia dari ucapan kenabian yang pertama ialah: kalau kamu tidak malu maka lakukanlah yang kamu kehendaki. (HR. Bukhari dalam Kitabul Adab 7/100 dari Abu Mas'ud radliyallahu 'anhu)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai imam seluruh Nabi Allah adalah seorang yang sangat pemalu bahkan lebih malu daripadaseorang gadis yang berada dalam pingitan. Malu juga sifatnya para malaikat Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Sebaik-baik akhlak adalah akhlak Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Wallahu a'lamu bish-shawaab.

Dikutip dari Majalah Salafy edisi XXVIII.

Kamis, 30 Juli 2009

Posted by Nugroho Agung Wibowo On 21.26 0 komentar

Memuliakan Tetangga


Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"... Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia memuliakan tetangganya ..."

Hadits ini menjelaskan perkara memuliakan tetangga dan larangan untuk menyakitinya. Ulama telah menjelaskan perkara mulia ini di dalam kitab-kitab mereka yang dapat kita ambil faedahnya di dalam point-point berikut ini:

1. Wasiat tentang Tetangga

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada dua ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri." (An-Nisa': 36)

Di dalam ayat ini Allah mengumpulkan antara penyebutan hak-Nya terhadap hamba dan hak hamba dengan sesamanya, dan di antara hak-hak sesama hamba itu ialah hak tetangga. Ini menunjukkan betapa penting dan agungnya hak tetangga. Apalagi dengan seringnya wasiat atau pesan untuk berbuat baik terhadap tetangga, seperti yang diriwayatkan dari Aisyah dan Ibnu 'Umar radliyallahu 'anhuma dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:
"Jibril terus-menerus mewasiatkan kepadaku tentang tetangga hingga aku menyangka tetangga akan mewarisi harta." (Muttafaqun 'alaihi)

Memberi salam, bermuka manis (tersenyum) ketika bertemu adalah perbuatan baik terhadap tetangga, dan bila kita mampu, membantunya ketika ia sedang dalam kesusahaan, memberinya hadiah atau yang serupa dengan itu yang sesuai dengan kemampuan, dan menjaga mereka dari bahaya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berpesan kepada Abu Dzar di dalam sabda beliau:
"Wahai Abu Dzar apabila engkau memasak makanan yang berkuah banyakkanlah kuahnya dan perhatikan tetanggamu." (HR. Muslim)

Dari sikap saling memberi hadiah antar sesama tetangga akan menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang, walaupun pemberiannya tidak seberapa, dan dilarang untuk menganggap rendah pemberian karena semuanya adalah perkara baik dan mulia.

Beranjak dari ketentraman tetangga, manusia pun akan mendapatkan keharmonisan yang mereka harapkan yaitu keharmonisan bermasyarakat.

2. Haramnya Menyakiti Tetangga

Setiap muslim diharamkan untuk menyakiti seorang manusia pun tanpa alasan yang haq, dan menyakiti tetangga jauh lebih diharamkan. Tentang keharamannya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Sungguh seorang lelaki berzina dengan sepuluh orang wanita lebih baik baginya daripada ia berzina dengan istri tetangganya, dan sungguh seorang lelaki mencuri dari sepuluh rumah lebih ringan baginya daripada ia mencuri dari rumah tetangganya." (Shahih, lihat Shahihul Jami' 4919 karya Asy-Syaikh Al-Albani)

Zina adalah suatu kemungkaran dan kenistaan yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan syari'at telah menetapkan hukum bagi para pelakunya. Akan tetapi berzina dengan istri tetangga jauh lebih haram dan lebih mungkar, demikian pula dengan mencuri. Karena yang demikian berarti merusak kehormatan tetangganya.

Tetapi sungguh sangat menyedihkan keadaan masyarakat kaum muslimin di zaman ini. Mereka menganggap zina yang terjadi antar tetangga hanyalah perselingkuhan biasa yang tidak perlu terlalu dihebohkan, sehingga dengan anggap seperti ini rusaklah nilai-nilai Islam yang telah ditetapkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam masalah ini.

Di dalam riwayat lain Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Demi Allah tidaklah beriman, demi Allah tidaklah beriman, demi Allah tidaklah beriman." Ditanyakan: 'Siapa wahai Rasulullah?' Beliau menyatakan: 'Seorang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya'." (Muttafaqun 'alaihi). Dalam riwayat Muslim: "Tidaklah masuk syurga orang-orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya."

Ibnu Baththal menjelaskan hadits ini dengan menyatakan: "Di dalam hadits ini terdapat penekanan hak tetangga karena sumpah Rasulullah tentangnya dan pengulangan tersebut hingga tiga kali. Dan di dalmnya juga terdapat peniadaan iman bagi orang-orang yang menyakiti tetangganya apakah dengan ucapan atau perbuatan, dan yang dimaksud dengan iman ialah kesempurnaannya, tanpa diragukan lagi bahwa pelaku maksiat tidaklah sempurna imannya." (Fathul Bari 13/53)

3. Model-Model Tetangga

Tetangga yang harus kita perhatikan ada tiga macam:
1. Tetangga muslim yang memiliki hubungan keluarga, mereka adalah orang-orang yang mempunyai hak tetangga, hak sesama muslim dan hak kekerabatan.
2. Tetangga muslim, mereka memiliki hak tetangga dan hak sesama muslim.
3. Tetangga non muslim, mereka hanya memiliki hak tetangga.

Dalam menyikapi tiga model tetangga ini, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berpesan kepada Aisyah radliyallahu 'anha ketika Aisyah bertanya kepada beliau:
"Wahai Rasulullah sesungguhnya aku mempunyai dua tetangga, maka kepada mana yang dahulu aku memberikan hadiah?" Rasulullah menjawab: "Kepada yang paling dekat pintunya dengan rumahmu." (HR. Bukhari).

Sebaik-baik akhlak adalah akhlak Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Wallahu a'lamu bish-shawaab.

Di kutip dari Majalah Salafy edisi XXVIII.

Minggu, 12 Juli 2009

Posted by Nugroho Agung Wibowo On 21.40 0 komentar

Sabar Dalam Meniti Al Haq


Meniti jejak generasi as-salafus shalih adalah suatu perjuangan yang penuh dengan cobaan dan rintangan, karena ini adalah sunnatullah bagi setiap manusia yang mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan sebaik-baik teladan dalam menghadapi cobaan dan rintangan tersebut adlah para rasul Allah Ta'ala dari Nabi nuh alaihis salam hingga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka. Sampai datang pertolongan Kami kepada mereka." (Al-An'am: 34)

Demikian pula nasehat Nabi Musa 'alaihis salam kepada kaumnya yang Allah abadikan di dalam firman-Nya:
"Musa berkata kepada kaumnya: 'Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah,'" (Al-A'raf: 128)

Dari kedua ayat di atas dapat kita ketahui bahwa kiat yang digunakan nabi-nabi Allah dalam menghadpi kaumnya ialah berakhlak sabar.

Akhlak sabar tidak hanya dibutuhkan seorang hamba ketika menghadapi musuh, namun juga dalam menghadapi nikmat yang Allah limpahkan kepadanya. Karena keadaan manusia di dunia ini tidak pernah terlepas dari salah satu dari dua perkara:

Pertama: Nikmat yang Allah berikan kepadanya yang butuh kesabaran dalam menghadapinya.

Kedua: Musibah-musibah yang menimpanya yang juga butuh kesabaran.

Maka jika demikian yang dimaksud dengan kesabaran ialah menahan diri untuk terus taat kepada Allah dengan memperhatikan ketaatannya, menjaga keikhlasannya, memperbaiki mutunya dan menahan diri dari kemaksiatan, tetap kokoh dalam menghadapi cobaan syahwat dan hawa nafsu, serta ridla terhadap takdir Allah tanpa keluh kesah.

Sabar adalah akhlak yang wajib dimiliki setiap manusia. Allah berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan perkuatlah kesabaran." (Ali Imran: 200)

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (Al-Baqarah: 155)

Dan banyak lagi ayat-ayat lainnya yang semakna dengan kedua ayat di atas. Yang intinya, Allah memerintahkan kepada kaum mukminin untuk selalu kokoh dalam mentaati-Nya, meninggalkan maksiat dan ridla dengan takdir Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan yang demikian ini tidak lain adalah kesabaran.

Kaum mukminin adalah orang-orang yang sangat sering mendapatkan cobaan dan rintangan, sehingga mereka sangat membutuhkan kepada akhlak sabar. Dan tidak ada satu kaumpun yang lebih sering ditimpa musibah dan banyak bersabar dibanding kaum mukminin. Sehingga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam merasa kagum melihat mereka, sebagaimana sabdanya:
"Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin, seluruh perkaranya baik baginya, dan yang demikian ini tidak dimiliki kecuali hanya pada seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan ia bersyukur dan yang demikian baik baginya, jika ia ditimpa kesusahan ia bersabar dan yang demikian juga sangat baik baginya." (HR. Muslim)

Memang kehidupan seorang mukmin penuh dengan kebaikan dan limpahan pahala dari Allah Ta'ala, apakah yang ia hadapi berupa kenikmatan maupun kesusahan. Dan seorang mukmin yang telah sempurna imannya, ikhlas keyakinannya, ia akan bersyukur kepada Allah ketika merasa kenikamatan dan bersabar ketika mendapatkan kesusahan. Karena akhlak sabar inilah suatu kesusahan yang menimpa seorang mukmin dapat berubah menjadi kenikmatan dan cobaan menjadi pahala dan pelajaran.

Sedangkan orang kafir akan marah dan murka ketika ditimpa musibah, tidak ridla dengan ketentuan Allah dan tidak sabar menjalani takdir Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Sungguh sebaik-baik teladan kita yentang akhlak sabar ini adalah nabi-nabi Allah yang dipukul oleh kaumnya hingga berdarah dan mengusapkan darah tersebut dari wajahnya seraya berdo'a:
"Ya Allah ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengerti." (Muttafaqun 'alaihi)

Dikutip dari Majalah Salafy

Kamis, 09 Juli 2009

Posted by Nugroho Agung Wibowo On 10.02 0 komentar

Bersegeralah Berbuat Kebaikan dan Membiasakannya


"Menyambut millenium baru", adalah ungkapan yang dulunya sering dipublikasikan lewat berbagai media untuk menyambut tahun 2000. Dan ungkapan itu juga mengandung ajakan kepada masyarakat, kita untuk mempersiapkan diri menyambut tahun yang akan gemerlap dengan kecanggihan teknologi dan ilmu-ilmu duniawi, agar mereka tidak ketinggalan untuk mengikuti arus modernisasi dari masa ke masa.

Demikian gencarnya ajakan tersebut padahal tujuannya hanya dititikberatkan pada urusan dunia, urusan perut, syahwat dan kefanaan belaka, tanpa perhatian pada urusan agama dan ibadah kepada Allah semata, taat kepada Rasul-Nya dan kebahagiaan di akhirat yang abadi.

Inilah kelalaian yang menimpa kaum muslimin, kelalaian beragam dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya yang akan membawa kepada kehancuran dan kebinasaan di akhirat kelak.

Realita ini harus segera kita sadari dan kita sikapi dengan ajaran Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, agar kita tidak terjerumus kepada cinta dunia dan lupa akhirat yang telah menghancurkan ummat-ummat sebelum Islam.

Di antara akhlak mulia yang harus segera kita amalkan adalah bersegera berbuat kebaikan dan membiasakannya. Yang demikian itu dikarenakan perubahan dan pertambahan jaman selalu identik dengan berkurangnya kebaikan dan bertambahnya kejelekan, seperti yang telah diingatkan oleh Ibnu Abbas radliyallahu 'anhuma:
"Tidaklah datang suatu tahun pun kepada manusia melainkan mereka mengada-adakan di dalamnya satu bid'ah dan membunuh satu sunnah, sehingga hiduplah bid'ah-bid'ah dan matilah sunnah-sunnah." (Diriwayatkan At-Thabrani dan Ibnu Wadldlah dalam Al-Bida', lihat Ilmu Ushulul Bida' hal. 288)

Bertambahnya bid'ah dan berkurangnya sunnah seperti yang diucapkan Ibnu Abbas ini merupakan bukti bahwa kebaikan terus berkembang dari masa ke masa. Bahkan dengan keadaan tersebut, pandangan kebanyakan orang jadi terbalik sehingga kebaikan dianggap jelek dan kejelekan dianggap baik, sunnah dianggap bid'ah dan bid'ah dianggap sunnah.

Keadaan seperti ini bukanlah kekhawatiran semata, namun telah terjadi sejak jamannya Abu Darda' radliyallahu 'anhu. Ia berkata: "Kalaulah Rasululah shallallahu 'alaihi wa sallam keluar (hidup, pent) menemui kalian, niscaya beliau tidak akan mendapatkan apa-apa -- yang beliau dan para shahabat pernah menjalaninya --, kecuali hanya shalat saja."

Demikian pula yang diucapkan Anas bin Malik radliyallahu 'anhu. Bahkan ia mengatakan: "...kecuali hanya ucapan la ilaha illallah." (Lihat mukaddimah kitab Al-I'tisham hal. 33-34 dengan tahqiq Syaikh Salim Al-Hilali).

Demikian langkanya kebaikan di jaman kedua shahabat tersebut apalagi di jaman kita sekarang. Oleh karena itu suatu langkah yang sangat tepat jika kita bersegera memiliki akhlak ini dalam meniti kehidupan kita.

Tentang akhlak ini Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman:
"Maka berlomba-lombalah kalian (dalam melakukan) kebaikan." (Al-Baqarah: 148)

"Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Tuhan kalian dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa." (Ali Imran: 133)

Dalam kedua ayat di atas Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan para hamba-Nya untuk bersegera dan berlomba berbuat kebaikan serta berusaha untuk mencapai surga-Nya. Hal demikian ini juga disabdakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Bersegeralah kalian dalam beramal (sebelum datang) fitnah seperti gelapnya malam. Di pagi hari seseorang masih sebagai mukmin namun di sore harinya ia menjadi kafir. Di sore hari sebagai mukmin namun di pagi harinya menjadi kafir. Ia menjual agamanya dengan tujuan mendapat bagian dari dunia." (HR. Muslim)

Hadits ini jelas menganjurkan untuk bersegera berbuat kebaikan sebelum datang halangan dan rintangan untuk melakukannya. Karena di akhir jaman, fitnah datang susul menyusul hingga di dapatkan ada orang yang masih beriman pada pagi hari namun di sore harinya ia telah berubah menjadi kafir.

Demikian dahsyatnya fitnah melanda kaum muslimin sehingga mereka berada di jurang kehancuran kecuali orang-orang yang diselamatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan bersegera mengamalkan kebaikan dan membiasakannya.

Melalui perkara inilah kaum mukminin tampil beda dengan sesamanya yang tidak memiliki akhlak ini, yaitu orang-orang yang terbuai dengan keindahan dunia sehingga melupakan amal akhirat sebagai bekalnya di hari akhir nanti. Dan dengan akhlak ini pula kaum mukminin menjadi al-ghuraba (orang-orang terasing) di tengah kaum mereka sendiri, karena mereka berbuat kebaikan sedangkan kaumnya berbuat kejelekan. Hal demikian ini pernah ditanya oleh para shahabat kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, ketika mereka bertanya tentang siapa yang dikatakan "al-ghuroba", beliau pun menjawab:
"Orang-orang yang berbuat kebaikan ketika manusia dalam kerusakan." (HR. Al-Ajuri dan Abu Amr Ad-Dani dengan sanad shaih, lihat silsilah Ahadits As-Shahihah 1273)

Setelah akhlak "bersegera berbuat kebaikan" kita miliki, hendaklah kita bersegera pula membiasakannya, karena amalan yang paling dicintai di sisi Allah dan paling banyak pahalanya adalah amalan yang dilakukan terus menerus walaupun sedikit, sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang dibawakan dalam Shahih Bukhori 3/36 dan Shahih Muslim 784. Bahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah melarang untuk menyerupai seseorang yang tidak membiasakan amal kebaikan yang pernah dilakukannya. Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Wahai hamba Allah, janganlah kamu seperti Fulan, dahulunya ia shalat malam kemudian ia meninggalkannya." (Muttafaqun 'alaihi)

Dengan akhlak inilah seorang muslim siap menghadapi tahun, masa dan zaman yang baru, yang padanya muncul pula cobaan dan godaan yang baru bagi orang-orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya.

Wallahu a'lamu bish-shawaab.


Dikutip dari Majalah Salafy edisi 35.

Sabtu, 04 Juli 2009

Posted by Nugroho Agung Wibowo On 06.22 0 komentar

Lemah Lembut dan Menahan Amarah


Kelemahlembutan adalah akhlak yang mulia. Ia berada di antara dua akhlak yang rendah dan jelek, yaitu kemarahan dan kebodohan. Bila seorang hamba menghadapi masalah hidupnya dengan kemarahan dan emosional, akan tertutuplah akal dan pikirannya yang akhirnya menimbulkan perkara-perkara yang tidak di ridlai Alah Ta'ala dan Rasul-Nya. Dan jika hamba tersebut menyelesaikan masalahnya dengan kebodohan dirinya, niscaya ia akan dihinakan manusia. Namun jika ia hadapi dengan ilmu dan kelemah lembutan, ia akan mulia di sisi Allah Ta'ala dan makhluk-makhluk-Nya.

Orang yang memiliki akhlak lemah lembut ini, Insya Allah akan dapat menyelesaikan problema hidupnya tanpa harus merugikan orang lain dan dirinya sendiri.

Melatih diri untuk dapat memiliki akhlak mulia ini dapat dimulai dengan menahan diri ketika marah dan mempertimbangkan baik buruknya suatu perkara sebelum bertindak. Karena setiap manusia tidak pernah terpisah dari problema hidup, jika ia tidak membekali dirinya dengan akhlak ini, niscaya ia akan gagal untuk menyelesaikan problemanya.

Demikian agungnya akhlak ini hingga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memuji shahabatnya Asyaj Abdul Qais dengan sabdanya:
"Sesungguhnya pada dirimu ada dua perangai yang dicintai Allah yakni sifat lemah lembut (sabar) dan ketenangan (tidak tergesa-gesa)." (HR. Muslim).

Akhlak mulia ini terkadang diabaikan oleh manusia ketika amarah telah menguasai diri mereka, sehingga tidakannya pun berdampak negatif bagi dirinya ataupun bagi orang lain.

Padahal Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sudah mengingatkan dari sifat marah yang tidak pada tempatnya, sebagaimana beliau bersabda kepada seorang shahabat yang meminta nasehat:
"Janganlah kamu marah. "Dan beliau mengulang berkali-kali dengan sabda: "Jangan kamu marah."" (HR. Bukhori).

Dari hadits ini diambil faedah bahwa marah adalah pintu kejelekan, yang penuh dengan kesalahan dan kejahatan, sehingga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mewasiatkan kepada shahabatnya itu agar tidak marah. Tidak berarti manusia dilarang marah secara mutlak. Namun marah yang dilarang adalah marah yang disebabkan oleh dorongan hawa nafsu yang memancing pelakunya bersikap melampaui batas dalam berbicara, mencela, mencerca dan menyakiti saudaranya dengan kata-kata yang tidak terpuji, yang mana sikap ini menjauhkannya dari kelemah lembutan.

Di dalam hadits yang shahih Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Bukanlah dikatakan seorang yang kuat dengan bergulat, akan tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah." (Muttafaqun 'alaihi)

Ulama telah menjelaskan berbagai cara untuk menyembuhkan penyakit marah yang tercela yang ada pada seorang hamba, yaitu:

1. Berdo'a kepada Allah Azza wa Jalla yang membimbing dan menunjuki hamba-hamba-Nya ke jalan yang lurus dan menghilangkan sifat-sifat jelek dan hina dari diri mereka. Allah berfirman:
"Berdo'alah kalian kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan." (Ghafir: 60)

2. Terus menerus berdzikir pada Allah seperti membaca Al-Qur'an, bertasbih, bertahlil dan istighfar, karena Allah telah menjelaskan bahwa hati manusia akan tenang dan tentram dengan mengingat-Nya. Dia berfirman:
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram." (Ar-Ra'd: 28)

3. Mengingat nash-nash yang menganjurkan untuk menahan marah dan balasan bagi orang yang mampu menahan amarahnya, seperti sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Barang siapa yang menahan amarahnya sedangkan ia sanggup untuk melampiaskannya, (kelak di hari kiamat, pent) Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluk-Nya hingga menyuruhnya memilih salah satu dari bidadari surga, dan menikahkannya dengan hamba tersebut sesuai dengan kemauannya." (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani, lihat Shahihul Jami' no. 6398)

4. Merubah posisi ketika marah, seperti jika ia marah dalam keadaan berdiri maka hendaklah ia duduk, dan jikalau ia duduk hendaklah ia berbaring, sebagaimana perintah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sabda beliau:
"Apabila salah seorang di antara kalian marah sedangkan ia dalam posisi berdiri, maka hendaklah ia duduk. Kalau telah reda atau hilang marahnya (maka cukup dengan duduk saja, pent), dan jika belum hendaklah ia berbaring." (Al-Misykat 5114)

5. Berlindung dari syaithon dan menghindar dari sebab-sebab yang akan membangkitkan kemarahannya.

Demikianlah jalan keluar untuk selamat dari marah yang tercela. Dan betapa indahnya prilaku seorang muslim jika dihiasi dengan kelemah lembutan dan kasih sayang, karena tidaklah kelemah lembutan berada pada suatu perkara melainkan akan membuatnya indah. Sebaliknya, bila kebengisan dan kemarahan ada pada suatu urusan niscaya akan menjelekkannya. Yang demikian ini telah disabdakan oleh Rasululah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits berikut:
"Tidaklah kelembutan itu berada pada sesuatu kecuali akan membuatnya indah, dan tidaklah kelembutan itu dicabut dari sesuatu kecuali akan menjadikannya jelek." (HR. Muslim)

Allah Subhanahu wa Ta'ala mencintai kelembutan, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan menyenangi kelembutan dalam segala urusan. Dan Dia memberikan pada kelembutan apa yang tidak diberikan-Nya kepada kebengisan." (HR. Muslim)

Bersegeralah menghiasi diri dengan akhlak terpuji yang dimiliki Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan dicintai Allah Subhanahu wa Ta'ala ini. Dan jauhilah kemarahan, kebengisan dan ketidak ramahan, karena yang demikian akan menghinakan derajat pelakunya dan membuat dosa di sisi Allah Ta'ala. Ingatlah selalu sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Barangsiapa yang dihalangi untuk berakhlak lembut, maka ia akan dihalangi dari seluruh kebaikan." (HR. Muslim)

Wallahu a'lamu bish-shawwaab.

Dikutip dari Majalah Salafy edisi XXXII

Kamis, 02 Juli 2009

Posted by Nugroho Agung Wibowo On 23.18 0 komentar

Menjaga Rahasia


Suatu perkara yang sudah disepakati untuk disembunyikan atau dirahasiakan haruslah dijaga dan tidak disebarkan. Karena yang demikian adalah janji seorang muslim dengan saudaranya yang wajib dipenuhi dan nantinya akan diminta pertanggungjawabannya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungjawabnya." (Al-Isra': 34)

Sisi kecocokan ayat di atas dengan permasalahan menjaga rahasia ialah bahwa rahasia termasuk dari perkara yang manusia diambil janjinya untuk menjaganya dan tidak menyebarkannya. Ini merupakan akhlak mulia yang diajarkan Rasulullah shallalahu 'alaihi wa sallam kepada para shahabatnya, sehingga akhlak inipun menjadi kepribadian mereka. Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radliyallhu 'anhuma bahwasanya Umar -- ketika putrinya Hafshah menjanda -- berkata:
"Aku menemui Utsman ibnu Affan radliyallhu 'anhu, maka aku menawarkan Hafshah kepadanya. Aku berkata: 'Kalau mau aku nikahkan engkau dengan Hafshah bintu Umar.' Utsman menjawab: 'Aku akan lihat keadaanku.' Maka akupun menanti beberapa malam. Kemudian Utsman menemuiku dan berkata: 'Aku memutuskan untuk tidak menikah di hariku ini.' Lalu aku menemui Abu Bakar Ash-Shidiq radliyallhu 'anhu dan berkata: 'Kalau mau aku nikahkan engkau dengan Hafshah bintu Umar.' Abu Bakar pun diam dan tidak menemuiku lagi! Maka aku lebih marah kepada Abu Bakar daripada kepada Utsman, lalu kulewati malam-malamku. Ternyata kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam meminang Hafshah dan akupun menikahkan Hafshah dengan beliau.
Suatu hari Abu Bakar menemuiku seraya berkata: "Mungkin engkau marah terhadapaku ketika engkau menawarkan Hafshah padaku dan aku tidak kembali menemuimu?" Aku menjawab: "Ya." Abu Bakar pun berkata: "Sesungguhnya tidak ada yang mencegahku untuk kembali menemuimu guna memutuskan tawaranmu melainkan karena aku mengetahui bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah menyebut-nyebut nama Hafshah, maka aku tidak ingin menyebarkan rahasia Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan kalaulah beliau shallallahu 'alaihi wa sallam meninggalkannya niscaya aku menerimanya." (HR. Bukhori)

Akhlak yang demikian ini juga diajarkan oleh shahabat-shahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada anak-anak mereka, sebagaimana Ummu Sulaim radliyallahu 'anhu mengajarkan dan mendidik Anas bin Malik radliyallahu 'anhu untuk tidak menyebarkan rahasia Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (disebutkan dalam riwayat Bukhori dan Muslim).

Akhlak mulia ini harus dijaga dan dilestarikan di tengah kaum muslimin karena dengannya akan tumbuh saling percaya satu dengan yang lainnya dan saling menjaga kehormatan atau nama baik saudaranya.

Di masyarakat kita sekarang ini tidak jarang didapati orang-orang yang menyebarkan rahasia saudaranya, bahkan rahasia pribadi mereka yang tidak sepantasnya diketahui oleh orang lain, seperti urusan ranjang suami istri (termasuk cumbu rayu sebelum jima'). Sungguh tegas larangan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hal ini, sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut :
"Dari Asma binti Yazid bahwasannya ia bersama Rasululah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan kaum pria serta wanita ketika itu sedang duduk. Raulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu bersabda: 'Mungkinkah ada seorang pria di antara kalian menceritakan apa yang dia lakukan dengan istrinya, atau seorang wanita menceritakan apa yang ia perbuat dengan suaminya?' Maka orang-orang yang hadir ketika itu terdiam tidak menjawab, lalu aku berkata: 'Demi Allah benar wahai wahai Rasulullah, sungguh mereka melakukannya.' Rasulullah pun bersabda: 'Janganlah kalian melakukannya, karena yang demikian itu seperti syaitan lelaki bertemu dengan syaitan betina di tengah jalan lalu menyetubuhinya dan manusia menyaksikannya." (HR. Ahmad dan hadits ini memiliki pendukung-pendukungnya dari hadits Abi Hurairah dan Salman serta selain keduanya).

Sungguh merugilah orang-orang yang menyebarkan rahasia dirinya atau saudaranya. Mereka berarti merusakkan kehormatan yang telah Allah berikan dan tidak jarang mereka terjatuh kepada perbuatan ghibah yang telah dilarang dengan tegas oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam surat Al-Hujurat ayat 12.

Rahasia yang tidak sepantasnya untuk disebarkan hendaklah dijaga namun bila terjadi suatu keadaan yang menuntut agar rahasia disebarkan karena bila tidak akan dapat menumpahkan darah yang haram atau merusak kehormatan wanita atau merampas harta tanpa hak, maka wajib untuk disebarkan dan diperingatkan manusia agar berhati-hati darinya.

Sebaik-baik akhlak adalah akhlak Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Wallahu a'lam.

Dikutip dari Majalah Salafy edisi XXVII

Rabu, 24 Juni 2009

Posted by Nugroho Agung Wibowo On 08.26 0 komentar

Berhias Dengan Akhlaq


"Sesungguhnya engaku (Muhammad) benar-benar berakhlak yang agung". (Al-Qalam:4)

Adakah orang yang tidak menyukai perhiasan? Jawaban pertanyaan ini sudah jelas, bahwa tidak ada seorangpun melainkan ia menyukai perhiasan dan senang untuk tampil berhias di hadapan siapa saja. Karena itu kita lihat banyak orang berlomba-lomba untuk memperbaiki penampilan dirinya. Ada yang lebih mementingkan perhiasan dhahir (luar) dengan penambahan asesoris seperti pakaian yang bagus, make up yang mewah dan emas permata, sehingga mengundang decak kagum orang yang melihat. Adapun yang berupaya memperbaiki kualitas akhlaknya, membenahi diri dengan akhlak Islami. Yang disebut terakhir ini tentunya bukan decak kagum manusia yang dicari dengan namun karena kesadaran bahwa agamanya menghendaki demikian dengan disertai harapan mendapatkan ganjaran dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kalaupun penampilannya mengundang pujian orang, ia segera mengembalikannya kepada Allah karena kepunyaan-Nyalah segala pujian dan hanya Dialah yang berhak untuk dipuji.

Islam Mengutamakan Akhlak

Mungkin banyak di antara kita kurang memperhatikan masalah akhlak. Di satu sisi kita mengutamakan tauhid yang memang merupakan perkara pokok/inti agamaini, berupaya menelaah dan mempelajarinya, namun sayang, di sisi lain dalam masalah akhlak kurang diperhatikan. Sehingga tidak dapat disalahkan bila ada keluhan-keluhan yang terlontar dari kalangan orang awam, seperti ucapan: "Wah ... udah ngerti agama, kok ... malah kurang ajar sama orang tua". Dia sih agamanya bagus tapi sama tetangga tidak pedulian ...". dan lain-lain.

Seharusnya ucapan-ucapan seperti ini ataupun yang semisal dengan ini menjadi cambuk bagi kita untuk mengoreksi diri dan membenahi akhlak.

Islam bukanlah agama yang mengabaikan akhlak bahkan Islam mementingkan akhlak. Yang perlu diingat bahwa antara tauhid sebagai sisi pokok/inti Islam -- yang memang seharusnya kita utamakan namun tidak berarti mengabaikan perkara penyempurnaannya -- dan akhlak mempunyai hubungan yang erat. Tauhid merupakan realisasi akhlak seorang hamba terhadap Allah 'Azza wa Jalla dan ini merupakan pokok/inti dari akhlak seorang hamba. Seorang yang bertauhid dan baik akhlaknya berarti ia adalah sebaik-baik manusia. Semakin sempurna tauhid seseorang maka semakin baik akhlaknya, dan sebaliknya bila ada seorang muwahhid memiliki akhlak yang buruk berarti lemah tauhidnya.

Rasul Diutus Untuk Menyempurnakan Akhlak

Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, rasul kita yang mulia mendapat pujian Allah 'Azza wa Jalla karena ketinggian akhlak beliau sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Qalam ayat 4. Bahkan beliau shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri menegaskan bahwa kedatangannya adalah untuk menyempurnakan akhlak yang ada pada diri manusia :
"Hanyalah aku diutus (oleh Allah) untuk menyempurnakan keluhuran akhlak." (HR. Ahmad lihat Ash-Shahihah oleh Asy-Syaikh Al-Albani no. 45 dan beliau menshahihkannya)

Anas bin Malik radliyallhu 'anhu seorang shahabat yang mulia menyatakan :
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam manusia adalah yang paling baik budi pekertinya." (HR. Bukhori dan Muslim)

Dalam hadist lain Anas memuji beliau shallallahu 'alaihi wa sallam :
"Belum pernah saya menyentuh sutra yang tebal atau tipis lebih halus dari tangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Saya juga belum pernah mencium bau yang lebih wangi dari bau Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan saya telah melayani Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam selama sepuluh tahun, belum pernah dibentak atau ditegur perbuatan saya: Mengapa engkau berbuat ini? atau mengapa engkau tidak mengerjakan itu?" (HR. Bukhori dan Muslim)

Akhlak merupakan tolok ukur kesempurnaan iman seorang hamba sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam :
"Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang terbaik akhlaknya." (HR. Tirmidzi dari Abi Hurairah radliyallahu 'anhu, diriwayatkan juga oleh Ahmad. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 284 dan 751)

Dalam riwayat Bukhori dan Muslim dari Abdillah bin 'Amru bin Al-'Ash radliyallahu 'anhuma disebutkan :
"Sesungguhnya sebaik-baik kalian ialah yang terbaik akhlaknya."

Keutamaan Akhlak
Abu Hurairah radliyallahu 'anhu mengabarkan bahwa suatu saat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya tentang kriteria orang yang paling banyak masuk syurga. Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab :
"Taqwa kepada Allah dan akhlak yang terbaik." (Hadist Shahih riwayat Tirmidzi, juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Lihat Riyadhus Shalihin no. 627, tahqiq Rabbah dan Daqqaq)

Tatkala Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menasehati shahabatnya, beliau shallallahu 'alaihi wa sallam menggandengkan antara nasehat/wasiat untuk bertaqwa dengan nasehat untuk bergaul/berakhlak yang baik kepada manusia sebagaimana hadist dari Abi Dzar, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Bertaqwalah kepada Allah dimanapun engkau berada dan balaslah perbuatan yang buruk dengan perbuatan yang baik niscaya kebaikan itu akan menutupi kejelekan dan bergaulah dengan manusia dengan akhlak yang baik." (HR. Tirmidzi, ia berkata : hadits hasan, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Salim Al-Hilali)

Dalam timbangan (mizan) amal pada hari kiamat tidak ada yang lebih berat daripada akhlak yang baik, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam :
"Sesuatu yang paling berat dalam mizan (timbangan seorang hamba-red) adalah akhlak yang baik." (HR. Abu Dawud dan Ahmad, dishahihkan Al-Albani. Lihat Ash-Shahihah, juz 2 hal. 535)

"Sesungguhnya sesuatu yang paling utama dalam mizan (timbangan) pada hari kiamat adalah akhlak yang baik." (HR. Ahmad dan dishahihkan Al-Albani. Lihat Ash-Shahihah juz 2 hal.535)

Dari Jabir radliyallhu 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya orang yang paling saya kasihi dan yang terdekat padaku majelisnya di hari kiamat ialah yang terbaik budi pekertinya." (HR. Tirmidzi dengan sanad hasan. Diriwayatkan juga oleh Ahmad dan dishahihkan Ibnu Hibban. Lihat Ash-Shahihah juz 2 hal. 418-419)

Dari hadist-hadist di atas dapat difahami bahwa akhlak yang baik memiliki keutamaan yang tinggi. Karena itu sudah sepantasnya setiap muslim dan muslimah mengambil akhlak yang baik sebagai perhiasannya. Yang perlu diingat bahwa ukuran baik atau buruk suatu akhlak bukan ditimbang menurut selera individu, bukan pula hitam putih akhlak itu menurut ukuran adat yang dibuat manusia. Karena boleh jadi, yang dianggap baik oleh adat bernilai jelek menurut timbangan syari'at atau sebaliknya.

Jelas bagi kita bahwa semuanya berpatokan pada syari'at, dalam semua masalah termasuk akhlak. Allah sebagai pembuat syari'at ini, Maha Tahu dengan keluasan ilmu-Nya apa yang mendatangkan kemashlahatan/kebaikan bagi hamba-hamba-Nya. Wallahu Ta'ala a'lam.

Dikutip dari Majalah Salafy Edisi VI

Jumat, 19 Juni 2009

Posted by Nugroho Agung Wibowo On 07.11 0 komentar

Jujur dan Berkata Benar


Di zaman yang serba modern ini semakin sulit kita dapati orang-orang yang jujur dan terpercaya, manusia banyak yang dirasuki oleh syaithan sehingga untuk mencapai tujuan mereka akan menghalalkan segala cara. Tidak jarang mereka berdusta demi tujuan-tujuan dunia.

Di dalam kitab Madarijus Salikin 2/268, Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah menjelaskan adalah (suatu) kedudukan (bagi) kaum yang mulia. Dengannya dapat dibedakan orang-orang munafik dari orang-orang beriman, penduduk surga dari penduduk neraka. Ia adalah ruh seluruh amalan, pondasi bangunan agama dan tiang kemah orang-orang yang yakin." (Dinukil dengan ringaks).

Demikian gambaran kejujuran dan kebenaran yang dinukil dengan ringkas dari ucapan Ibnul Qayyim rahimahullah.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, bertawakallah kepada Allah dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang benar." (At-Taubah: 119)

Allah Subhanahu wa Ta'ala menuntut hamba-hamba-Nya untuk jujur dan berkata benar agar mereka menjadi orang-orang yang benar yang tegak kokoh di atas manhaj yang benar pula.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang diberi gelar Al-Amin, yang jujur lagi berkata benar, juga menyatakan keutamaan jujur dan kemuliaan akhlak ini. Beliau bersabda:
"Sesungguhnya kejujuran akan membawa kepada kebaikan dan kebaikan akan menyampaikan ke syurga, dan sesungguhnya seorang yang berbuat kejujuran pada akhirnya akan ditulis sebagai orang yang jujur dan benar di sisi Allah. Dan sesungguhnya kedustaan akan mengantarkan kepada dosa dan dosa akan menjerumuskan ke neraka. Dan sesungguhnya seorang yang berdusta akan ditulis sebagai seorang pendusta di sisi Allah." (Hadits muttafaqun 'alaihi dari Ibnu Mas'ud radliyallahu 'anhu)

Hadits ini sangat menganjurkan untuk berakhlak jujur dan bersikap benar karena ia adalah sumber segala kebaikan. Setiap manusia yang melatih dirinya dengan akhlak ini niscaya akan memiliki pribadi yang bagus. Demikian pula jika seorang manusia membiasakan dirinya dengan kedustaan dan kebohongan, maka pribadinya pun akan terbentuk sebagai pribadi yang jelek dan tidak terpuji. Terkadang memang pahit untuk berbicara jujur, tetapi itulah kebaikan. Akhlak ini akan dimiliki oleh orang-orang yang berjiwa besar yang siap berkorban demi tegaknya agama Allah subhanahu wa ta'ala di muka bumi ini.

Asy-Syaikh Muhammad Syakir rahimahullah, seorang ulama besar yang ternama yang lahir pada tahun 1282 H dan wafat pada tahun 1358 H, juga menjelaskan keutamaan jujur dan berkata benar di dalam kitabnya Washaya Al-Aba' lil Abna (Wasiat Bapak kepada Anaknya), beliau menasehatkan:

"Wahai anakku! Semangatlah untuk menjadi seorang yang jujur pada setiap ucapan yang kamu lontarkan kepada selainmu, sebagaimana engkau semangat untuk menjaga diri dan hartamu, karena kedustaan dan kebohongan adalah sejelek-jelek keaiban.

Hati-hatilah, wahai anakku! Jangan sampai kamu terkenal di antara teman-teman dan gurumu sebagai seorang pendusta, sehingga tidak ada lagi seorang pun yang mempercayaimu walaupun kamu berkata yang benar.

Wahai anakku! Sesungguhnya Allah telah melaknat para pendusta di dalam kitab-Nya yang mulia, apakah kamu suka menjadi seorang yang dilaknat di sisi Allah?

Wahai anakku! Jika seseorang telah berdusta niscaya lidahnya terbiasa untuk berdusta. Maka semangatlah untuk mengucapkan yang jujur dengan lisanmu.

Wahai anakku! Sesungguhnya sebagian manusia yang tidak memiliki akhlak menjadikan kedustaan sebagai mainan dan senda gurau. Hati-hatilah kamu untuk berbuat dusta kepada manusia, sehingga jika kamu ditanya tentangnya kamu berkata: "Sesungguhnya saya hanyalah main-main saja." Janganlah kamu berdusta ketika serius ataupun bergurau, dan janganlah kamu membiasakan lisanmu dengan selain kebenaran dan kejujuran.

Ketahuilah, bahwa seorang yang dikenal jujur di masyarakat, keluarganya dan shahabat-shahabatnya, akan diambil dan diterima ucapannya sebagai hujjah. Maka jika kamu ingin atau suka menjadi seorang terpercaya, semangatlah untuk berkata jujur dan benar pada setiap ucapanmu. Allah-lah yang akan menunjukimu dan akan membimbingmu kepada kebenaran."

Demikian perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala dan tuntunan Rasul-Nya, kemudian nasehat seorang ulama Ahlus Sunnah untuk berakhlak dengan kejujuran dan berkata benar pada setiap ucapan dan perkataan.

Sebaik-baik akhlak adalah akhlak Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Wallahu ta'ala a'lam.

Dikutip dari Majalah Salafy edisi XXVI

Selasa, 16 Juni 2009

Posted by Nugroho Agung Wibowo On 21.43 2 komentar

Zuhud, Akhlaknya Orang-Orang yang bertakwa


Merupakan fitrah manusia untuk senang mencintai dan dicintai, dan alangkah bahagianya jika kita mengetahui bahwa kita dicintai oleh manusia apalagi dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Berbagai cara ditempuh manusia agar dapat dicintai, namun umumnya mereka menempuh cara yang tidak dituntunkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Islam telah mengajarkan berbagai upaya untuk dapat meraih cinta Allah Subhanahu wa Ta'ala, demikian pula cinta manusia. Di antara upaya tersebut ialah berakhlak dengan akhlak karimah, dan salah satu akhlak yang berkaitan erat dengan hal ini ialah zuhud.

Menghiasi diri dengan zuhud adalah cara tepat untuk meraih cinta Allah dan cinta manusia, sebagaimana dijelaskan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam riwayat yang shahih:
Dari Abul Abbas -- Sahl bin Sa'ad As-Sa'idy -- radliyallahu 'anhu, ia berkata: Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata: "Wahai Rasulullah! Tunjukkan kepadaku suatu amalan yang jika aku beramal dengannya aku dicintai oleh Allah dan dicintai manusia." Maka Rasulullah menjawab: "Zuhudlah kamu di dunia niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia niscaya mereka akan mencintaimu." (Hadist shahih diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya, lihat Shahihul Jami' 935).

Ulama banyak memberikan definisi zuhud, diantaranya apa yang diungkapkan oleh Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah: "Bukanlah yang dikatakan zuhud di dunia dengan mengharamkan yang halal dan tidak pula menyia-nyiakan harta. Akan tetapi yang dikatakan zuhud ialah kamu lebih menyakini apa yang ada di tangan Allah dan kamu pegangi, dibanding apa yang ada pada tanganmu. Dan hendaklah pahala dari suatu musibah -- jika kamu ditimpa dengannya -- lebih kamu senangi dari pada kamu tidak mengalaminya."

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyatakan: "Zuhud ialah meninggalkan perkara-perkara yang tidak memberikan manfaat di akhirat."

Imam Ahmad menjelaskan bahwa zuhud ada tiga model:
1. Meninggalkan yang haram, dan ini adalah zuhudnya orang umum.
2. Meninggalkan hal-hal yang tidak berfaedah dari perkara yang halal, dan ini adalah zuhudnya orang-orang yang khusus.
3. Meninggalkan hal-hal yang menyibukkan diri dari Allah, dan ini zuhudnya orang-orang yang arif.

Dengan memahami keterangan ulama di atas, kita sadari bahwa alangkah mulianya suatu jiwa yang dihiasi dengan akhlak zuhud, jiwa yang memahami bahwa dunia ini hanyalah fana dan segera sirna.

Allah Ta'ala berfirman:
"Apa yang ada di sisi kalian akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal." (An-Nahl: 96)

Dan firman-Nya:
"Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan antara kalian serta berbangga-banggaan dalam banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridlaan-Nya. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (Al-Hadid: 20).

Bukanlah hal yang mudah untuk berakhlak zuhud, karena naluri manusia selalu mendorong untuk mendapatkan dunia dan apa yang ada di dalamnya. Maka ulama pun menjelaskannya hal-hal yang dapat membantu manusia berakhlak zuhud, di antaranya ialah: keimanan, membayangkan dahsyatnya keadaan di hari kiamat kelak dan ketika berhadapan dengan Allah untuk dihisab, yang dengan ini sifat cinta dunia dan kenikmatannya akan sirna perlahan-lahan dari dirinya. Kemudian dengan memahami bahwa dunia tidak akan dapat diraih seluruhnya walaupun mengerahkan seluruh daya upaya, dan bergantung kepada dunia hanya akan merusak agama dan menyibukkan dari akhirat.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Sesungguhnya termasuk perkara yang aku khawatirkan atas kalian sepeninggalku ialah dibukakannya (dibentangkannya) keindahan dan kesenangan dunia pada kalian." (Muttafaqun alaihi).

Kemudian hal lainnya yang juga dapat melatih diri berakhlak zuhud ialah tidak melihat atau menoleh orang yang lebih mampu dalam urusan dunia, seperti sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Lihatlah kepada orang yang dibawah kalian dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian, yang demikian lebih mendorong kalian untuk tidak menganggap kecil nikmat Allah yang dilimpahkan-Nya kepada kalian." (Muttafaqun 'alaihi)

Dari hadits ini disunnahkan bagi seorang muslim untuk melihat kebawah (yaitu orang-orang yang tidak berada atau miskin) dalam urusan dunia. Adapun urusan akhirat hendaklah ia melihat ke atas (kepada orang-orang yang lebih taat dan berilmu).

Dan tidaklah dikatakan zuhud dengan meninggalkan dunia secara menyeluruh dan menjauhi diri darinya, seperti perbuatan bodoh sebagian manusia yang menganggap dirinya berakhlak zuhud. Mereka meninggalkan nikah, menyengsarakan diri, memakai pakaian yang kumuh dan kotor, menolak makanan yang enak dan bergizi dan pakaian yang bagus dan indah, yang semua ini menunjukkan kejahilan mereka tentang hakikat zuhud yang dengannya dapat dicapai cinta Allah dan cinta manusia.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai pemimpin orang-orang yang zuhud memiliki sembilan istri, demikian pula Nabi Daud dan Sulaiman 'alaihimas salam merupakan hamba Allah yang zuhud, tapi keduanya memiliki istri dan kerajaan. Begitu pula para shahabat Nabi yang memiliki istri, anak dan harta sedangkan mereka juga orang-orang yang zuhud yang dicintai Allah dan sesamanya.

Semua ini menjelaskan kepada kita bahwa merealisasikan kezuhudan yang benar ialah dengan mencontoh gaya hidup Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabatnya yang penuh dengan hikmah dan keberkahan.

Sebaik-baik akhlak ialah akhlak Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Dikutip dari Majalah Salafy edisi XXX

Jumat, 12 Juni 2009

Posted by Nugroho Agung Wibowo On 23.08 0 komentar

Tawadlu' dan Menjauhi Kesombongan


Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan bahwa alam akhirat dan segala kenikmatannya yang tidak pernah berakhir, diperuntukkan bagi hamba-hamba-Nya yang mukmin, yang tidak ingin merasa tinggi diri dan lebih mulia di hadapan makhluk lainnya. Mereka inilah yang telah Allah tanamkan kemuliaan dan ketawadlu'an di dalam sanubari mereka, dan Allah sediakan untuk mereka syurga Firdaus yang indah dan tidak pernah terbayangkan kenikmatannya. Allah Ta'ala berfirman :
"Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakaan di muka bumi. Dan kesudahan yang baik itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (Al-Qashash: 83).

Inilah balasan bagi orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri. Orang-orang yang tawadlu' dan tunduk kepada kebenaran serta tidak meremehkan manusia.

Sungguh pantas, jika Allah tidak memberikan janji-Nya ini kepada mereka yang sombong, karena jika seseorang telah dijangkiti penyakit sombong ia akan merasa tinggi diri, menganggap remeh dan hina orang lain serta ia menolak kebenaran. Sebagaimana disabdakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam :
"Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia." (Riwayat Muslim di dalam hadits yang panjang).

Orang yang memiliki akhlak sombong cenderung mengagumi dirinya sendiri dan menganggap bahwa ia lebih utama dan mulia di banding orang lain. Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah dalam kitab Siar A'lamin Nubala' 4/190 menyatakan: "Demi Allah tidak akan beruntung seseorang yang memberikan rekomendasi terhadap dirinya dan mengagumi dirinya."

Allah Ta'ala melarang hamba-Nya berjalan di muka bumi dalam keadaan menyombongkan dirinya. Dia Yang Maha tinggi berfirman:
"Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong." (Al-Isra': 37)

Kesombongan tidak hanya berbuah kebencian Allah Subhanahu wa Ta'ala dan makhluk-makhluk-Nya, namun juga akan menghalagi pelakunya dari ilimu, seperti ungkapan :
"Ilmu itu akan lari dari seseorang yang sombong diri seperti banjir berpindah dari tempat yang tinggi."

Allah Ta'al berfirman dalam hadits qudsi:
"Kemuliaan adalah sarung-Ku, dan keagungan adalah selendang-Ku, barangsiapa yang berakhlak dengannya maka Aku akan mengadzabnya." (HR. Muslim)

Allah juga berfirman dalam Al-Quran:
"Dan bagi-Nyalah keagungan di langit dan di bumi, Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Al-Jatsiyah: 37)

Karena kesombonganlah sehingga Qarun dan segala kekayaannya ditenggelamkan Allah ke dalam bumi, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Tatkala seorang lelaki berjalan dengan mengenakan perhiasan yang membuatnya kagum akan dirinya sendiri, dengan menyisir rambutnya dan berjalan dengan sombongnya, maka tiba-tiba Allah menenggelamkannya, sehingga ia terus tenggelam di dalam bumi sampai hari kiamat." (Muttafaqun alaihi)

Kisah Qarun juga bisa dibaca dalam firman Allah Ta'ala surat Al-Qashash ayat 76-81. Dengan penjelasan dari Allah dan Rasul-Nya ini hendaklah setiap muslim menghilangkan dari dirinya kesombongan dan keangkuhan serta pengagungan terhadap diri sendiri, sebab yang demikian itu bukanlah akhlak yang mulia.

Dan hiasilah dirimu dengan ketawadlu'an yaitu tunduk kepada al-haq, rendah hati di hadapan kaum muslimin dan tidak merasa bahwa dirimu lebih agung di banding yang lainnya. Dengan akhlak inilah seorang mukmin dapat terhindar dari kesombongan dan keangkuhan, dan dengannya pula kaum mukminin dicintai Allah dan mereka mencintai-nya, Allah berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa diantara kalian yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang mereka bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir ..." (Al-Maidah: 54)

Dalam hadits yang shahih Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah berpesan agar kaum muslimin berakhlak tawadlu' dan tidak saling menyombongkan diri, beliau bersabda:
"Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar hendaknya kalian tawadlu', sehingga tidak ada yang saling menyombongkan dirinya dari lainnya dan tidak ada yang mendlalimi satu dengan lainnya." (HR. Muslim)

Seorang yang tawadlu' bukan berarti hina di hadapan manusia, bahkan dengan akhlak ini seseorang diangkat derajatnya oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, sehingga setiap kali bertambah ketawadlu'an seorang hamba niscaya bertambah pula derajatnya. Inilah janji Allah yang disampaikan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sabda beliau:
"Dan tidak ada seorang pun dari kalian yang tawadlu' karena Allah, kecuali pasti Allah mengangkat derajatnya." (HR. Muslim)

Dari hadits ini dapat dipahami bahwa tawadlu' yang mulia yang mendapat kenaikan derajat dari Allah Ta'ala ialah tawadlu'nya seorang hamba untuk atau karena Allah. Hal ini perlu ditegaskan karena tawadlu' terbagi dua:

1. Tawadlu' yang terpuji, yaitu tawadlu' yang diperuntukkan kepada Allah dan tidak menyombongkan diri di hadapan hamba-hamba-Nya.
2. Tawadlu' yang tercela, yaitu tawadlu'nya seseorang kepada orang yang memiliki kesenangan dunia, agar juga mendapatkan dunianya.

Dan orang yang berakhlak dengan ketawadlu'an model kedua ini tidak akan diangkat Allah derajatnya, malah ia akan hina di hadapan manusia lainnya.

Sebagai akhir pembahasan, penulis nukilkan untuk pembaca hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang berbunyi:
"Tidak akan masuk syurga siapa saja yang di dalam hatinya ada seberat biji sawi dari kesombongan." (HR. Muslim dan lainnya).

Dikutip dari Majalah Salafy Edisi 34